Denpasar (Atnews) - Penggunaan Artificial Intelligence (AI) secara masif di era digital saat ini membawa tantangan nyata, mulai dari berkurangnya kemampuan berpikir kritis hingga potensi meluasnya penyebaran hoaks. Menyikapi fenomena tersebut, penguatan pemberdayaan literasi digital saat ini terus diupayakan melalui ruang dialog dan kolaborasi nyata.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui Dialog Kebijakan #2 Wikithon Partisipasi Publik Aguron-guron yang digelar oleh BASAibu Wiki—Bali di Ruang Sandat, Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik Provinsi Bali,Pada Rabu (15/7).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Dialog Kebijakan #1 yang diselenggarakan pada 10 Juni 2026 lalu. Pada dialog pertama, para pemuda bersama perwakilan pemerintah, akademisi, komunitas, dan pemangku kebijakan telah merumuskan draf risalah kebijakan (policy brief).
Program and Engagement Director BASAibu Wiki-Bali, Ni Putu Ayu Suaningsih, S.S., menegaskan bahwa suara pemuda sangat penting untuk diakomodasi guna mempengaruhi kebijakan pemerintah.
"Hingga saat ini belum ada peraturan khusus yang diturunkan oleh pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota terkait etika penggunaan AI bagi pelajar dan masyarakat umum dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Oleh karena itu, Ayu Suaningsih berharap melalui inisiatif pemuda pemenang Wikithon Aguron-guron ini, dapat dihasilkan kampanye kode etik penggunaan AI di tingkat sekolah maupun masyarakat umum yang didukung penuh oleh pemerintah.
Dialog Kebijakan #2 ini memang bertujuan menghimpun masukan dari berbagai pihak untuk menyempurnakan dan menyetujui draf risalah kebijakan terkait pemanfaatan AI demi pemajuan literasi digital di Bali.
Isu ini terbukti memantik semangat diskusi para peserta yang berasal dari berbagai instansi, mulai dari Disdikpora Provinsi Bali, Diskominfos Provinsi Bali, perwakilan Bappeda, berbagai perguruan tinggi, sekolah menengah atas, hingga komunitas relawan TIK dan media massa.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi empat kelompok diskusi yang bergulir dalam dua sesi. Sesi pertama berfokus pada pembahasan draf risalah kebijakan dan infografisnya, sedangkan sesi kedua mengulas mendalam terkait aksi implementasi, keberlanjutan program, hingga mekanisme monitoringnya.
Pada akhir diskusi, seluruh peserta menyepakati poin-poin draf risalah kebijakan dengan beberapa penyesuaian.
Dialog ini berhasil merumuskan kode etik penggunaan AI yang dapat mengisi celah kekosongan klausul hukum di tataran pemerintah daerah. Kode etik ini nantinya akan diajukan ke Disdikpora Provinsi Bali dan Diskominfos Provinsi Bali untuk mendapatkan arahan dalam proses penyebarluasannya.
Selain itu, disepakati pula program workshop prompting AI untuk memvisualisasikan kearifan lokal Bali yang dikemas kreatif dengan isu-isu publik terkini. Konten-konten edukatif tersebut nantinya akan diunggah secara berkelanjutan di akun Instagram @aibalipedia.
Juara 1 Kategori Umum Wikithon Aguron-guron, Bintang Dewi Lestari dari SMAN Bali Mandara, yang turut hadir dalam dialog tersebut mengungkapkan bahwa acara ini membuka peluang besar bagi ide gagasan pemuda untuk didengar dan disampaikan langsung kepada pemerintah.
"Workshop pelatihan penggunaan AI yang akan diuji cobakan di SMAN Bali Mandara menjadi langkah awal implementasi karya Wikithon saya," kata Bintang dengan antusias.
Apresiasi terhadap jalannya dialog juga datang dari pihak birokrasi. Perwakilan Diskominfos Kota Denpasar, Tjok Kristina, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, institusi, komunitas, dan pemuda. Menurutnya, etika di ruang digital merupakan hal yang sangat krusial saat ini.
"Kita harus merujuk pada Surat Edaran Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial. Merujuk pada surat edaran ini, implementasinya bisa diturunkan ke sekolah-sekolah sehingga literasi digital dan etika pemuda dapat diwujudkan dengan baik," jelas Tjok Kristina.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun sudah ada aturan, pemerintah tetap membutuhkan masukan dan saran untuk pelaksanaannya di masyarakat.
"Peran pemuda dan komunitas sangat penting. Pemuda harus terus dilibatkan dan dimasifkan peranannya, karena mereka adalah generasi penerus bangsa ke depannya," pungkasnya. (SUK/002)