Visioner Prof Bagus Mirip Gus Dur, Gagasan Baliologi Terbukti Mendunia, Prof Bakta Dorong Pusat Kajian Budaya Bali Unud Diteruskan
Banner Bawah

Visioner Prof Bagus Mirip Gus Dur, Gagasan Baliologi Terbukti Mendunia, Prof Bakta Dorong Pusat Kajian Budaya Bali Unud Diteruskan

Admin - atnews

2026-07-18
Bagikan :
Dokumentasi dari - Visioner Prof Bagus Mirip Gus Dur, Gagasan Baliologi Terbukti Mendunia, Prof Bakta Dorong Pusat Kajian Budaya Bali Unud Diteruskan
Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM (Artaya/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Rektor Universitas Bali Internasional (UNBI), Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM., menegaskan pentingnya menjaga sekaligus mengembangkan Kebudayaan Bali melalui kajian ilmiah yang berlandaskan konsep Baliologi. 

Menurutnya, gagasan yang dirintis Prof. I Gusti Ngurah Bagus telah menjadi pondasi penting dalam menjaga jati diri Bali ditengah perubahan zaman.

Pernyataan tersebut disampaikan
Rektor Universitas Bali Internasional (UNBI), Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM., yang juga mantan Rektor Universitas Udayana (Unud) di Denpasar, Jumat, 17 Juli 2026.

Prof. I Gusti Ngurah Bagus tidak hanya dikenang sebagai antropolog dan budayawan Bali, tetapi juga sebagai sosok yang meletakkan fondasi kajian kebudayaan Bali di tingkat internasional. 

Prof. Bagus dikenal sebagai "The Father of Balinese Studies", sebutan yang diberikan oleh sejarawan Universitas Leiden, Prof. Henk Schulte Nordholt.

Bahkan pemikiran visioner Prof. Bagus mirip Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur merupakan Presiden ke-4 Republik Indonesia. 

Gus Dur pejuang pluralisme yang gigih membela Hak Asasi Manusia (HAM), menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan melestarikan toleransi antargolongan di Indonesia. 

Untuk itu, Gus Dur memperoleh gelar "Guru Bangsa" karena dedikasinya yang konsisten dalam memberikan teladan tentang keberagaman, demokrasi, dan inklusivitas. 

Mengingat aharan Gus Dur juga dikenal bapak pluralisme, ajarannya menjadikan Indonesia sebagai rumah yang aman bagi semua penganut agama dan keyakinan. 

"Begitu juga Prof. Bagus memiliki pemikiran 2-3 langkah depan kita. Sehingga saat awal pembicaraan tidak paham, setelah beberapa waktu kemudian baru memahami sedikit-sedikit demi seidikit," kata Prof. Bakta.

Prof Bakta menilai Prof. I Gusti Ngurah Bagus merupakan sosok pelopor yang berhasil meletakkan dasar pengembangan Pusat Kajian Budaya Bali di Universitas Udayana.

Prof. Bakta mengungkapkan, ketika masih menjadi mahasiswa, pemikiran Prof. Bagus kerap sulit dipahami karena dinilai jauh melampaui zamannya.

 Namun, seiring perjalanan waktu, Prof Bakta menyadari bahwa konsep yang dibangun tersebut menjadi pijakan penting bagi pengembangan kajian budaya Bali.

"Bagi saya sebagai seorang Keluarga Besar Universitas Udayana (Unud) bahwa Pusat Kajian Budaya Bali sebagai intinya Udayana," kata Prof Bakta.

Menurutnya, Universitas Udayana perlu terus memperkuat Kajian Budaya Bali agar mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Kajian tersebut dinilai menjadi ruang untuk menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi roh kebudayaan Bali.

Prof Bakta menekankan bahwa pelestarian budaya tidak berarti mempertahankan sesuatu secara statis. Kebudayaan harus mampu berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa kehilangan nilai-nilai utama yang menjadi identitas Bali.

Prof. Bakta juga mengingatkan bahwa tantangan modern seperti materialisme dan individualisme dapat menggerus nilai budaya apabila tidak diimbangi dengan penguatan karakter berbasis kearifan lokal.

"Banyak sekali tarikan-tarikan kearah materialisme dan sebagainya serta individualisme yang makin mendalam terkadang menyebabkan hal-hal yang negatif," kata Prof Bakta.

Selain itu, Prof Bakta berharap para akademisi dan peneliti yang mendalami kebudayaan Bali dapat melanjutkan perjuangan yang telah dirintis Prof. I Gusti Ngurah Bagus agar warisan intelektual tersebut terus berkembang.

Prof. Bakta juga menyoroti kiprah Prof. Bagus dalam membangun jejaring internasional dengan para peneliti budaya Bali dari berbagai negara.

Menurutnya, karya-karya ilmiah yang ditinggalkan menjadi referensi penting dalam pengembangan studi Bali di tingkat global.

"Buku-buku yang Beliau karang dan sebagainya itu mari kita kembangkan lagi. Saya kira Pusat Kajian Budaya Bali di Unud harus terus dipertahankan," kata Prof Bakta.

Prof Bakta turut mengapresiasi capaian Majalah Kajian Bali yang kini telah meraih peringkat Scopus Q1. Baginya, prestasi tersebut membuktikan bahwa gagasan Prof. Bagus mengenai pengembangan pusat kajian budaya Bali telah diakui secara internasional.

Jurnal Kajian Bali terdaftar pada Scopus Accepted Title December 2023. Prestasi Jurnal Kajian Bali atau Journal of Bali Studies diterbitkan oleh Pusat Penelitian Kebudayaan diraih tidak lepas dari atas dedikasi yang diketuai Prof. I Nyoman Darma Putra dan Pusat Unggulan Pariwisata Unud yang diketuai oleh Prof. Dr. AAPA Suryawan Wiranatha, M.SC., Ph.D.

Prof. Bakta juga memberikan penghargaan kepada Prof. Darma Putra yang dinilai berhasil meneruskan pengembangan Pusat Kajian Budaya Bali serta menjaga kualitas publikasi ilmiah hingga mampu bersaing di tingkat dunia.

"Saya salut kok hebat sekali, itu Majalah Kedokteran kita yang biayanya tinggi itu Q4 paling banyak, Kedokteran punya 2 Q4. Kok Sastra bisa Q1, karena editornya semua murid-muridnya Prof Bagus," tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Bakta menegaskan bahwa Kebudayaan Bali harus mampu bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan global. Namun, proses perubahan tersebut tidak boleh menghilangkan nilai dasar yang menjadi identitas masyarakat Bali.

Menurutnya, agama Hindu dan kearifan lokal merupakan inti dari roh Kebudayaan Bali yang harus tetap dijaga sebagai landasan menghadapi tantangan masa depan.

"Itu intinya kita pegang sehingga itu bisa memberikan kepada kita. boleh berubah tapi perubahan itu harus tidak boleh tercerabut dari akar-akar kita," pungkasnya. (GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : PLN Bali Ngaku Rugi Rp2 Miliar

Terpopuler

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

Presiden Prabowo Luncurkan Biodiesel B50, Indonesia Pangkas 44 Juta Ton Emisi CO₂ dan Jadi Sorotan Dunia

Presiden Prabowo Luncurkan Biodiesel B50, Indonesia Pangkas 44 Juta Ton Emisi CO₂ dan Jadi Sorotan Dunia

Rawan Perlintasan Ilegal, Sinergi Imigrasi dan ITB Inisiasi 'Pagar Digital'Patroli Drone untuk Pengawasan Perbatasan

Rawan Perlintasan Ilegal, Sinergi Imigrasi dan ITB Inisiasi 'Pagar Digital'Patroli Drone untuk Pengawasan Perbatasan

Indonesia Emas 2045: Wapres Gibran Dorong Peningkatkan Kapasitas Generasi Muda Hindu di GHBC 2026

Indonesia Emas 2045: Wapres Gibran Dorong Peningkatkan Kapasitas Generasi Muda Hindu di GHBC 2026