Trobosan Kebijakan dalam Mengatasi 'Sirkuit Kemelut' Kemacetan di Badung
Trobosan Kebijakan dalam Mengatasi 'Sirkuit Kemelut' Kemacetan di Badung
Admin -
atnews
2026-07-20
Bagikan :
Macet di Badung (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Ekonom Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Kebijakan Publik menyoroti karut marut kemacetan Bali, khususnya Badung.
Menurutnya, uang, bukanlah panasea (obat ces pleng) untuk mengatasi kemelut kemacetan di Badung.
"Istilah para ekonom, its necessary but unsufficeint, diperlukan tetapi tidak cukup dalam menyelesaikan 'sirkut kemelut' persoalan," kata Sudibya di Denpasar, Senin (10/7).
Diperlukan pendekatan lebih holistik visioner untuk mengatasi kemacetan tersebut. Dengan pembenahan sistem transportasi publik. Di kota-kota modern, sistem transportasi publik yang layak gambaran dari kualitas peradaban dari penduduknya.
Rekayasa lalu lintas yang lebih akurat, melalui permodelan arus lalu lintas sejalan dengan perkembangan teknologi.
Memperbanyak perapatan dengan permodelan sistem lalu lintas yang lebih canggih.
Menghitung rute ratio. ruas jalan dengan luas kawasan, untuk menentukan sistem transportasi masa depan.
Tantangan dan persoalannya, apakah Dewan Kota, Bupati dan seluruh anggota DPRD Badung punya visi ini, bersedia menjalankan visi ini, Peta Jalan Sistem Transportasi Jangka Panjang tidak sebatas "siklus" 5 tahun perhelatan politik.
Sementara itu, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Tingkat Menteri terkait Pengembangan Wilayah Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Senin (20/7).
Pertemuan ini fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur, pariwisata, dan tata lingkungan di Pulau Dewata. Acara dihadiri jajaran Menteri, Wakil Menteri, dan pejabat Kabinet Merah Putih, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gubernur Bali Wayan Koster, Sekda Bali Dewa Made Indra, serta Bupati/Walikota se-Bali. Dalam arahannya, Menko Infrastruktur Agus Harimurti menekankan pentingnya keseimbangan antara peningkatan pariwisata dan pelestarian alam agar tidak tereksploitasi. Destinasi pariwisata harus merata agar tidak membebani daya dukung satu kawasan saja. Menteri AHY juga menyoroti masalah konektivitas dan kemacetan yang kerap viral, terutama saat musim liburan di wilayah Bali Selatan. “Tentu bicara konektivitas ini meliputi banyak hal seperti kemacetan, yang sering juga akhirnya menjadi isu viral. Dan kita tidak boleh menunggu viral baru melakukan aksi. Kita harus menyiapkan berbagai alternatif solusi terkait koridor konektivitas yang reguler, terutama di wilayah Selatan. Karena sering sekali kemacetan terjadi, terutama pada saat high season, masa Nataru, dan libur sekolah. Kemudian antar kabupaten, kota, antar wilayah juga belum optimal benar. Ini harus kita perkuat. Kita pastikan infrastruktur yang memiliki daya tahan dan juga berkelanjutan bisa membuka peluang ekonomi baru dan sekaligus memastikan tidak ada yang dikorbankan,” ujarnya Sementara Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyambut baik rakor ini sebagai momentum memperkuat sinergi pusat dan daerah demi pembangunan berkelanjutan. Adi Arnawa menegaskan Badung sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur baru agar tidak ditinggalkan wisatawan. Salah satu inovasi yang disiapkan adalah opsi water taxi untuk mengurai kemacetan di kawasan Canggu. “Ada beberapa titik lokasi yang memang ternyata ini yang menjadi akses kemacetan selama ini di Bali, contoh akses kita menuju Canggu, malahan kami dengan water taxi yang disampaikan tadi Pak Ditjen tadi, salah satu alternatif transportasi untuk mengatasi ketika kemacetan di Canggu, saya kira ini memang menjadi satu hal yang urgent sekali, sehingga itu akan menjadi satu trust buat kita, pariwisata kita,” ujar Adi Arnawa. Selain urusan macet, Bupati mengapresiasi Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU atas pemasangan penahan gelombang (breakwater) di Pantai Kuta. Ia mengusulkan agar proyek tersebut dilanjutkan hingga ke Canggu. Badung juga berharap dukungan anggaran pusat untuk pembangunan jalan baru yang menyambung dari Jalan Gatot Subroto Barat menuju Canggu. “Karena kelihatannya kalau itu tidak kita lakukan, ini akan menambah macet. Nah, kami berharap untuk upaya ini, kalau bisa, pemerintah pusat ikut membantu. Karena bagaimanapun juga, ini salah satu menjadi biang kemacetan kami di Badung. Dan jujur, masalah kemacetan di Bali ini kan ada di Badung dan di Denpasar,” jelasnya. (GAB/001)