Oleh Jro Gde Sudibya
Rabu, 29 Juli 2026 raina Purnama Karo. Di tengah krisis kebudayaan yang menimpa Bali, yang terutama dipicu oleh krisis kepemimpinan, jejak keteladan kepemimpinan Cri Aji Jayapangus yang spiritnya masih bisa dirasakan pada kepemimpinan akar rumput di Bali terutama di wilayah pegunungan, pantas disimak sebagai bahan pegunungan, "sepuluh kayun" untuk memperbaiki diri.
Dari "deru campur debunya" kekotoran kehidupan, ketidak-jujuran, kemunafikan, tipu muslihat keserakahan.
Sebut saja Bhisama Cri Aji Jayapangus pada rakyatnya, dalam narasi yang disederhanakan, "berkamalah dengan basis kejujuran dengan tidak terikat pada hasilnya".
Bhisama pendek dari Raja besar ini, jika ditafsirkan dalam bahasa dan konteks ke kinian, pertama, teruslah berkarya dengan prestasi nyata kehidupan, produktivitas, efektivitas, efisiensi dalam budaya dan ethos kerja yang menghargai prestasi. Motivasi kerja untuk berprestasi, "acheivement motivation", tidak sekadar motif untuk berkuasa "power motivation".
Kedua, berkarya baca produktivitas dalam perspektif pengabdian, pelayanan, berbasis integritas diri, diri utuh yang "integer", Jiwa, Pikiran dan Badan, "Soul, Mind and Body", kerja, prestasi merupakan pacaran dari kekuatan Jiwa, berkontribusi nyata buat masyarakat, keadilan dan kemanusiaan.
Ketiga, kerja penuh pengabdian, tidak terikat pada hasilnya, karena keterikatan akan mudah menjebak manusia pada dua sisi ekstrem, kesombongan kalau berhasil, putus asa kalau gagal.
Keteladanan kepemimpinan di atas menjadi semakin relevan dalam fenomena sosial kontemporer sebut saja kasus "Baturiti" yang menghebohkan, merupakan ekspresi dari kepemimpinan yang gagal dalam menanggulangi: kemiskinan, perjudian dan permabukan.
Sebuah masyarakat yang rentan, dalam masyarakat yang nyaris tanpa pemimpin, leaderless society, auto pilot, dan masyarakat nyaris "misa-misaang iban" sekadar bisa bertahan hidup. Masyarakat yang paradoksal, elite "pesta pora" korupsi tanpa tersentuh hukum, masyarakat bawah, tamsilnya "hidup segan mati tak mau".
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.