Denpasar, ( Atnews ) - Tak pernah terpikir olehnya. Beberapa tahun silam ia hanyalah mekuli, menjadi buruh, membantu-bantu orang
berjualan berbagai macam barang dagangan untuk keperluan ritual upacara.keagamaan. Jadi hanyalah membantu seseorang yang masih keluarga dekatnya berjualan di Pasar Batu Kandik Denpasar Utara.
Ia adalah Ibu Adi asal Antiga Kabupaten Karangasem Bali mengadu nasib ke Kota Denpasar. Bersama almarhum suaminya I Wayan Subagia Yasa mereka berinisiatif mulai dari bawah membuka usaha yang sama, menjual sarana upakara atau di Bali dikenal dengan nama Banten.
Dengan modal pinjaman yang tidak seberapa, suami istri ini yakin usahanya akan berkembang, mengingat masyarakat Umat Hindu di Bali setiap saat membutuhkan sarana upakara. Belum lagi pada Hari Raya tertentu kebutuhan sarana upakara yang disebut "jejahitan" sangat besar seperti halnya menjelang Hari Raya Galungan seperti sekarang ini. Sebagaimana disaksikan Atnews hari ini ( Senin, 17-02-2020 l ia yang dibantu dua orang lelaki muda sangat sibuk melayani para pembeli di tokonya seputar jalan Kebo Iwa di lingkungan Banjar Liligundi Denpasar Utara. Hanya sekitar satu jam saja AtNews sengaja mengamati keluar-masuk para pembeli, sudah ratusan ribu rupiah duit yang dapat. dikantonginya. Memang untungnya tidak seberapa. Salah seorang pembeli A.A. Sagung Istri Nilawati yang mengaku sudah berlangganan mengatakan, rata-rata harga aneka barang Ibu Adi kebih murah dibandingkan dengan para pedagang lain. Seperti misalnya harga janur ibung yang didatangkan dari Sulawesi di kios-kios yang ada di Pasar Batu Kandik rata- rata mencapai: 370 000 rupiah per ikat. Sedangkan di toko Ibu Adi hanya 310 000 rupiah per ikat.
Ia tidak memungkiri satu dua barang yang dijual Ibu Adi dari puluhan jenis aneka barang yang dijual di tokonya yang khusus menjual sarana untuk upakara Yadnya, memang ada yang lebih mahal tapi masih dalam batas wajar, ungkap Sagung Istri Nilawati.
Dari kerja keras bersama almarhum swaminya yang berasal dari Kabupaten Tabanan, sedikit demi sedikit usahanya mengalami kemajuan sampai bisa seperti sekarang ini.
Aneka barang dagangan keperluan untuk upakara yang dijual seperti: sokasi untuk tempat sesajen, lamak, sampian, tamas, wakul tatakan daksina, dulang ukir biasa, dulang susun ukir yang sudah diprada dan lainnya termasuk yang masih berupa bahan jejahitan janur dari Sulawesi di Bali dikenal dengan sebutan ibung yang tentunya didatangkan dari luar Bali.
Demikian pula barang dagangan berupa tedung ( sejenis payung ), busana untuk menghias pelinggih atau tempat suci juga nampak ada dipajang di tokonya yang cukup megah itu.
Menurutnya, harga jejahitan bahan janur ibung tidak ada lonjakan harga rata-rata sama. Seperti harga Tamiang 30 000 rupiah per kodi, isi 20 biji Sokasi deko antara: 30 sampai 60 ribu rupiah per biji. Harga Dulang Susun mulai 150 000 sampai 300 000 rupiah per biji.
Harga lamak antara: 20 000 sampai 50 000 rupiah per biji. Tamas per ikat: antara 30 sampai 40 ribu rupiah. Khusus wakul tatakan daksina yang bahannya campuran ada yang berupa aluminium, besi kawat dan lontar satu set lengkap menjelang Hari Raya Galungan mencapai 140 000 rupiah. Sedangkan hari-hari biasa hanya 130 rupiah per setnya kata ibu Adi.
Pastinya ia bersyukur dari hasil usahanya ini ia bersama dua anaknya bisa hidup layak. Asset dagangannya kini diperkirakan mencapai Seratusan juta rupiah. Sementara terkait Hari Raya Galungan ini, berdasarkan pengamatan Atnews, bahan upakara atau jejahitan yang dibuat dari janur harganya sangat melambung. Harga ceper per ikat mencapai 25 000 ribu rupiah. Sedangkan hari biasa hanya sekitar 15 000 rupiah per ikatnya. Sementara harga janur yang didatangkan dari luar Bali per ikat sekarang,mencapai 40 000 rupiah per ikat. Hari biasa harganya hanya sekitar: 25 000 rupiah.. Kalau janur Bali per ikat bahkan mencapai 60 000 rupiah. Konon kelebihannya selai lebih lebar dan panjang, juga lebih awet.(IBM/02)