Bertepatan dengan Umanis Galungan ( 20/2 ) obyek wisata Tirta Gangga dibanjiri turis baik asing maupun wisatawan Nusantara dan lokal Bali.
I Gede Arya salah seorang petugas bagian umum ditemui di tempat loket mengatakan, kalau hari biasa wisatawan yang bertandang ke obyek wisata ini rata-rata kurang dari seratus orang untuk wisatawan Nusantara; wisatawan asing hari biasa rata-rata 300 orang.
Sedangkan hari-hari raya seperti sekarang ini turis asing yang berkunjung mencapai 500 an orang; sementara wisatawan Nusantara termasuk lokal mengalami lonjakan tajam mencapai 1.300 orang. Wisatawan asing dengan harga tiket Rp40 ribu per orang, sedangkan wisatawan Nusantara termasuk lokal hanya Rp25 ribu per orang.
Kalau ingin mandi di kolam satu harga tiket lain lagi Rp20 ribu per orang, di kolam dua hanya Rp10 ribu per orang. Kalau pengunjung ingin naik jukung keliling kolam besar yang ada di obyek wisata ini harus mengeluarkan kocek lagi per orang Rp 20 ribu sekali putaran, ungkapnya.
Obyek Wisata Taman Tirta Gangga yang dibangun mulai tahun 1940 an oleh Raja Karangasem yang berkuasa saat itu, Anak Agung Ketut Karangasem awalnya hanya diperuntukkan bagi putra-putri raja beserta istri dan keluarga lain untuk beranjangsana atau "melila-cita". Namun seiring berjalannya waktu obyek wisata ini dibuka untuk umum.
Dalam proses penyelesaian taman Tirta Gangga ini menurut I Gede Arya dilaksakan cukup lama sampai delapan tahun dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat setempat.
Arya yang kini berusia 48 tahun sudah bekerja di tempat ini mulai pada usia 18 tahun atau sejak 30 tahun lalu.
Di Taman Tirta Gangga ini bukan hanya sebagai tempat beranjangsana belaka, tetapi juga ada tempat untuk pembersihan diri secara ritual atau tempat "melukat" khusus namanya penglukatan "jaga satru" hanya saja lokasinya di luar obyek wisata sekitar 500 meter melalui jalan setapak.
Sedangkan di kawasan obyek wisata Taman Wisata Tirta Gangga sendiri juga ada tempat suci "pura" namanya Pura Pesucian Tirta Gangga. Menurut Nyoman Suarjana asal Banjar Pikat Desa Ababi, pura yang satu lagi Pura Pancuran Tujuh yang diyakini sebagai permandian Bidadari di jaman kerajaan tempo dulu, tegas Suarjana.
Beberapa wisatawan yang sempat diminta komentarnya mengatakan semua obyek yang ada menarik baginya. Seperti diungkapkan Tonik asal Seraya Karangasem yang mengaku baru pertama bertandang ke tempat ini, beberapa obyek yang menarik perhatiannya seperti: keasrian tetamanan, ikan- ikan yang memenuhi kolam serta pemandangan bukit yang menghijau menyejukkan mata. ( IBM /atm).