Denpasar, ( Atnews ) - Kita punya budaya yang demikian indah, Aksara Bali yang selama ini orientasinya hanya untuk tulis menulis. Orientasi untuk keindahan dan memberi makna filosofis baru diusahakan melalui lomba seperti ini. Demikian disampaikan oleh I Wayan Gulendra selaku Ketua Juri dalam lomba Bali Grafi serangkaian Bulan Bahasa Bali 2020 ( 21-02) di Taman Budaya Denpasar.
Kata Dosen Fakultas Seni Rupa ISI Denpasar ini, di tahun 1980-an hal ini pernah dicetuskan oleh almarhum Maestro Pelukis Bali, I Nyoman Gunarsa. Ketika itu menurut Gulendra, Sang Maestro mengatakan "kita punya aksara Bali yang demikian indah, kenapa tidak ada yang mengangkat menjadi sesuatu karya indah".
Ketika itu kurang menjadi perhatian karena sedang mengangkat tema "Rerajahan Bali" untuk kepentingan. Ketika itu banyak masukan. Dalam merealisasikannya memang sulit. Disamping memahami aksara juga harus paham makna apa yang terkandung dalam aksara tersebut, ungkapnya.
Sejatinya untuk dijadikan aksara yang indah tidak susah alias mudah bagi mereka yang mempunyai talenta seni. Karenanya dicoba bagi mereka yang memiliki talenta seni lewat aksara diolah menjadi sesuatu yang indah dan bermakna Dalam Rangka Pembangunan Budaya Bali pada momentum Bulan Bahasa Bali ini.
Dikatakan, jangan sampai kita punya budaya yang hebat terlupakan. Terlebih Aksara Bali merupakan sumber ilmu dan Budaya Bali. Kita arahkan agar generasi muda Bali betul-betul memahami bahwa aksara Bali adalah sumber ilmu pengetahuan dan Budaya Bali. Dengan upaya memperindah Aksara Bali menjadi sesuatu karya seni diharapkan kalangan geberadi muda akan lebih terpikat Terlebih lagi ada kandungan filosofis yang tidak ternilai, pungkasnya.
Kadek Ary Anjasmara asal Gianyar salah seorang penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di K abupaten Jembrana sangat mendukung lomba Bali Grafi ini
Karena melalui lomba ini kalangan muda akan lebih tertarik untuk belajar Aksara Bali yang nantinya akan membias pada sastra dan Bahasa Bali xc tegasnya. Para juri masing-masing : I Wayan Gulendra, Putu Eja Sura Adnyana serta I Nyoman Wahyu Angga Budi Santosa menetapkan : Ida Ayu putu Wulan Damayanti dari Kabupaten Badung sebagai juara pertama disusul Ketut Teguh Mahardika duta Kabupaten Buleleng dan Ida Bagus Mas Putra Raditya duta Jabupaten Gianyar masing-masing sebagai juara kedua dan ketiga.
Peserta yang mestinya 9 orang, utusan dari 9 Kabupaten Kota kata Kasi Inventarisasi dan Pemeliharaan Dokumentasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Mahesa Yuma Putra, S.S. M.Si mengatakan dua
Kabupaten yang tidak mengirim dutanya yakni Kabupaten Klungkung dan Tabanan.(ibm/02)