Banner Bawah

Salak Gulapasir dan Nangka, Unggulan Bali Yang Punya Prospek Sangat Baik Untuk Ekpor

Atmadja - atnews

2020-03-10
Bagikan :
Dokumentasi dari - Salak Gulapasir dan Nangka, Unggulan Bali Yang Punya Prospek Sangat Baik Untuk Ekpor
Slider 1

Guru Besar Fakultas Pertanian Unud, Profesor Doktor, Nyoman Suparta merekomendasikan dua jenis salak unggulan Bali yang cocok dan pantas dijadikan produk ekspor masing-masing: Salak jenis Gulapasir dan Salak Nangka. 
Bali punya beberapa jenis salak  yang sudah dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani di Kabupaten Karangasem. Perkebunan salak yang terkonsentrasi di Desa Sibetan itu, kata Prof. Suparta pengelolaannya masih campur baur.  Kebun Salak milik masyarakat setempat masih belum tertata baik. Dalam satu areal kebun  ada beberapa jenis salak yang ditanam. Itu-pun tidak melihat jenis salak apa yang mestinya ditanam yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Jadi mereka masih memiliki pola pikir  yang penting menanam dan menghasilkan salak.
Atnews sempat melihat-lihat perkebunan salak di seputar Kabupaten ujung Timur Bali itu. Hanya saja bukan di lokasi sentral-nya salak Karangasem di Sibetan. Kebun salak yang sempat dilihat miliknya   Guru Mangku Seroja. Seorang Pemangku di Pura Taman Sari setempat. Tepatnya di Desa Padang Tunggal Kauh Selat Duda Karangasem. 
Menurut penuturan Jero Mangku Seroja, bibit jenis salak Nangka apalagi jenis salak gulapasir susah dicari alias langka. Di kebunnya seluas sekitar 5 are itu tanamannya serabutan. Rasa buah salak hasil kebunnya memang  agak sepet. Suami dari Ni Made Muspa ( almarhumah ) dengan 5 anak perempuan dan Ni Ketut Sari dengan 3 anak satu cowok itu, berkebun salak hanya sebagai pekerjaan sambilan. Pekerjaan pokoknya adalah bertani di sawah atau mengolah tanah persawahan  yang lokasinya tidak  jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan kebun salaknya berada di belakang rumah tempat tinggalnya. 
Jadi apa yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Pertanian Unud, Prof. Nyoman Suparta itu pada prinsipnya benar adanya. Kebun salak petani di daerah itu tanamannya masih serabutan yang perlu lebih mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Karangasem. Jero Mangku yang mengaku saat jaman penjajahan Jepang sudah menginjak remaja atau perkiraan usianya kini sudah 90-an tahun itu tidak bisa mengandalkan dari hasil kebun salak. Fisiknya yang  nampak cukup kekar masih biasa dalam mengolah bangket atau sawahnya.
Apa yang diungkapkan oleh Ketua HKTI. Bali, Prof. Suparta, Pemkab Karangasem memang perlu melakukan intervensi untuk menata perkebunan salak masyarakatnya secara bertahap agar nantinya punya pola pikir untuk mengolah kebun salaknya dengan baik.  Jadi para petani kebun salak diharapkan kedepan dalam mengolah kebun salak berorientasi bisnis atau untuk kepentingan ekonomis; tidak hanya sekedar jalan, ungkap Prof. Suparta. 
Ini hanya soal komitmen semata. Kalau memang sudah berkomitmen produksi Salak Gulapasir dan Salak Nangka dijadikan produk ekspor, tanaman yang masih serabutan di masyarakat harus ditata sehingga gampang diidentifikasi. Dengan penataan itu tentu juga akan terseleksi, jenis salak yang bagus yang bernilai eksport  dibiarkan tumbuh Jadi prospeknya memang bagus. Hanya saja belum terkualifikasa dan juga belum terkuantifikasi. Dimana adanya, berapa adanya perlu pendataan sehingga bisa berkesinambungan. Jadi Pemkab Karangasem sangat perlu melakukan intervensi, ujarnya. 
Kalau bicara soal produk dan rasa yang dihasilkan, selain dipengaruhi oleh unsur hara tanah juga tingkat kelembaban tanah. Tananan ini tidak bisa dibudidayakan di sembarangan tempat atau lokasi. Memang bisa saja tumbuh tapi belum tentu bisa menghasilkan dengan baik seperti yang diharapkan, kata Prof. Suparta.  
Dua jenis salak yang direkomendasikan yaitu Salak Gulapasir dan Salak Nangka, karena rasanya khas enak lezat . Hanya saja salak ini cepat kering atau busuk. Untuk itu teknologi pasca panen perlu diperbaiki sehingga buah salak bisa berumur panjang atau bertahan lama sampai beberapa mingguan, tegas Guru Besar Fakultas Pertanian Unud itu. ( IBM/02) .

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ketum Dharma Pertiwi Kunjungi Museum Mahatma Gandhi di India

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali