Bangli, (Atnews) ---Potensi seni budaya yang dimiliki Kabupaten Bangli sangat luar biasa kalau itu bisa kelola akan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan.Akan tetapi dalam kaitannya dengan pariwisata ,yang bisa dinikmati dan diminati wisatawan baru sebagian kecil saja.Masih banyak nyaris tak dikenal meski sangat unik. Supaya seluruh potensi tersebut dapat dinikmati wisatawan,Pemkab Bangli sebaiknya membuat kalender destinasi. Sementara untuk tradisi yang ada dimasing-masing daerah destinasi nyaris belum dikenal, pada hal sangat berpotensi mendukung sektor kepariwisataan Bangli . Kondisi seperti ini harus mendapat perhatian serius dari Pemkab khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.Potensi yang ada dimasing-masing daerah belum digarap secara maksimal,seperti upacara Ngusaba Bantal merupakan salah satu tradisi yang masih dijalankan oleh masyaraakat Desa Adat Penglipuran sudah ada sejak 700-an tahun yang lalu, yaitu pada zaman kerajaan Bangli. Berdasarkan keterangan para sesepuh/ penglingsir, Desa Penglipuran merupakan sepihan dari Desa Bayung Gede,Kecamatan Kintamani.Selain itu juga Desa ini memiliki berbagai event budaya seperti Ngusaba Ngakan, Ngusaba Paruman serta Ngusaba yang berlangsung menjelang Hari Raya Nyepi yaitu Ngusaba Bantal. Ngusaba bantal menjelang hari raya Nyepi dan sasih kesanga, bantal yang dimaksud adalah jajan Bali dan buah-buahan. Sarana yang digunakan berasal dari daun pohon jaka atau enau (ron) tidak menggunakan daun pohon kelapa (busung).Tahun2020 ini acara Ngusaba Bantal dilaksanakan Rabu (18//03) yang mana prosesi persiapannya sudah berlangsung sejak enam hari lalu dengan ngaturang piuning ke Pura Ratu Sakti Mas Ayu Manik Melasem memohon agar pelaksanaan Ngisaba Bantal ini berjalan lancar, demikian disampaikan Bendesa Adat Pakraman Penglipuran I Wayan Supat saat ditemui disela-sela acara.
Upacara Ngusaba Bantal, yang bertempat di Pura Ratu Sakti Mas Ayu Manik Melasem dilaksanakan setiap satu tahun sekali tepatnya pada sasih kesanga, yaitu sebelum hari raya nyepi. Di mana lima hari sebelum puncak upacára, warga memberitahukan kepada warga yang lain (mepengarah) dengan ucapan “mepenge baas ketan”, yang artinya mempersiapkan beras ketan. Pada upacara ngusaba mi hanya menggunakan sarana jajan bantal serta buah-buahan.
Disebut Ngusaba Bantal karena banten yang dipersembahkan sebagian besar terbuat dari jajan banten, yaitu sejenis penganan yang terbuat dari ketan, gula merah, garam, kelapa dan berbentuk seperti bantal canangnyapun menggunakan daun enau.
Banten atau sarana persembahan yang digunakan dalam upacara ini adalah Banten yang berisikan sarana utama Jaja Bantal berwarna merah dan putih masing-masing banten beriisi 11 buah dan buah-buahan kenapa 11 buah 9 arah mata angin ditambah arah atas dan bawah . Jaja Bantal ini merupakan sarana upacara yang berbahan dasar ketan dan dibungkus dengan daun aren yang sudah tua serta nasi yang dibuat dari beras merah. Kemudian sarana lain diisi dengan buah-buahan dan jajanan lain yang tidak digoreng, karena dalam upacara ini tidak diperbolehkan menggunakan sarana atau jajan yang digoreng.Dalam pembuatannya tidak boleh dicicipi, jika dicicipi itu berarti tidak sukla lagi"ungkapnya.
Pelaksanaan upacara ini berlangsung dari jam 06.00 hingga 11.00 saat metabuh(Menuangkan minumantuak ) dilakukan oleh oleh para istri pengarep sebanyak 76 orang.Setiap KK membuat 3 macam banten seperti Banten Tegteg, Banten Daran dan Banten Dijeroan. Sesajen disini merupakan tradisi budaya Hindu yang dilestarikan dalam setiap upacara atau ritual adat, untuk mengucapkan, mengingat, dan memberikan rasa syukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah”jelasnya.
Sementara hal serupa juga dilaksanakan pada Sasih Ketiga Ngusaba Bantal di Pura Prajapati disini yang dominan dilakukan oleh para lelaki tidak seperti halnya di Pura Ratu Sakti Mas Ayu Manik Melasem sebagin besar para istri/wanita , sedangkan waktu pelaksanaannya pukul 24.00 wita.Setelah banten di letakkan secara berjejer di depan setra/ kuburan yang berlokasi di samping pura Dalem (Prajapati). Kemudian akan dilanjutkan dengan tradisi Metabuh yang dilakukan oleh laki-laki pengarep berjumlah 76 orang . Kegiatan metabuh ini dilakukan menggunakan sebatang bambu yang dibolongi beberapa ruas dengan perhitungan janjil mulai dari 3,5,7 ruas dibagian atasnya kemudian diisi dengan tuak atau air gula merah, kemudian akan di tuangkan secara .Upacara Ngusaba Bantal ini sangat syarat akan makna, namun nilai yang paling penting adalah nilai kebersamaan, karena semua masyarakat akan berkumpul dan berbaur dalam suka cita untuk merayakan upacara ini. Upacara ini sudah dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Adat Penglipuran, diharapkan nantinya tradisi atau upacara Ngusaba Bantal masih tetap terjaga dan lestari serta dapat diketahui oleh masyarakat luas”ujarnya.(Anggi)