Denpasar (Atnews) - Perhimpunan Indonesia Indonesia Tionghoa (INTI) Bali dan IKBS bersama Yayasan Bhakti Pertiwi Jati (YBPJ) melakukan penanam pohon jenis langka yakni pala di Kawasan Pura Campuhan Windhu Segara dan Taman Bali Festival di Padang Galak Sanur, Denpasar, Rabu (28/10).
Kegiatan itu dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-92 dan mengenang budi baik Pendiri INTI Bali dan IKBS Alm. Dr.Ir Frans Bambang Siswanto,M.M dengan menanam tujuh pohon pala.
Sebelumnya INTI Bali dan IKBS bersama Ida Sulinggih, Puri Kedaton dan Yayasan BPJ telah melakukan penanam awal pada tumpek wariga 22 Agustus 2020.
Hal itu sebagai upaya dalam melestarikan lingkungan kawasan padang galak yang nantinya sebagai hutan kota, tempat budaya, pendidikan dan spiritual
Demikian disampaikan Ketua INTI Bali Sudiarta Indrajaya usai melakukan penanaman tujuh pohon pala sebagai simbol yang sakral.
Penanaman dilaksanakan oleh
Ketua Dewan Pakar INTI Bali yang juga Pendiri IKBS Prof Sulistyawati, Putu Agung Prianta, Pandita Liemanuel Kartika ( Romo Kayan ), Romo Made Suartana, Aswin Pangestu, AAS Mas Darmavatni dan Sri Rastini bersama 30 Instruktur senam AW S3 IKBS dan Pimpinan INTI Bali.
Tanaman pala merupakan jenis tanaman aromatik yang berasal dari genus Myristica.
Secara umum dikenal 6 jenis pala, yaitu Myristica Fragrans Houtt, Myristica Argentea Ware, Myristica Fattua Houtt, Mrystica Specioga Ware, Myristica Sucedona BL, Myristica Malabarica Lam.
Tanaman pala mempunyai nama latin Mystica Fragrans.
Di kawasan yang sangat dikenal masyarakat Bali ini juga terdapat monumen Tragedi Pan Am American Airways yang memiliki sejarah tragedi jatuhnya pesawat Pan America Airways di Buleleng.
Untuk itu, pihaknya pada kesempatan itu memancarkan doa kepada para dewa dan segenap mahluk juga arwah dari 107 korban tragedi pada 22 April 1974. Doa dipimpin Romo Kayan.
Selain korbannya dua warga Bali, korban tragedi Pan Am American berasal dari Australia, Perancis, Kananda, Jerman, China, India, Jepang, Filipina, Swedia, dan Amerika Serikat.
Pada pagi harinya, INTI Bali dan IKBS bersama Komunitas Eco Enzym Nusantara dan Yayasan AMI melepas 3.000 Benih Lele dan menuangkan 350 liter Eco Enzym di Tukad Badung.
Hal itu sebagai simbol melepas hal - hal negatif dalam diri, kebencian, keserakahan, keangkuhan serta untuk memperoleh ketenangan, ketentraman, kedamaian dan kebebasan jiwa.
Selain menjaga kesehatan jiwa, pihaknya pun melengkapi kesehatan raga (fisik) dengan Senam AW S3.
Senam berlangsung penuh semangat dan keceriaan di kawasan Taman Bali Festival yang indah dan rindang, dekat sungai dan pantai Padang Galak.
Sementara itu, Pelindung YBPJ I Gusti Ngurah Bagus Muditha mengharapkan acara tetap berlanjut sehingga pohon pala benar - benar hidup dengan natural.
"Kita bukan politisi, tetapi kesungguhan cinta akan alam tidak hanya berhenti sebatas memanam, namun yang paling penting memelihara agar hidup, " ujar Turah Mudhita yang juga Pengelingsir Puri Kedaton.
Hal itu sebagai implementasi Tri Hita Karana, khususnya Palemahan (hubungan manusia dengan alam).
Hubungan manusia dengan alam ini patut dijaga dengan baik sehingga harmonisasi tetap terjaga mencegah adanya bencana.
Diharapkan ke depannya kawasan itu menjadi pusat kebudayaan dalam memajukan pendidikan dan peradaban manusia.
Ketua BPJ, Made Pujana menambahkan acara dapat mendukung pembangkitan kawasan menjadi tempat rohani (menempuh kehidupan spiritual).
Setelah 29 tahun tidak terurus, kini mulai ditata kembali sehingga berdaya guna bagi kehidupan masyarakat. Olehkarenanyalah pihak Yayasan selaku pengelola menyambut baik INTI Bali dan IKBS untuk bersama sama mengembalikan fungsi kawasan suci ini, bahkan sejak awal pungkasnya. (ART/02)