Oleh I Wayan Artaya
Kehidupan romantisme Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno menarik diketahui dari sembilan nama perempuan menghiasi jalan cerita kehidupannya.
Salah satunya Fatmawati yang memiliki nama asli Fatimah pertama kali bertemu ketika Bung Karno sedang dalam masa pengasingan di Bengkulu.
Untuk mengenang peringatan 98 Tahun Fatmawati Soekarno (5 Februari 1923 - 14 Mei 1980).
Kemerdekaan Indonesia tidak akan lengkap jika tanpa bendera merah putih, bendera yang menjadi simbol kemerdekaan.
Fatmawati, Istri Ir. Soekarno yang ke-3 sebagai Penjahit Bendera Pusaka Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
Bahkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri sangat mengagumi empat perempuan di sepanjang hidupnya, khususnya ibu kandungnya Fatmawati.
Selain, Ida Ayu, Ibunda Bung Karno, Siti Chadijah, Ibunda Fatmawati dan Bu Citro, pengasuhnya.
Untuk itu, saya mengagumi sosok Ibunda Fatmawati sebagai lambang kesejahteraan bagi tanah air.
Apalagi saya dapat menemukan peninggalan barang yang berharga Vespa Kongo atas nama Fatmawati Sukarno.
Vesva tahun1960-an tersebut telah dirawat dengan baik pihak Manajemen Museum Agung Bung Karno di Denpasar.
Saya pun dapat mencobanya dan menaiki kendaraan besejarah tersebut yang pernah digunakan oleh Presiden Sukarno.
Vespa Kongo ini jadi barang yang banyak dihadiahkan Presiden Soekarno kepada para tentara, terutama pasukan garuda.
Oleh karena dulu Presiden Soekarno dekat dengan Pemerintah Jerman, skuter endemik Jerman ini yang jadi pilihan.
Menurut Pendiri Museum Agung Bung Karno, Gus Marhaen, cinta dan kasih Sukarno begitu besar kepada Fatmawati begitu besar hingga nama BPKB Vespa Kongo memakai nama Fatmawati Sukarno.
Selain itu, dalam museum juga ditemukan lukisan Ibu Fatmawati sedang mengupas buah mangga yang akan disajikan kepada Sukarno di Pegangsaan.
Lukisan itu menandakan pelayanan seorang istri kepada suaminya layaknya Sita Rama dalam sejarah Ramayana.
Saat ini kendaraan itu banyak ditawar warga atau masyarakat pecinta vespa sesuai penuturan Komang Oka.
Baru saja kendaraan itu mau diperbaiki ketika dinaikkan ke pick up sudah ditawar Rp45 juta, sedangkan setelah diambil dari bengkel ada menawar Rp50 juta.
Oka merasa deg-degan pertama kali membawa vespa mendapatkan penawaran seharga sebesar itu.
Padahal kendaraan itu nilainya miliyaran ataupun triliunan bahkan tak ternilai karena memiliki sejarah amat penting bagi perjalanan bangsa Indonesia.
*) I Wayan Artaya, Direktur Utama Atnews