Denpasar (Atnews) - Ketua Yayasan Gabungan Anak Sesetan (Gases), Dr. Komang Indra Wirawan, S.Sn.,M.Fil.H mengajak masyarakat Bali menjungjung tinggi nilai-nilai lehur yang diwariskan dalam memajukan peradaban manusia.
"Upaya itu dalam menjaga ciri khas dan keunikan Bali yang sudah dikenal dunia international, bahkan Bali barometer Indonesia," kata Indra Wirawan Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Mahadewa Bali sekaligus sebagai dosen mengajar mata kuliah bidang seni dan budaya kepada Atnews di Denpasar, Sabtu (13/2) bertepatan dengan Hari Tumpek Landep.
Menurutnya, Bali menjadi menarik karena mampu menyatukan seni, budaya dan agama dengan kuat dan kental.
Masyarakatnya penuh toleransi, selalu terbuka menerima kedatangan siapapun tanpa meninggalkan jati diri.
Hal itu dapat ditemui dengan berbagai bukti peninggalan baik dalam bentuk kesenian, upakara maupun lainnya yang diwariskan kepada generasi saat ini.
Sedangkan dalam menjaga hal itu, pentingnya kerjasama semua pihak, termasuk pengoptimalkan lembaga-lembaga yang ada, khususnya terkait penguatan dalam menjaga seni, budaya dan agama yang ada.
"Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung: haruslah mengikuti/menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita sehingga shanti (damai) dan jagadhita (bahagia), " ujarnya.
Pemahaman tersebut memang terus digelorakan oleh seluruh komponen untuk menghindari adanya konflik horizontal maupun vertikal.
Hal itu dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) apalagi dalam melewati masa sulit pandemi Covid-19 yang telah melumpuhkan ekonomi global, khususnya tanah air dan Bali.
Semestinya, sikap saling menghargai, toleransi dan gotong royong semakin diperkuat sesama anak Bali dan bangsa dalam ikut serta berjuang maupun bangkit dari pandemi.
Selain itu, pelaksanaan agama pada masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri, begitu juga di Bali yang mayoritas Hindu.
Maka dari itu, pihaknya sebagai generasi penerus bangsa sepatutnya menjaga dan melestarikan warisan itu yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia.
"Jika berbicara agama itu sebuah keyakinan yang punya agem-ageman, keyakinan sudah sepatutnya tidak dicampur adukan dengan ranah politik, hal itu masuk ranah zona aman dan nyaman seseorang yang patut dihormati sesuatu aturan yang berlaku, " ungkapnya.
Namun hal tersebut agar tidak bertentangan dengan adat dan dresta pada daerah bersangkutan.
Mengingat Agama ala Bali, sudah teruji ruang dan waktu yang dilakoni oleh masyarakat secara turun - temurun.
Namun, pihaknya juga menyadari tantangan masyarakat Bali ke depan tidak dalam menghadapi pengaruh global.
Untuk itu, dibutuhkan kecerdasan dalam menjalankan seni, budaya dan agama menyesuaikan tanpa meninggalkan jati diri dan makna.
Hal itu diterapkan dalam masa pandemi, pihaknya melayani masyarakat tetap mengikuti himbauan pemerintah dengan penerapan protokol kesehatan tanpa mengurangi makna dan esensi yadnya itu sendiri.
Komitmen itu telah ditanamkan sejak berdirinya Gases hingga saat ini.
Indra Wirawan menamatkan pendidikan di SMKI (sekarang SMK N 3 Sukawati), melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 di ISI Denpasar, pendidikan Magister di IHDN Denpasar.
Serta Program Doktor Ilmu Agama di IHDN Denpasar dengan judul disertasi “Pementasan Dramatari Calonarang di Kota Denpasar Kajian Teo-Estetika Hindu.”
Terlahir di keluarga Gases Bali, maka darah seni pun mengalir dalam dirinya. Hingga akhirnya menjadi praktisi seni Calonarang sebagai Matah Gede dan Juru Undang. Termasuk terjun dalam dunia akademik.
Ia juga aktif mengisi seminar seni diberbagai tempat, dan berprofesi juga sebagai Undagi Barong dan Rangda.
Bahkan menerbitkan beberapa buku, yakni buku dengan judul Barong dan Rangda dalam Dinamika Religius Masyarakat Bali, Bungarampai Pemikiran Jero Mangku Wayan Candra, Calonarang Ajaran Tersembunyi di Balik Tarian Mistis, serta beberapa makalah dan jurnal budaya lainnya. (ART)