Oleh I Komang Pasek Antara
Guna mewujudkan emansipasi dan motivasi wanita khususnya ibu-ibu Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa di Kabupaten Karangasem dalam meningkatkan literasi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustaka) Kabupaten Karangasem, kali pertama sukses menyelenggarakan lomba secara virtual Masatua (cerita) Bahasa Bali serangkaian kegiatan Bulan Bahasa Bali 2021.
Ida Ayu Ketut Santi Wiryani, dari Geria Kawan, Desa, Culik, mewakili Desa Culik, Kecamatan Abang, dinobatkan oleh dewan juri meraih juara I dengan nilai 1334 dengan judul cerita “Ni Bawang teken Ni Kesuna”. Juara II dan III masing-masing dimenangkan dengan raihan nilai dan judul ceritera, Ni Luh Nonik Oktiari, 1314, “Kambing Takutin Macan” dari Desa Labasari, Kecamatan Abang, Ni Wayan Dasi Artini, 1293, “Men Sugih teken Men Tiwas” dari Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem. Sedangkan juara favorit didapatkan Ni Wayan Darti judul ceritera “Cupak Gerantang”.dari Desa Muncan, Kecamatan Selat berdasarkan hasil like terbanyak tayang melalui youtube,
Karena suasana pandemi Covid-19 sistem lomba digelar secara virtual, para peserta mengirimkan file video dan foto ke email dispustaka21@gmail.com. Pendaftaran peserta terakhir sejak tanggal 16 Pebruari 2021 lalu, sedangkan pengiriman video dan foto terakhir tanggal 20 Pebruari 2021 lalu.
Kepala Dispustaka Karangasem, Drs. I Wayan Astika, M.Si. menyerahkan secara langsung hadiah kepada para pemenang, Kamis (25/2) siang di Aula Disputaka Karangasem. Jumlah peserta 51 orang dari 75 desa yang ada semua kecamatan di Kabupaten Karangasem. Para pemenang memperoleh hadiah berupa piala, piagam penghargaan dan souvenir dari panitia dan dukungan sponsor Devara Galery dan Pondok Geringsing.
Ketua panitia lomba, Iwan Supartha, SE,MAP, mengatakan, kreteria penilaian meliputi, keutuhan satua, vokal (kekuatan/ketepatan ucapan, variasi bunyi dan nada), kemampuan berceritera (penampilan, pengeusaan ruang, narasi, karakter), penghayatan (ekspresi, mimik dan gerak), dan bahasa (anggah-ungguhing basa dan kelengutan basa).
Sebelum penyerahan hadiah, pemenang I, Ida Ayu Ketut Santi Wiryani kembali menampilkan ceritera “Ni Bawang teken Ni Kesuna” yang dibawakan dalam lomba secara langsung dengan protokol kesehatan mencegah Covid-19 disaksikan Kepala Dispustaka, I Wayan Astika beserta jajarannya, Sekretaris/Kabid dan dewan juri.
Astika mengatakan, alasan khusus menampilkan wanita dari ibu-ibu PKK dalam lomba cerita bahasa Bali, untuk memberikan motivasi lagi kepada para ibu-ibu meningkatkan literasinya, membaca maupun bercerita, karena ibu-ibu lebih dekat dengan buah hatinya.
“Era teknologi informasi-komunikasi sekarang ini, semakin berkurang para ibu-ibu khusus menyediakan waktu bercerita kepada anaknya. Biasanya ibu-ibu berceritera kepada putra-putrinya jelang tidur malam. Sekarang lebih banyak para ibu dan anaknya masing-masing menyendiri memperoleh informasi atau hiburan melalui hand phone” lanjut Astika.
“Satua/dongeng banyak manfaaanya, terutama dongeng-dongeng yang mengandung pesan moral positif. Bagi anak, mendengar dongeng dapat merangsang dan meningkatkan imajinasi, daya fantasi serta mengembangkan daya sikap kritis dan kreatif pada anak-anak,” jelas Astika.
Tiga orang juri lomba I Gusti Lanang Suteja Narendra, S.Pd, I Putu Sutirta, S.Pd. MPd. H dan Kadek Sri Harmayanti, S.Pd. Juri, I Gusti Lanang Suteja Narendra, pembina cerita/dongeng ana-anak yang sukses mangatakan, peraih juara satu memiliki beberapa keunggulan, yang membuatnya terpilih sebagai juara. Tekeh mesatua ada pada dirinya. Anggah-ungguhing bahasa yang konsisten, mampu memposisikan diri sebagai pencerita sekaligus memasuki karakter tokoh dengan baik. Ekspresinya alami, Jeda yang tepat, penekanan kata yang tepat sehingga satua bisa diterima secara utuh. Improvisasi yang dimunculkan mampu menghidupkan suasana satua. Keunggulan tersebut membuat satua yang dibawakan terasa lengut, layaknya satua yang diceritakan ibu-ibu kepada anaknya.
Suteja Narendra mengapresiasi yang tinggi kepada Dispustaka Karangasem yang sudah berinovasi menyelenggarakan lomba secara virtual walaupun dalam suasana pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat untuk menggairahkan semangat bersastra Bali, terutama dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa Bali. “Semoga kegiatan ini bisa memberikan motivasi bagi masyarakat untuk tetap mencintai dan melestarikan budaya mesatua Bali,” harapnya.
Sementara itu juri lainnya, I Putu Sutirta, megatakan, kualitas peserta secara keseluruhan sangat baik dan persaingannya sangat ketat, sehingga kami sebagai juri kebingungan menentukan juaranya, karena rata-rata kemampuan peserta sudah banyak pengalaman dalam lomba satua. Putu Sutirta mengharapkan, penyelenggaraan lomba sudah sangat bagus, harapan ke depan agar semua desa ikut berpartisipasi dalam lomba satua. (*)