Oleh I Gde Sudibya
Sastrawan kelahiran Sumba, berkiprah di Jogyakarta dan kemudian di Bali, Umbu Landu Paranggi, meninggal di Denpasar, Selasa, 6 April 2021, di usianya 77 tahun.Sastrawan yang menjadi pembimbing, guru dan bahkan disebut suhu oleh para murid-muridnya.
Sebutan Suhu sangat tepat, karena seniman ini, memilih jalan kehidupan: kesederhanaan total, ugahari, model pertapa (seperti di masa lalu).
Bung Umbu, memilih profesi kesenimanan secara total, dapat mengingatkan kita akan kata profesion, berangkat dari konsepsi keyakinan dalam etika protestan tentang Pre Destinasi dari Calvin: Tuhan sudah menentukan apakah manusia akan masuk surga atau neraka pada saat mereka dilahirkan, tetapi mereka tidak tahu apakah nantinya masuk surga atau neraka. Maka dipergunakanlah dunia ini sebagai panggung untuk memuja Tuhan, melalui kerja, dengan harapan nantinya masuk surga.
Bung Umbu, dari cerita teman- teman dekatnya, memilih kehidupan ugahari, puritan dalam menjalankan dharma profesinya. Seorang sosok pemberi teladan yang par excellence, bagaimana kehidupan dilakoni tanpa keterikatan duniawi di dunia yang maya ini. Laku kehidupan yang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit dilaksanakan dalam kehidupan serba benda dewasa ini, sarat pamrih, menafikan akal sehat, dan kecerdasan.
*) I Gde Sudibya, Pengamat Kebudayaan.