Banner Bawah

Tradisi Unik Tamblang Waluh di Desa Bungaya

Artaya - atnews

2021-04-14
Bagikan :
Dokumentasi dari - Tradisi Unik Tamblang Waluh di Desa Bungaya
Slider 1

Karangasem (Atnews) - Desa adat Bungaya, Bebandem, Karangasem termasuk Desa Tua yang ada di Bali. Bahkan Desa ini disebutkan sudah ada sejak jama kerajaan Majapahit. Ini dibuktikan dengan adanya peranglat gambelan berupa Selonding. Gambelan ini juga sangat di sakralkan di Desa tersebt. Untuk diketahui Selonding dipercaya merupakan perangkat gambelan yang berkembang pada jaman kerajaan Majapahit.
Karena itu Desa Bungaya juga kaya dengan tradisi budaya yang unik dan langka.  Diantaranya adalah ritual Tamblang Waluh atau meninjakan yang memang terlihat sepintas nyeleneh dan jorok.
Saat tradisi ini berlangsung melibatkan kelompok teruta Desa setempat. Turun ke perempatan  dan jalan jalan Desa. Mereke menerikan kata-kata kotor dan jorok sambil melakukan aksi saling tending atau meninjakan. Setiap persimpangan jalan Desa berhanti dan melakukan aksi saling tending. Ini juga merupakan bela diri dasar Desa adat Bungaya.
Tradisi ini dilakukan secara rutin dan sesudah ratusan tahun. pelaksaanya setiap enam bulan sekali dua hari menjelang hari raya Galungan tepatnya saat Penyajaan Galungan yakni Soma Pon Uku Dunggulan (penanggalan Bali red).
Seka teruna sangat antusias dalam melaksanakan tradisi ini. mereka keluar rumah dan turun ke kalan untuk berduel, namun duel yang dilakukan hanya boleh menggunakan tendangan.
Tradisi ini disebut Metamblang Waluh atau Metinjakan.
Pemuda satu dengan yang lainya saling serang atau tandang dengan adu kekuatan kaki. Melihat ciri khas beladiri ini menghandalkan kekuatan kaki sebagai senjata utama.
Habatnya lagi usai pertarungan semuanya kembali berbaur tidak ada rasa dendam satu dengan yang lainya. malah tradisi ini lebih mengakrabkan antara kalangan muda desa setempat. Sementara dalam duel ini lawan juga harus sepeda, kalau anak anak melawan anak anak dan Dewasa akan melawan yang Dewasa.
Saat pertarungan terjadi disanalah pemuda lainya meneriakan kata-kata jorok. Teriakan ini dilakukan secara berupang ulang dalam tempo yang cepat.  Sepitas kata-kata tersebut memang terdengar jorok namun kalau dimaknai filosopinya juga terkait dengan penciptaan.
Menurut salah satu tetua Desa atau biasa dipanggil We De, We De Mantan Santi mengatakan kalau Metamblang Waluh merupakan tradisi di Desa adat Bungaya. Diakui kalau tradisi ini berjalan begitu saja tidak ada lontar atau tersurat secara tertulis terkait tradisi tersebut. hanya saja selama ini dijalankan secara turun temurun dengan kata kata yang degang atau jorok.
“Ya memang sudah sejak duku, pelaksaanya seperti itu,” ujrnya.
Sementara itu, menurut catur dresta yang ada di Desa adat tersebut Tamblang Waluh juga bisa diartikan sebagai symbol Liga Yoni atau simbul laki perempuan.
Tamblang merupakan salah satu jenis bambu dan ini disimbulkan sebagai laki laki atau Lingga. Sementara Waluh adalah sejenis Labu dan merupakan simbul perempuan atau Yoni. Selaian itu Waluh juga berrasal dari kata Luh atau Perempuan.
Karena itu Tamblang Waluh juga sebagai simbolisasi kelahiran dunia atau penciptaan.
Dengan demikian kegiatan ini juga memiliki manka suci yakni penghormatan kepada Tuhan atau Ide Sanghyang Widi Wasa dalam menivestasinya purusa dan predana. Ini juga terkait dengaan kata kata jorok yang diteriakan para pemuda desa saat melakukan aksi metinjakan.
Kata kata tersebut juga bermakna membebaskan dari ikatan keduniawian. Sekaligus melepas hal hal yang bermakna negative dalam diri. Sehingga jiwa dan raga menjadi bersih saat melaksanakan Galungan dan Kuningan sebagai perayaan Kemenangan Dharma melawan Adharma.
Sekalipun terkesan jorok namun tradisi ini tidak pernah dilewatkan. Warga juga meyakini kalau tradisi ini harus dilakukan. Pernah dulu tidak dilaksanakan karena dianggap jorok namun mereka yang melarang malah sakit perut dan muntaber.
Karena itu sejak itu tradisi ini terus digelar. Karena kalau sampai tidak di gelar waga takut akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan seperti wabah penyakit.(yan)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Akibat Dana Desa, 93 Persen Desa Rutin Selenggarakan Posyandu

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif