Banner Bawah

Pertanian Pondasi Struktur Pembangunan Ekonomi Bali

Artaya - atnews

2021-05-28
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pertanian Pondasi Struktur Pembangunan Ekonomi Bali
Slider 1

Denpasar (Atnews) - Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPD HKTI) Bali bersama Universitas Warmadewa dan Universitas Dwijendra Denpasar menyelenggarakan Webinar dengan tema “ Strategi Mewujudkan Sektor Pertanian Sebagai Pondasi Struktur Pembangunan Ekonomi Bali” di Denpasar, Jumat (28/5).
Kegiatan itu sekaligus memperingati HUT HKTI ke-48, HUT ke-9 melalui Prodi Magister Sains Pertanian (PS-MSP) Pascasarjana Universitas Warmadewa.
Kegiatan Webinar dibuka oleh Sekretaris PPs Unwar Dr. Putu Suyatnayasa, SE., MSi, pihaknya ikut mendukung membangkitkan sektor pertanian sebagai pondasi pembangunan ekonomi kedepan.
Oleh karena, salah satu pilar ekonomi dari sektor pertanian harus sejajar dengan pilar ekonomi dari sektor pariwisata. 
Menurutnya, kondisi  pariwisata sangat terpuruk, maka membutuhkan kuatnya sektor pertanian dan terbukti masih mampu menopang perekonomian Bali pada masa pandemi Covid -19.
Pembangunan ekonomi Bali, harus dikuatkan dengan 3 pilar ekonomi yaitu sektor pertanian, pariwisata, dan UMKM. 
Namun saat ini ekonomi Bali mengalami kontraksi yang sangat besar ditengah merebaknya pandemic Covid-19 yang menyebabkan perekonomian Bali sangat terpuruk, karena terlalu memfokuskan ekonomi dari sektor pariwisata. 
Disatu sisi, Ketua DPD-HKTI Bali Prof Nyoman Suparta, menekankan pada pembahasan penguatan kelembagaan subak, inovasi industri, dan penguatan agribisnis sektor pertanian sehingga betul-betul sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi Bali disamping sektor pariwisata.
Pakar subak dan pemerhati pertanian Bali Prof. Dr. Wayan Windia, dan Dr. Ir. Ketut Suamba, MSi. juga sebagai akademisi di FP Unud sebagai narasumber mengatakan bahwa kalau ingin kedepan sektor pertanian sebagai pondasi pembangunan ekonomi Bali, maka organisasi subak di Bali harus lebih dikuatkan dengan tetap mempertahankan elemen yang ada dalam subak dipertahankan. 
Harus ada sinkronisasi dan koordinasi antara subak, desa adat dan desa dinas yang selama ini terkesan bahwa subak berjalan sendiri, sehingga adanya gempuran dari luar memiliki kekuatan untuk mempertahan eksistensi subak. 
Disatu sisi, Perda No. 9 tahun 2012 masih terkesan melemahkan peran subak di Bali, dimana hilangnya peran dari Sedahan Agung dalam struktur organisasi subak di Bali, maka perlu ada revisi.
Ia sebagai praktisi dibidang pertanian Dr. Ir. Wayan Alit Artawiguna, MS., yang juga peneliti di BPTP Bali sebagai pembicara II mengatakan bahwa perekonomian Bali selama ini terlalu menggantungkan sektor pariwisata tidaklah salah karena telah menyumbang PDRB Bali yang paling besar, akan tetapi sektor pertanian juga harus dikuatkan sebagai pondasinya perekonomian di Bali terutama pada kondisi yang ada saat ini. Penguatan sektor pertanian Bali harus dibarengi dengan penerapan berbagai inovasi dan teknologi dari hulu dan terutama di hilir. 
Petani tidak lagi hanya terbatas  menguasi kemampuan on-farm saja, tapi juga menguasai teknologi di hilir dalam pengolahan sebagai nilai tambah produk yang dihasilkan. Sebagai contoh di sector perkebunan tanaman coklat, dengan teknologi pengolahan akan mampu menjadi komoditi eksport dengan peluang pasar yang masih besar yang telah beliau lakukan saat ini paparnya.
Sementara Rektor Universitas Dwijendra Dr. I Gede Sedana, MSc. menyoroti penguatan pertanian sebagai pondasi perekonomian Bali, harus dibangkitkan kemampuan agribisnis dalam kelembagaan subak, yang diistilahkan dengan sistim agribisnis inclusive dalam subak, kalau kita ingin penguatan sektor pertanian sebagai pondasi perekonomian Bali kedepan. 
Harus dirubah peran subak hanya sebagai socio cultural religious agriculture menjadi socio cultural religious economic agriculture.
Webinar yang dipandu oleh Prof. Dr. Ir. Nyoman Rai, MS., dalam diskusi yang cukup kondusif dari para peserta seminar sebanyak 146 peserta, hampir semua berpandangan bahwa : 1) untuk menjadikan sector pertanian menjadi pondasi struktur pembangunan ekonomi Bali, maka subak harus diperkuat baik dari sisi lembaganya, regulasinya, dalam pengaturan tata air, dan peran dalam sistim agribisnis, 2) penguatan sektor pertanian harus diikuti oleh penguasaan inovasi dan teknologi dari hulu sampai hilir, sehingga petani menikmati hasil yang layak, tidak hanya dinikmati oleh para pemodal, 3) oleh karena itu maka para petani dan subak harus menerapkan prinsip-prinsip agribisnis.
Sebagai akhir dari kegiatan webinar, ditutup oleh Ketua Program Studi Magister Sains Pertanian-Program Pascasarjana Unwar Dr. Ir. I Dewa Nyoman Sudita, M.P., berharap rumusan hasil webinar II ini bisa digabungkan dengan webinar I yang dilaksanakan di Universitas Dwijendra dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah Bali. (Z/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ny. Putri Koster Gerakkan HATINYA PKK di Desa Pengejaran Kintamani Bangli

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif