Karangasem (Atnews) - Sanggar Seni Kriya Sandhi telah berhasil menampilkan
Taman Penasar, Sekaa Taman Penasar Kriya Sandhi yang berjudul ”Masilih-Asih”.
Penampilan asal Banjar Dinas Saren Kauh, Desa Budakeling, Bebandem, Duta Karangasem tersebut memukau penonton dalam Wimbakara (Lomba) di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar, Selasa (15/6).
Hal itu disampaikan Koordinator dan Ide Garapan I Made Alit Swadiaya didampingi Pembina Sanggar Seni Kriya Sandhi I Wayan Subrata sekaligus Pembina Tembang, Pembina Taman Penasar Ida Bagus Pangsua Dharma, Komposer I Wayan Suadiarsa dan Pembina Tabuh I Wayan Sumerta kepada Atnews di Karangasem, Sabtu (26/7).
Dalam rangka memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII Tahun 2021 telah resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo secara virtual dari Istana Negara pada Sabtu (12/06).
Penyelenggaraan PKB XLIII Tahun 2021 mengambil tema Purna Jiwa: Prananing Wana Kerthi (Jiwa Paripurna Nafas Pohon Kehidupan), bermakna memuliakan pohon/hutan sebagai simfoni harmoni semesta raya menuju kesejahteraan hidup dengan jiwa yang maha sempurna.
Dijelaskan, garapan Taman Penasar Masilih-Asih berasal dari ”Silih-Asih”, secara etimologis terdiri dari dua suku kata, yaitu silih dan asih.
Silih berarti saling atau hubungan, dan asih bermakna sayang atau harmonis. Jadi, dapat disimpulkan ”Masilih-Asih” adalah hubungan timbal-balik, yang tak terpisahkan demi tercapainya keharmonisan.
Harmonisasi yang dimaksud adalah keharmonisan lingkungan alam semesta, cinta akan tanah air. Dengan kata lain, keharmonisan makhluk hidup beserta lingkungannya.
"Dalam persepektif sekala, menyatu dengan alam, yaitu perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup untuk menjaga kelangsungan kehidupan Manusia adalah alam itu sendiri. Manusia harus sejalan/seirama dengan alam, hidup saling menghidupi. Alam menjaga kita, kita juga wajib menjaganya," ungkapnya.
Dalam perspektif niskala, pihaknya sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang utama. Jadi, patut disyukuri ketika diberikan akal dan budi untuk berpikir, merenung, dan berkreasi.
Untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup, kita hendaknya meningkatkan srada bakti pada Ida Sang Hyang Widhi yang bermanifestasi Bhatara Sangkara sebagai Dewa-nya tumbuh-tumbuhan atau pepohonan.
Tumbuh-tumbuhan atau pepohonan sebagai nafas bumi, dimana pohon sebagai ”sumber energi” kehidupan, alam semesta beserta isinya. Tidak ada kehidupan di dunia ini tanpa kehadiran dan dukungan pepohonan, ”Wana Kerthi: Taru Prananing Bhuwana”.
"Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus diharapkan selalu eling dan saling mengingatkan bahwa tumbuhan berperan penting pada setiap helaan nafas jiwa ini.," harapnya.
Sementara itu, Pembina Taman Penasar Ida Bagus Pangsua Dharma memberikan apresiasi terhadap penampilan tersebut dalam melestarikan budaya Bali yang adi luhung.
Meskipun telah berhasil dalam ajang tersebut perlu dikembangkan kembali sehingga penampilan lebih menarik dan semakin diminati generasi muda.
Dalam penampilannya telah menyuguhkan keunikan pengiring pada saat "pekaadnya", hal itu tetap dipertahankan tanpa mengurangi dominasi geguntangan.
"Geguntangan yang dominan, baru musik kreasi yang lain mengikuti," pungkasnya. (ART/001)