Oleh I Gde Sudibya
India beberapa waktu lalu mengalami lonjakan pandemi yang luar biasa, kenaikan kasus harian pernah mencapai sekitar angka 400.000, kenaikan kasus 50 kali lipat dari rata-rata kasus harian sebelumnya.
Kondisi pandemi ini, diberikan label oleh industri media sebagai tragedi India, sistem RS kolaps, angka kematian membubung tinggi, terjadi kelangkaan dalam pasokan oksigen, India memerlukan bantuan negara lain dalam menangani masa puncak pandemi ydm.
Diberitakan India telah berhasil melewati gelombang kedua pandemi, kasus hariannya terus mengalami penurunan.
Negara bagian Mahasashtra dengan ibu kota Mumbai dinilai paling berhasil dalam pengendalian pandemi, sehingga dikenal Model Mumbai yang dinilai paling efektif.
Kompas, Senin, 21 Juli 2021 memberitakan Model Mumbai dalam penanganan pandemi, dengan sejumlah strateginya: pertama, manajemen pembenahan rumah sakit dan penambahan rumah sakit darurat yang disebut sebagai " jumbo covid isolation centre ".
Kedua, pengelolaan penyimpanan oksigen, pembangunan pusat pengisian oksigen dan penataan ulang alokasi oksigen untuk rumah sakit dan industri.
Ketiga, manajemen pembatasan aktivitas dan penelusuran kasus. Keempat, penambahan fasilitas ICU, pediatri dan perawatan bayi, trauma centre, serta bekerja sama dengan jaringan perhotelan bagi pasien tanpa gejala atau bergejala ringan.
Tantangan Bali mengikuti Model Mumbai
Diperlukan kebijakan yang lebih cerdas, dengan affirmative actions yang lebih terukur, dengan jadwal ketat, kesannya tidak "gabeng" "saru gremeng", sarat himbauan normatif tanpa berbasis data yang akurat.
Kebijakan ini memerlukan turunan kebijakan, antara lain, pertama, prediksi risiko di hari-hari ke depan, sehingga peningkatan fasilitas rumah sakit bisa direncanakan lebih baik.
Kedua, diperlukan jumlah penelusuran, tracing, yang lebih banyak untuk mempercepat penemuan kasus dan pengobatannya.
Ketiga, sistem pasokan oksigen dilakukan pembenahan dan disempurnakan, untuk mengantisipasi ledakan kasus dan terjadinya skenario terburuk. Ketiga, meniru model Mumbai, penambahan fasilitas ICU, pediatri, crisis centre dan perawatan bayi, perlu memperileh prioritas. Keempat, gaya kepemimpinan (leadership style), pendekatan manajemen (managerial approach) segera dibenahi, untuk menjaga, merawat motivasi, komitment pelayanan dan tim work dari petugas kesehatan dan petugas lapangan lainnya, dari risiko kejenuhan, demotivasi dan kemerosotan moral kerja.
Dari analisa ekonomi politik, penanganan pandemi ini semestinya tidak berkepanjangan dan berlarut-larut, karena risiko politiknya tinggi: pengangguran berkepanjangan dengan risiko kekurangan pangan dan kemudian kelaparan, bisa menimbulkanpembangkangan sosial warga, civil disobedience, dalam bentuk penolakan melaksanakan protokol kesehatan, dan bahkan amok, kerusuhan sosial yang dipicu oleh kelaparan.
Karena tingginya risiko politik ini, sudah semestinya pengambil kebijakan meningkatkan sense of crisisnya , jangan lagi ada yang menganggap enteng persoalan (lunder estimate), apalagi melakukan monuver politik di masa krisis. Para akhli sudah mewanti-wanti, politisasi pandemi akan memicu penyebaran virus berlangsung lebih cepat.
*) I Gde Sudibya, ekonom, kosultan ekonomi dan strategi manajemen, pengamat kebijakan publik.