Jakarta (Atnews) - Ary Sutedja seorang pianis mendapatkan gelar Master of Music di Bidang Seni Pertunjukan Piano di Universitas Towson di Baltimore, Maryland pada tahun 1992, dengan predikat “summa cum laude”.
Ia pun mendapat sejumlah penghargaan diantaranya “Outstanding Achievement in Music”, pemenang “The Peggy and the Yale Gordon Foundation Scholarship”, dan pemenang “The Talent Award Competition”.
Kemudian melanjutkan program Stajirovka di St. Petersburg Conservatory, Rusia.
Guru-gurunya adalah Reynaldo Reyes, Mme. Sofia Valkman, Sergei Uryuaev dan di Indonesia adalah Iravati M. Sudiarso.
Bersama almarhum suaminya, Mikhail David, Ary berhasil mendirikan Yayasan JakArt, sebuah organisasi berbasis akar-rumput pada tahun 1999 yang bertujuan untuk mendemostrasikan, mengekspos, membagi, mengajak dan mempromosikan seni melalui bermacam-macam program dan kegiatan.
JakArt ber-visi-kan bahwa kreativitas adalah jiwa dari manusia dan bahwa promosi seni akan mendukung tidak hanya pengembangan / pembangunan masyarakat tetapi juga mendukung nilai-nilai kemanusiaan.
Ary Sutedja secara terus - menerus mempromosikan pentingnya diplomasi kebudayaan. Sejak tahun 2001, JakArt telah mengadakan 6 festival, 4 festival di Jakarta dan 2 festival keliling, dan telah menyelenggarakan 10 produksi utama di 175 kota di 4 benua. JakArt telah mengadakan lebih dari 1700 pertunjukan di lebih dari 700 lokasi, melibatkan partisipasi lebih dari 3000 seniman dari 50 negara.
JakArt telah bekerja dengan lebih dari 350 organisasi pemerintah dan LSM, kedutaan asing, dll, dan telah melibatkan lebih dari 2000 sukarelawan yang antusias dari semua lapisan masyarakat.
Pada tahun 2002, JakArt didukung oleh UNESCO. Pada tahun 2004, bersama-sama Singapore Arts Festival, Cina Shanghai International Arts Festival, Hong Kong Arts Festival, JakArt mendirikan AAPAF (Asosiasi Festival – festival Seni Pertunjukan se – Asia dan Pasifik.
Program budaya JakArt dengan tajuk ASAH, keliling mengunjungi 100 kota di seluruh Indonesia.
Telah terlaksana di 51 kota dengan 71 pertunjukan. Program lain yang merupakan program berkeberlanjutan adalah pendirian Sekolah Seni JakArt, program ekstra kurikuler sekolah yang menawarkan berbagai kursus di bidang musik, teater, seni rupa dan tari yang berada di bawah naungan satu atap.
Ary aktif sebagai pianis baik sebagai solis juga dalam kelompok musik kamarnya (Nuansa Klasik: Ary Sutedja – pianis/Indonesia, Sharon Eng – violinis/Amerika dan Soun Youn Yoon – Obois/Korea).
Ary juga aktif sebagai pembicara dalam festival yang berbeda di Asia dan Eropa, serta memberikan berbagai lokakarya dan juri di lembaga pendidikan.
Lalu tahun 2003 sampai dengan 2006 Ary Sutedja menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta serta tahun 2004 juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia untuk Olimpiade Kebudayaan.
Di tahun 2015, Ary menjadi anggota Dewan Pengawas Kongres Kesenian Indonesia III di Bandung, 1 – 5 Desember 2015 atas permintaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pada tahun yang sama sampai dengan 2017 Ary Sutedja berkolaborasi dengan pemain biola dari Jerman Iskandar Widjaya mengadakan konser tur di Jakarta, Balikpapan, Ambon dan Ternate.
Tahun 2017 – 2018 berkolaborasi dengan Seung Yong Choi (conductor biola alto) di ISI Padang Panjang, Magelang serta beberapa kota lain serta di Korea Selatan. Pada tahun 2019 sampai dengan saat ini, Ary mengajar Piano Seni Pertunjukan di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.
"Saya sebagai seorang musisi (pianis), bahwa untuk perubahan Bali baru perlu semua stakeholder meningkatkan kemampuan mendengarkan dalam merespon tantangan zaman," kata Ary Sutedja kepada Atnews di Jakarta, Sabtu (24/7).
Dikatakan juga, konsisten dengan kreatifitas, cari solusi untuk setiap masalah yang ada.
Bali jangan terpuruk dengan pandemi, semua stake holder perlu duduk bersama, evaluasi, dan mencari solusi dalam 3 tahap baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Fondasi yang dibangun selama ini , yaitu pariwisata sebagai pilar menunjukkan tidak cukup kuat untuk menopang krisis. Ketahanan perlu di tingkatkan, dari tingkat masyarakat umum.
"Yang perlu dirubah adalah sikap orang Bali, harus lebih mandiri, jangan tergantung pada faktor luar tapi perkuat ketahanan diri sendiri," ungkapnya.
Pada intinya untuk menuju Bali baru diperlukan sikap baru juga, ditatanan masyarakat. Seni (di Bali) itu perlu kreatif, dinamis, dan tidak statis
Seni yang berani keluar dari "zona nyaman" adalah seni yang perlu diterapkan di Bali.
Aturan, kaidah perlu dihormati tetapi jangan sampai membelenggu dan mempersulit kehidupan itu sendiri.
"Keseimbangan antara buana alit dan buana agung. Tidak ada kata tidak bisa selama kita masih bernafas dan berada di dunia ini," pungkasnya. (ART/001)