Denpasar (Atnews) - Anggota DPD Dapil Bali Made Mangku Pastika memberikan apresiasi semangat dan dedikasi Owner Krisna Oleh Oleh Gusti Ngurah Anom yang akrab disapa Ajik Krisna kembali bertani.
Ajik Krisna kembali ke alam dengan menanam kacang di lahan 23 hektar kemauan ke alam ini merupakan keputusan yang tidak mudah setelah lama bergelut dalam industri pariwisata.
Upaya itu turut merawat alam dan melestarikan lingkungan sekaligus menyerap tenaga kerja. Apalagi Krisna Oleh Oleh merumahkan sekitar 2000 karyawan.
“Perubahan yang dilakukan Ajik Krisna dari bisnis oleh-oleh ke pertanian ini patut didukung. Saya salut mau berubah, apalagi ke sektor pertanian untuk mendorong anak gemar bertani,” kata Mangku Pastika saat Reses via vidcon di Denpasar, Senin (26/7).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Reorientasi Pengembangan Pertanian di Tengah Pandemi Covid 19” dipandu Tim Ahli Nyoman Wiratmaja didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Baskara menghadirkan narasumber Kelompok Tani Ajik Krisna.
Hal itu diharapkan mampu mengubah paradigma sektor pertanian, bila perlu artis-artis ibukota diajak berkebun, naik traktor maupun aktivitas lainnya.
Mangku Pastika mengatakan perubahan itu sebagai hal yang pasti. Yang penting berubah itu untuk hal kreatif dan positif.
“Saya kira tepat terjun ke pertanian. Namun bertani itu harus modern, menerapkan teknologi agar hasilnya bagus,” jelas mantan Gubernur Bali dua periode ini.
Dikatakan ke depan orang berpikir kesehatan. Jadi akan kembali ke herbal. Orang mengutamakan makan dan obat biar sehat. “Saya salut mau cepat berubah, bekerja dan tidak menunggu. Jimmy Carter Presiden Amerika Serikat ke-39 dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 2002 sebelum jadi presiden asalnya petani kacang. Melihat semangat mereka saya optimis Bali takkan bangkrut karena pandemi ini,” ujarnya.
Selain itu, pemilihan bibit tanaman agar tepat dan unggul serta menanam yang diperlukan pasar.
Sementara itu, Krisna Oleh Oleh Ajik Krisna mengatakan, pihaknya sempat merumahkan 2.000 karyawannya. Namun kemudian dia bangkit jadi petani kacang dan ternyata hasilnya bagus. Kacang yang diolahnya laku keras sehingga ia bisa kembali mempekerjakan karyawannya.
“Saya datangi karyawan satu persatu. Saya jual mobil ferarri dan beberapa mobil lainnya sekitar Rp10 Miliyar. Hasilnya itu dipakai beli sembako untuk karyawan awal-awal pandemi," ungkap Ajik Krisna.
Namun hingga bulan Juli 2020 pandemi belum berakhir harus bangkit dan pulang kampung.
Mengingat memiliki lahan 23 hektar yang ditanami kacang, 50 persen hasil panen saya sumbangkan ke masyarakat dan sisanya diolah dan dijual.
Kini Ajik Krisna tambah yakin dengan menggeluti dunia pertanian. Apalagi setelah mendapatkan dukungan dari Bupati Buleleng, Gubernur Bali dan Pangdam IX Udayana.
Ia pun mengembangkan berbagai produk dari produk pertanian di antaranya Minyak Ajik yang segera launching Agustus nanti. “Saya juga dibantu petani tanam apotik hidup seperti jahe, sereh, dll,” jelasnya didampingi Ketua Ajik Bertani Nyoman Sukra alias Dolphin yang juga sangat peduli dengan lingkungan dan pertanian.
Pengembangan pertaniannya melibatkan masyarakat setempat, karyawan dan TNI dalam mewujudkan ketahanan pangan.
Bahkan kedepannya, pihaknya akan menjajaki pengembangan sapi Bali dengan menerapkan pola ternak yang inovatif.
Oleh karena kebutuhan sapi di Indonesia makin besar tumbuh 6,4 persen per tahun, kemampuan produksi nasional tumbuh 1,3 persen per tahun. Tetapi kekurangannya impor sapi dan daging beku setara 1,5 juta ekor per tahun.
Untuk itu, pihaknya tetap meminta dukungan Mangku Pastika agar bisa dipertemukan dengan Peternak I Wayan Supadno yang juga Formulator Pupuk Organik Hayati, Hormon Organik, & Purnawirawan TNI-AD.
Sedangkan, Ketua Ajik Bertani Nyoman Dolpin dari Kuta mengaku semangat bertani karena menyadari pandemi telah melumpuhkan pariwisata.
"Saya mencoba belajar bertani bersama Ajik Krisna di Buleleng," ungkapnya.
Nyoman Dolpin sebagai penerima Kalpataru 2019 karena berhasil merawat Tukad Mati Kuta menjadi kawasann hijau yang muaranya ke Teluk Benoa yang biasanya banjir. (ART/001)