Banner Bawah

Banyak Usaha Rumah Makan Ayam/Ikan Bakar, Perdagangan Arang Laris Manis

Atmadja - atnews

2019-05-15
Bagikan :
Dokumentasi dari - Banyak Usaha Rumah Makan Ayam/Ikan Bakar, Perdagangan Arang Laris Manis
Slider 1

Badung, 15/5 (Atnews). Perajin arang I Nengah Rukun dari Banjar Pipitan Canggu Kuta Utara Badung mengaku, permintaan arang oleh konsumen selama ini  sangatlah tinggi. Pihaknya pun mengaku kewalahan melayani pesanan konsumen yang terus bertambah banyak. "Terutama permintaan yang datang dari pengusaha rumah makan (restoran), pedagang sate, ikan bakar dan lainnya  yang selalu  laris manis,".
" Nyaris tidak pernah memiliki persedian (stok) selama ini, karena selalu habis terjual," terang Rukun Rabu (15/5) di rumahnya sambil mengatakan, arang dari bahan baku batok kelapa (tempurung)   menjadi pilihan utama pembeli dibanding dengan jenis arang dari bahan baku kayu. Selain lebih hemat dan ekonomis juga daya tahan panasnya yang lebih keras. Belum lagi tidak berdebu saat di pakai (dibakar). Oleh sebab itulah pedagang sate kambing, ikan bakar dan lainnya banyak menggunakan arang dari batok kelapa ini.
Dijelaskan pula, pelanggannya selama ini sangatlah banyak. Sementara pihaknya hanya mampu memenuhi pembeli paling banyak 90 kg. Soalnya dari 3 tungku pembakaran yang dimiliki hanya mampu memuat 30 kg sekali bakar, jadi hanya 90 kg per 2 hari. Kenapa dua hari sekali, karena dari saat pembakaran sampai proses pendinginan yang lamanya 1 hari. Di contohkannya jika membakar pagi hari , besok paginya baru bisa diangkat dari tungku. Jadi lamanya dua hari. 
Menjawab pertanyaan terhadap perolehan bahan baku batok kelapa, Rukun menjelaskan, pasokan bahan baku banyak didatangkannya dari luar Kabupaten  Badung seperti Tabanan, Jembrana dan lainnya. Dalam 2 hari didatangkan 3 truk batok kelapa dengan harga per truk mulai dari Rp 1,9 juta sampai Rp 2,5 juta. 
Lebih jauh ujar Rukun lagi,  cara pemasaran produk arangnya diambil sendiri oleh konsumen ke rumahnya. Arang yang sudah siap dijual dikemas dalam kantong plastok dengan isi 5 kg per bungkus. Harga dipatok  hanya Rp 12.500 per kg. Jadi ,jika laku 90 kg omzetnya bisa mencapai Rp 1.125.000. 
"Bahan baku menjadi kendala saat ini. Selain sulit diperoleh, juga harganya  yang terus naik. Di samping juga modal untuk membeli bahan baku," demikian Rukun. (Mur/ika).

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Koster Tirta Yatra Memohon Kesejahteraan Masyarakat BaliĀ 

Terpopuler

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia