Oleh Prof. I Gusti Bagus Rai Utama
Pemimpin visioner adalah pemimpin yang memiliki rumusan dan program kepemimpinan pembangunan yang mencangkup jangka pendek, menengah, dan panjang hingga puluhan, ratusan tahun kedepan melampaui batas periode kepemimpinan, melampaui batas generasi, dan melampau batas pemikiran orang kebanyakan karena dirumuskan oleh orang banyak yang telah disinkronisasi menjadi visi Pembangunan bersama.
Harus disadari bahwa Bali sangat mengandalkan sektor pariwisata yang seibarat dengan seeokar angsa bertelur emas. Si angsa harus terus sehat untuk dapat menghasilkan telur emas sebagai sebuah destinasi wisata dunia.
Destinasi Pariwisata Bali hingga saat ini masih dianggap memiliki citra yang positif oleh sebagian besar wisatawan mancanegara khususnya bagi wisatawan repeater. Citra tersebut adalah (1) Destinasi pariwisata Bali dianggap masih memiliki keunikan budaya, (2) Destinasi pariwisata Bali dianggap masih memiliki penduduk yang ramah, (3) Bali dianggap masih memiliki infrastruktur pariwisata yang lengkap, dan (4) Destinasi pariwisata Bali masih dianggap sebagai destinasi pariwisata yang memiliki suasana yang nyaman untuk berwisata.
Tetapi, ada sisi yang bertolak belakang tentang destinasi pariwisata Bali. Sisi-sisi tersebut adalah penanganan berbagai keluhan wisatawan nyaris tidak mendapat penanganan yang serius dan mendasar. Keluhan-keluhan wisatawan masih seputar masalah klasik yang sejak destinasi ini baru berkembang telah terjadi. Isu- isu tersebut berupa: (1) wisatawan mancanegara amat peka terhadap isu-isu pencemaran lingkungan, polusi udara dan air, perubahan sosial dan budaya sehingga diperlukan pengelolaan destinasi yang mempertimbangkan isu-isu tersebut. (2) perkembangan dan dinamika destinasi pariwisata Bali telah melampau nilai-nilai budaya yang mesti dipertahankan sehingga keunikan budaya Bali telah mengalami penurunan yang ditandai maraknya pembangunan fasilitas wisata, hotel atau berbagai jenis akomodasi yang tidak sesuai dengan ciri fisik budaya Bali. (3) masalah sampah, kemacetan lalu lintas, pelayanan imigrasi yang kurang maksimal, banyaknya pungutan di luar anggaran wisata, dan maraknya penggunaan bahan-bahan yang berasal dari plastik, Jika diringkas, setidaknya terdapat tiga masalah prioritas yang segera harus diatasi agar tidak menjadi Bencana Overtourism. Tiga masalah tersebut adalah.
KEMACETAN DAN POLUSI: tidak ada satu kota pun yang memiliki reputasi sempurna dalam isu kemacetan dan polusi, termasuk Bali. Sehubungan dengan hal tersebut, apakah pemerintah Bali mempunyai strategi untuk mengatasi masalah transportasi dan polusi? Kita jarang mendengar isu-isu ini, meskipun sudah lama ada rekomendasi dari para ahli transportasi, isu-isu ini sudah mulai terjadi, pemerintah belum meresponnya, meskipun sudah ada rencana program ini, biasanya hanya bermanfaat di atas kertas, namun nyatanya justru kemacetan semakin bertambah parah. Implementasinya karena kurangnya komitmen dan pada akhirnya berujung pada lemahnya semangat masyarakat. Inisiatif pembangunan didasarkan pada preferensi pemimpin. Hal ini sudah bukan rahasia lagi dan kelangsungan program ini dalam jangka panjang tentu diragukan.
SAMPAH DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN: Di kota-kota seperti Belanda, kerusakan lingkungan biasanya ditangani secara serius, hal ini terlihat dari cara mereka membuang sampah secara profesional. Burung dapat hidup berdampingan dengan manusia telah menjadi pemandangan luar biasa sekaligus menakjubkan di negara ini. Hal ini difasilitasi oleh aturan ketat pemerintah yang mengharuskan masyarakat berkomitmen terhadap lingkungan. Kita bisa memberikan contoh yang baik dengan membuat program untuk mengatasi kerusakan lingkungan di Pulau Bali. Rusaknya kawasan hijau dan bertambahnya kawasan “Perkotaan” yang tampak seolah-olah berkembang seperti amuba kemungkinan besar akan menambah parahnya permasalahan lingkungan di masa depan. Konservasi dan perlindungan lahan produktif untuk pertanian sangatlah penting, tidak mudah mengubah fungsi lahan, kalaupun ada perubahan sebaiknya diarahkan pada pemberdayaan masyarakat lokal, dan tidak mudah untuk meniru pembangunan pola Nusa Dua dan Kuta yang sudah kapitalistik. Pengelolaan sampah tidak cukup diatasi dengan hanya menerbitkan Pergub ataupun Perda. Pemerintah harus terlibat sebagai komitmen hak dan kewajiban Masyarakat dalam mebayar pajak, dan pemerintah memungut pajak.
RUSAKNYA TATANAN SOSIAL BUDAYA: Ketika masyarakat Bali dipinggirkan dan ditempatkan pada letak geografis yang merugikan mereka, di sinilah terjadi kerusakan tatanan sosial budaya. Masyarakat Bali yang rela menjual tanahnya dengan harga tinggi juga turut andil dalam rusaknya tatanan sosial budaya di Bali. Lelucon bahwa “Orang Bali menjual tanah untuk membeli bakso, dan Orang non-Bali menjual bakso untuk membeli tanah” bisa menjadi kebenaran yang brutal bagi kita semua. Generasi muda Bali yang mudah terpengaruh oleh muatan negatif modernisasi yang berasal dari kemajuan pariwisata juga menyebabkan hilangnya idealisme yang terkait dengan pengembangan pariwisata Bali. Sudah semakin bertambah Masyarakat Bali terlibat dalam tindak criminal juga bagian dari bencana rusaknya tatanan sosial budaya akibat kemajuan pariwisata.
Kita sungguh merindukan sosok pemimpin yang visioner yang mampu menyatukan Bali yang telah dipecah-pecah oleh aspek legal yang Bernama Otonomasi daerah. Strategi pembangunan terintegrasi dan terpadu antara provinsi, dan kabupaten kota di Bali mesti dapat segera dapat diwujudkan, dan jika memungkinkan membuat zone peran masing-masing kabupaten/ kota tanpa harus merasa tertinggal secara ekonomi. Strategi tata kelola destinasi pariwisata ini tidaklah ide yang baik bagi tata kelola untuk semua sektor pada sistem otonomi daerah yang terpusat di kabupaten/kota, tetapi harus dapat disadari bahwa berkaitan dengan tata kelola pariwisata, strategi ini adalah bukan sebuah ketidakmungkinan.
Filsafat Pariwisata Berkualitas setidaknya dapat diukur berdasarkan tiga indikator yakni terwujudnya kualitas hidup masyarakat lokal (quality of life), terwujudnya kualitas pengalaman wisatawan (quality of experiences), terwujudnya kualitas profit para pengusaha (quality of profit). Di beberapa negara, seperti Perancis, Italia, dan Spanyol, pariwisata memberikan dampak positif terhadap perekonomian negaranya. Bagi masyarakat lokal Bali, saat ini mereka sedang berebut lahan untuk mencari penghidupan dari sektor pariwisata. Peran pariwisata dalam perekonomian Provinsi Bali sangat besar dan telah melampaui sektor pertanian pada tahun-tahun sebelumnya. Keberhasilan sektor pariwisata jika diukur melalui studi dampak, seharusnya berdampak positif pada sektor pertanian yang bertanggung jawab menjaga keindahan alam dan budaya Bali sebagai produk wisata utama pulau ini.
Meningkatnya jumlah hotel dan restoran seharusnya berdampak pada permintaan logistik bahan baku industri pariwisata Bali, namun dampak tersebut belum terwujud pada sektor pertanian Bali, bahkan terjadi kontradiksi dengan semakin berkurangnya lahan produktif. dan rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
Karena begitu pentingnya peran pariwisata bagi Bali, maka kualitas pariwisata Bali perlu ditingkatkan, dan sudah sepantasnya diterapkan sistem pengelolaan destinasi yang berbasis pada peningkatan kualitas secara terus-menerus agar tidak terjadi overtourism, karena pembangunan Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata.
*) Penulis adalah: Guru Besar Bidang Manajemen Bisnis Pariwisata pada Fakultas Bisnis, Pariwisata, Pendidikan, dan Humaniora Universitas Dhyana Pura, Badung