Banner Bawah

Reformasi Ekonomi, Respon Pelaku Usaha Kebijakan Presiden Trump Kenakan Tarif Impor Indonesia 32 Persen

Admin - atnews

2025-04-03
Bagikan :
Dokumentasi dari - Reformasi Ekonomi, Respon Pelaku Usaha Kebijakan Presiden Trump Kenakan Tarif Impor Indonesia 32 Persen
Ilustrasi (ist/Atnews)

Jakarta (Atnews) - Pelaku Usaha Ketut Suardhana  Linggih yang juga Mantan Wakil Ketua KADIN Pusat Bidang Perdagangan saat Menteri Perdagangan Maria Elka Pangestu merespon kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akhirnya mengumumkan tarif import kepada Indonesia besaran 32 persen. 

Ia juga kerap ikut sebagai delegasi membahas perundingan  aturan - aturan di World Trade Organization (WTO). Perihal kebijakan Presiden Trump itu berbagai  negara menganggap bahwa ini adalah pemicu adanya perang tarif/perang dagang.

"Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu cermati bahwa ini bukanlah perang tarif atau perang dagang semata tetapi merupakan rangkaian reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat," kata Suardhana di Jakarta, Kamis (3/4).

Hal itu akan berdampak pada tatanan baru ekonomi  dunia atau praktek baru dalam sistem perdagangan dunia yang terlepas dari ikatan WTO atau aturan perdagangan global yang dianut sejak 1996. 

Gerakan "liberation day "ini sudah dimulai sejak pengumuman USA keluar dari WHO, menghapus USAID, USA keluar dari perjanjian Paris tentang perubahan iklim, ancang-ancang melepaskan diri dari ketergantungan terhadap The Fed, menebitkan stabel coin berbasis crypto (Trump USA1 dan DOGE Coin), melakukan  efisiensi anggaran dengan membentuk DOGE, dan kebijakan - kebijakan strategis lainnya.

Pemerintah Amerika menyadarai bahwa kebijakan kontroversial diatas akan berdampak negatif terjadi benturan sesaat/goyangan pada perekonomian Amerika  maupun perekonomian belahan dunia lainnya.

Namun "pengorbanan " itu dianggap hanya berlangsung jangka pendek demi tujuan jangka panjang Amerika dalam rangka menyelamatkan perekonomiannya yang mulai tertekan dan menjaga keberlangsungan sebagai negara sejahtera dan mempertahankan diri sebagai Pemimpin Dunia, demikian dalih Menteri Keuangan US Scott Bessent dalam beberapa kesempatan. 

Kebijakan itu diterapkan, barangkali karena selama 1-2 dekade terakhir (Kemajuan Ekonomi China 2015-2025 yang sangat pesat ) dan berhasil menyusul kekuatan ekonomi Amerika ? Hal itu terjadi karena dianggap China mampu berkompetisi pada situasi dunia yang menganut sistem aturan WTO? 

Step selanjutnya Pemerintah China mendeklarasikan 5 tahun program percepatan pembangunan 2024-2029 yang berpotensi sangat besar menyalip dominansi ekonomi Amerika. 

Demikian barangkali salah satu pemicu keluarnya "liberation day USA", disamping agenda - agenda  besar lainnya termasuk mungkin  reposisi peranan The Fed terkait tata ulang peredaran uang dan aturan mata uang Dunia / Global Currency Reset (GCR). 

Dengan telah dideklarasikannya genderang Liberation Day tersebut yang mana Indonesia terkena tarif import sebesar 32%, tentu sangat berpengaruh terhadap perekonomian dalam negeri . 

"Apakah kita suka atau tidak suka dengan keadaan ini ? sebagai warga dunia, barangkali ada baiknya semua pihak  mengantisipasi secara dini dengan menata ulang kegiatan   masing- masing , tidak hanya mengandalkan Pemerintah saja yang mengantisipasi keadaan ini," pungkasnya. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bawaslu Temukan 93 pelanggaran APK di Bali

Terpopuler

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

Krisis dan Perang Timur Tengah 

Krisis dan Perang Timur Tengah 

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Tutup Bulan Bahasa Bali VIII, Gubernur Koster :Tahun Depan Harus Lebih Kaya Materi, Kreatif dan Inovatif

Tutup Bulan Bahasa Bali VIII, Gubernur Koster :Tahun Depan Harus Lebih Kaya Materi, Kreatif dan Inovatif

Resmi Terbentuk, FAJI Buleleng Jajal Tukad Banyumala

Resmi Terbentuk, FAJI Buleleng Jajal Tukad Banyumala

Mengurai Dampak Perang Iran–Israel/AS terhadap Pariwisata dan Ketahanan Ekonomi Pulau Dewata

Mengurai Dampak Perang Iran–Israel/AS terhadap Pariwisata dan Ketahanan Ekonomi Pulau Dewata