Banner Bawah

Riset Internasional Ungkap Krisis Empati Global, Akademisi Dorong Kurikulum Cinta Berbasis Dharma–Prema

Admin 2 - atnews

2026-01-07
Bagikan :
Dokumentasi dari - Riset Internasional Ungkap Krisis Empati Global, Akademisi Dorong Kurikulum Cinta Berbasis Dharma–Prema
Riset Internasional (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews)–Krisis Empati Global, Riset Kolaborasi Internasional Dorong Kurikulum Cinta Berbasis Nilai Dharma–Prema Dunia pendidikan global menghadapi paradoks serius-generasi muda semakin cakap secara akademik dan digital, namun kian rapuh dalam empati, kepedulian sosial, dan kepekaan moral. Kondisi ini bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan terkait pula dengan krisis desain pendidikan.

Kesimpulan tersebut mengemuka dalam riset kolaborasi internasional yang difasilitasi Ditjen Bimas Hindu RI yang dilakukan di Indonesia, India, dan Thailand. Riset Kolaborasi peneliti dari tiga Negara ini digelar sejak Mei hingga Nopember 2025 lalu. 

Penelitian lintas negara yang melibatkan akademisi dari Asia Tenggara dan Asia Selatan ini menegaskan bahwa kurikulum modern terlalu menekankan what to know dan how to do, tetapi abai pada how to care. Pendidikan nilai dan agama masih ditempatkan sebagai pelengkap administratif, bukan sebagai jantung pembentukan manusia.

 “Akibatnya, empati tidak tumbuh sebagai kebiasaan moral, melainkan berhenti sebagai slogan normatif,” tegas Dr. Ni Kadek Surpi, Ketua Tim Riset Kolaborasi Internasional. Dr. Surpi yang juga akademisi UHN Sugriwa ini menegaskan bahwa studi komparatif ini menemukan pola yang konsisten di tiga negara: nilai etika dan spiritual diajarkan secara deklaratif, bukan dialami sebagai praktik hidup.

Peserta didik mengenal konsep kebaikan, tetapi tidak dilatih menghadapi konflik nyata, baik konflik sosial, perbedaan identitas, tekanan digital, maupun krisis ekologis. Inilah yang menjelaskan mengapa intoleransi, ujaran kebencian daring, dan dehumanisasi relasi sosial terus meningkat meski pendidikan agama tetap diajarkan. Menanggapi situasi tersebut, riset ini mendorong pengembangan Kurikulum Cinta Berbasis Dharma–Prema sebagai pendekatan baru pendidikan karakter.

Dharma diposisikan sebagai kerangka tanggung jawab etis dalam tindakan nyata, sementara Prema dihadirkan sebagai kapasitas empatik yang harus dilatih, bukan diasumsikan muncul dengan sendirinya. Kurikulum ini dirancang untuk mengintegrasikan refleksi moral, dialog lintas perbedaan, serta praksis sosial sebagai inti pembelajaran.

Berbeda dari pendekatan konvensional, Kurikulum Cinta tidak bertanya “apa nilai yang harus dihafal”, tetapi “bagaimana nilai bekerja dalam situasi nyata”. Empati diperlakukan sebagai kompetensi moral yang dapat dibentuk melalui pengalaman terstruktur, bukan sebagai sifat bawaan atau urusan privat.

Dalam konteks global yang ditandai oleh disrupsi teknologi, polarisasi identitas, dan krisis kemanusiaan, hasil riset ini menegaskan bahwa pendidikan tanpa empati justru berpotensi mempercepat krisis sosial. Kurikulum Cinta Berbasis Dharma–Prema dipandang sebagai salah satu tawaran serius dari tradisi nilai Timur untuk menjawab kegagalan pendidikan modern yang terlalu mekanistik.

Riset internasional ini merekomendasikan agar pembaruan kurikulum tidak lagi berfokus semata pada capaian akademik dan keterampilan teknis, tetapi pada pembentukan manusia yang mampu bertindak etis, berwelas asih, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial dan digital. Tanpa pergeseran paradigma tersebut, pendidikan berisiko terus menghasilkan generasi yang cerdas, namun kehilangan empati, kepedulian dan rasa kemanusiaan (Z/002).

Baca Artikel Menarik Lainnya : Pratisentana Bandesa Manik Mas Tidak Wajib

Terpopuler

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

DPRD Buleleng Sepakat Tiga Ranperda Inisiatif Dilanjutkan Ke Tahap Pembahasan Berikutnya

DPRD Buleleng Sepakat Tiga Ranperda Inisiatif Dilanjutkan Ke Tahap Pembahasan Berikutnya

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Perang Eksplosif AS, Israel - Iran, Risikonya untuk Industri Pariwisata Bali

Perang Eksplosif AS, Israel - Iran, Risikonya untuk Industri Pariwisata Bali

Tutup Bulan Bahasa Bali VIII, Gubernur Koster :Tahun Depan Harus Lebih Kaya Materi, Kreatif dan Inovatif

Tutup Bulan Bahasa Bali VIII, Gubernur Koster :Tahun Depan Harus Lebih Kaya Materi, Kreatif dan Inovatif

Resmi Terbentuk, FAJI Buleleng Jajal Tukad Banyumala

Resmi Terbentuk, FAJI Buleleng Jajal Tukad Banyumala