Oleh Jro Gde Sudibya
Untuk Pura Titi Gonggang di Besakih, perlu diberikan catatan serius:
1. Lokasinya, berada di sebuah lembah, antara Pura Dalem Puri dan Pura Manik Mas, pada posisi lebih rendah dari Pura Delem Puri, apalagi Pura Manik Mas.
2. Kawasan Titi Gonggang berelasi dengan "sisi luar" Mrajapati, Tegal Penangsaran dan Setra Gandamayu, yang diyakini berelasi dengan dunia Neraka.
3. Titi Gonggang sering diidentikkan dengan "garis batas" dunia Neraka dengan lapisan alam rohani di atasnya. Masyarakat Bali sangat percaya ini, bisa kita simak setiap prosesi meajar-ajar, nyegara gunung, ring jejer kemiri Pura sawewengkon Basukian pasca upakara pitra jadnya. Tambahan catatan untuk butir 3.
Dalam perspektif sosiologi agama masyarakat Bali, Titi Gonggang, direlasikan dengan Titi Ogal - Agil dalam perjalanan roh manusia, yang "mampu" menembus batas keluar dari api neraka. Titik yang sangat penting dan bermakna bagi perjalanan Sang Rokh, terlebih-lebih bagi insan-insan manusia keturunannya yang masih berada di dunia yang fana ini, yang memegang prinsip teguh, arti penting Pitra Puja. Sedikit penjelasan, untuk pertanyaan yang sering muncul pada banyak krama Bali, yang mengulang kembali, bhakti meajar-ajarnya akibat lalai tidak melewati " garis batas " Titi Gonggang.
Titik Gonggang semacam "pintu" pembuka, untuk memasuki sistem integratif spiritual dari Jejer Kemiri Pura ring Sawewengkon Basukian.
Pura: Manik Mas, Pura Ulun Kulkul, Bangun Sakti, Rambut Sadhana, Goa Raja, wilayah Bencingag Agung, Basukian, Penataran Agung.
Dalam perspektif sejarah dan sosiologi agama, patut dicatat dan diketahui 4 pura dalam Rumpun Catur Lawa Pura: Ratu Dukuh, Penyarikan, Ratu Pasek, Ratu Pande
Dalam sistem keyakinan pemujaan Tuhan, Catur Pattha Pura Catur Loka Pala: 4 jalan menuju Tuhan, Pura Gelap di Timur, pemujaan Tuhan Iswara, Pura Kiduling Kreteg di Selatan, pemujaan Tuhan Brahma, Pura Ulun Kul-kul di Barat ( untuk penjelasan sederhanya ), pemujaan Tuhan Mahadewa dan Pura Batu Ngadeg di Utara, pemujaan Tuhan Wisnu.
4. Tetua Bali mengajarkan keturunannya, untuk selalu berkarma baik, sehingga di kemudian hari tidak menjadi penghuni permanen dunia Neraka, tempat-tempat di atas. Sehingga menjadi beban penderitaan diri dan juga keturunannya secara berkepanjangan.
5. Keyakinan dan kearifan kehidupan dari tetua Bali yang telah mentradisi, mewajibkan kita bersama-sama harus lebih hati-hati kalau " menyentuh " kosmoligi ruang Besakih dan kesuciannya.
Rahayu.
*) Jro Gde Sudibya, Sekrataris Yayasan Mpu Kuturan Dharma Budaya, Inisiator dan Penulis Epilog dalam buku: Baliku Tersayang, Baliku Malang, Potret Otokritik Pembangunan Bali Satu Dasa Warsa ( dasa warsa 90-an ).