Oleh I Gde Sudibya
Di medsos beredar berita, politisi senior dari PDIP yang menjadi anggota DPD dari daerah pemilihan Sumatra Utara, meninggal, Rabu, 29 September 2021, pukul 22.37 WIB di RS.Siloam, Karawaci, Tangerang, Banten yang sudah berumur 85 tahun.
Berpulangnya Bang Sabam, sebutan akrab untuk politisi senior ini, dapat mengingatkan penulis tugas bareng di PAH II, Panitia Adhock Dua Badan Pekerja MPR RI 1999 - 2004 di mana Pak Sabam menjadi salah satu Wakil Ketua.
Yang pantas dicatat, dikenang dan diikuti keteladannya, menyebut beberapa, pertama, politisi luwes,lentur dalam membangun negosiasi, tetapi berdiri kokoh bak batu karang kalau menyangkut ideologi kebangsaan. Kedua, politisi adalah panggilan kejiwaan, tempat mengabdi penuh buat negeri yang amat sangat dicintainya. Politik sebagai profesi, profesion, meminjam istilah Calvin, pelopor gerakan Protestan, dalam konsepsi Pre Destinasi: Tuhan sudah menentukan pada saat kita lahir, apakah akan masuk sorga atau neraka, tetapi kita tidak mengetahuinya apakah masuk sorga atau neraka, maka digunakanlah dunia ini, panggung memuja Tuhan, melalui bekerja.
Konsepsi Pre Destinasi, mirip dengan ulasan Karma Yoga yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi. Ketiga, meminjam ungkapan terkenal dari cendikiawan ternama Soedjatmoko, pemikiran adalah perpanjangan dari batin kita sendiri, sehingga ketika Pak Sabam ditunjuk sebagai Ketua Pansus RUU Otonomi Khusus Papua di DPR, menumpahkan seluruh energinya dengan tim, untuk memberikan solusi terbaik terhadap sejumlah "burning issue", istilah yang sering dipakai Pak Sabam, tentang: tuntutan untuk merdeka, keadilan dalam perspektif: ekonomi, hak sosial kultural dan pembagian sumber daya.
Selamat Jalan Pak Sabam, semoga bak kata pepatah: "mati satu, tumbuh seribu" di menyongsong era Indonesia Emas, 17 Agustus 2045.
Walaupun, landskap politik kita tidaklah begitu menggembirakan, kalau tidak mau dikatakan suram, meminjam istilah Buya Safei Maarif: surplus politisi, minus negarawan.
*) I Gde Sudibya, anggota MPR Utusan Daerah Bali, anggota PAH Dua Badan Pekerja MPR.RI 1999 - 2004.