Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
Satyam eva jayate.
Ada pesan yang dipahami oleh sebagian besar manusia di dunia. Bertemanlah dengan orang baik. Belajarlah dari guru yang mulia. Namun ada satu sisi dimana seseorang perlu juga belajar dari peristiwa yang buruk atau dari orang yang buruk karakternya. Baik dan buruk relative, karena baik dan buruk ada pengikutnya. Pangeran Gandara contohnya. Duryodana memiliki kawan yang lebih banyak daripada Pandawa. Sepertinya hal hal yang berbau buruk lebih banyak disukai saat ini. Ini zaman Kaliyuga.
Banyak prang berpendapat Pangeran Gandara Sakuni adalah tokoh utama Mahabharata dalam hal kecerdasan merami kelicikan. Buatlah kisah atau bagian kisah Mahabharata tanpa Sakuni, maka hasilnya hambar. Karena itu tokoh antagonis ini menjadi penting. Polisi belajar bagaimana penjahat melakukan aktivitas. Orang orang baik belajar kejahatan untuk melawan penjahat. Beberapa kisah misalnya: Calonarang-Ratna Ing Dirah ada Mpu Bahula, Kisah Rsi Suka yang berguru pada Mahaguru para Aditya Bhagawn Sukracharya untuk memperoleh Ilmu Amerthasanjiwani dengan cara memacari putrinya Dewiyani, Kisah Rahwana berguru kepada Kapiwara Subali untuk memperoleh Aji Pancasona dengan kelicikan dan lainnya.
Lalu dari Pangeran Sakuni dapat pelajaran Apa? Keteguhan dan kegigihan untuk terus menerus mengembangkan kelicikan untuk mencapai tujuan, yaitu tekad dan keteguhan.
Pakar muslihat terbaik pada saat itu dan sampai sekarang menginspirasi adalah Sakuni. Sosok Sakuni digambarkan seorang pemuda yang tampan dengan perawakan kecil dan pendek. Namun, Sakuni nampak menarik dan mengagumkan, dan hancur tubuhnya setelah dianiaya Senapati Hastinapura. Dan cintanya yang dalam kepada Dewi Kunti kandas akibat ketangkasan Pandu. Paduan kegagalan kegagalan itu, membuat ia menggunakan kekuatan kebencian, senjata lembut yang mematikan. Pangeran Sakuni memiliki sorot mata yang tajam namun memudar, sorot mata elang yang siap membakar apa saja, dengan kedip perlahan yang menandakan kelicikannya. Setiap kedipan matanya disertai senyum cibiran yang membuat orang muak dan muntah. Kedudukannya sebagai ipar raja dan adik permaisuri Hastinapura, menjadikan Sakuni penting dan berkuasa. Silat lidah dan permainan kata kata Pangeran Sakuni sangat manjur dan hanya tertandingi Sri Krishna. Karena itu lawan sejati Sri Krishna adalah Sakuni, menurut persepsi Sakuni.
Ia menggunakan tulang paha ayahnya, Raja Subala, sebagai dadu. Seolah dadu itu bermata dan mendengar, kemudian melentingkan dirinya untuk mencapai angka yang dikehendaki tuannya Sakuni. Ketika Sakuni menawarkan permainan dadu dengan Sri Krishna, cukup dijawab dengan senyuman. Bila kita mengetahui akhir dari sebuah gerakan seharusnya waspada.
Sakuni akhirnya gugur di tangan Pandawa, dengan pandangan mata menyesal, karena sesungguhnya Sakuni sangat menyangi putra putra pangeran kuru tersebut. Ia hanya ingin menghancurkan Hastinapura, musuh besar negaranya Gandara. Gandara memang tidak patut menjadi musuh Hastinapura, terlalu lemah. Namun harga diri yang melahirkan kebencian kadangkala melupakan kekuatan. Sakuni berhasil dan ia juga menjadi tumbalnya. Ambisi Sakuni hanya satu menghancurkan Hastinapura. Pernah suatu ketika Sakuni merenung:”sesungguhnya aku ingin hidup damai diantara kemenakan kemnakanku Kurawa dan Pandawa, anak anak dan kemenakan dari kakakku Gandari. Tetapi maaf aku harus membalaskan dendam keluargaku. Maafkan aku telah menghianati dirimu kakak”
Sejahat apapun seseorang selalu ada kebaikan di dalamnya. Ada rasa kemanusian dan kemuliaan (atmabhakti, atmaprema), karena seseorang yang jahat dihidupi oleh jiwatman yang sama (atmabhla), yang memiliki kemuliaan Tuhan (atmdhyana). Seperti pisau yang berkarat, ketajamannya dihalangi oleh karat.
Semoga riak riak kecil yang menghalangi langkah pembangunan kemartbatan Hindu seperti karat pada pisau, semakin dapat dikikis seperti mengasah pisau untuk menemukan kembali ketajamannya. Satyam Sivam Sundharam. Jaya Hindu Jaya Indonesia. (*)