Badung (Atnews) - Ketua DPD Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Bali I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha yang akrab dipanggil Gek Inda mengatakan, Desa Carangsari sejatinya sebagai pioner mengembangkan ekonomi hijau yang dirintis ayahnya I Gusti Ngurah Alit Yudha sejak awal tahun 1990-an.
Diawali dari membangun perusahaan True Bali Experience yang menawarkan jasa wisata Rafting, Cycling dan Elephant Ride.
Hal itu kemudian membuat Pemda Badung menetapkan desa Carangsari sebagai desa wisata Badung Utara seperti tertuang dalam Perbup No. 47 Tahun 2010. Berikutnya tumbuhlah industri pariwisata lainnya seperti Mega Rafting, Bahama, My Adventure Rafting, Angkasa dan Alam Tirta Outbound yang menawarkan rafting, paintball, outbound dan cycling.
Perusahaan tersebut dimiliki oleh orang luar Desa Carangsari, hanya True Bali Experience dan Alam Tirta Outbound yang dimiliki oleh warga lokal asli Desa Carangsari.
Desa Wisata Carangsari masuk sebagai jalur wisata bersepeda dalam program bike tour yang diselenggarakan oleh berbagai usaha jasa pariwisata.
Pada lomba pemilihan Jegeg-Bagus Bali 2015, Desa Wisata Carangsari dipilih sebagai lokasi dalam promosi pariwisata oleh Jegeg-Bagus Badung 2015 dengan menulusuri keindahan alam dan panoramik Desa Wisata Carangsari. Sebagai daerah pertanian, Badung Utara, khususnya Petang tidak hanya kaya dengan kebun kopinya.
Ada cokelat, dari pola budidaya sampai pengolahan menjadi produk kemasan coklat siap santap, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Wisatawan bisa belajar membuat serta menikmati cokelat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Desa Carangsari. Diolah hasil buah coklat asli Carangsari Petang yang berkualitas. Disini pengunjung boleh membuat ragam bentuk coklat dan boleh menjadi souvenir.
Dukungan Masyarakat setempat yang semula awam dengan dunia pariwisata, pada tahap selanjutnya dapat menerima. Terbukti banyak tenaga kerja yang terserap dan selama hampir 25 tahun sumber daya manusia di desa wisata Carangsari banyak memiliki pengetahuan disamping bertani.
Minimal kemampuan penguasaan bahasa asing dalam keseharian seperti bahasa Inggris. Termasuk keterampilan-keterampilan dalam pengelolaan daya tarik wisata, seperti topeng tugek, bokor koran dan lainnya.
Sehingga bisa menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maunpun mancanegara untuk berkunjung di Desa Wisata Carangsari.
Bahkan Desa Wisata Carangsari berhasil meriah penghargaan Juara 1 Desa Wisata Terbaik Kategori Konten Kreatif pada Malam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (7/12).
Prestasi itu dapat membanggakan tanah kelahiran Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, Kecamatan Petang Badung dan Provinsi Bali di tingkat nasional.
Perjuangan untuk meraih itu memang tidak mudah dari 75 ribu desa di seluruh Indonesia yang mendaftar mengikuti ADWI ada 1.831 desa.
Pada Acara Malam ADWI 2021 memberikan penghargaan untuk 7 (Tujuh) kategori penilaian bagi desa wisata, diantaranya CHSE, Desa Digital, Suvenir (Kuliner, Fesyen, Kriya), Daya Tarik Wisata (Alam, Budaya, Buatan), Konten Kreatif, Homestay, dan Toilet.
Hal itu disampaikan pada acara Dialog Peta Ekonomi Hijau yang mengusung tema "Indonesia Maju 2045" yang dipandu oleh Pande Dwi Sinar Meheni S.IP di Monumen Perjuangan Bangsal (MPB), Minggu (12/12).
Kegiatan itu diselenggarakan Media Online Atnews bersinergi dengan Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) dalam rangkaian Bangkitkan Ekonomi Bali yang mengusung tema "Sumbangsih Warga Untuk Negeri".
Sekaligus Sosialisasi Eco Enzyme dari Bali Tresna Sujati, Pameran UMKM, Eling Prana dan Pagelaran Seni Budaya.
Dengan menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana, SP, Ketua NCPI Bali Agus Maha Usada, Ketua KPRK AAA Ngurah Tini Rusmini Gorda SH MM MH dan Wakil Ketua I Bidang Akademik DR I Gede Putu Yasa.
Pada kesempatan itu hadir Ketua Stispol Wira Bhakti Denpasar Prof Dr Ir Wayan Windia SU yang juga Ketua Dewan Redaksi Atnews, Ketua Umum Monumen Perjuangan Bangsal (MPB), dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A(K), Ketua Harian MPB Bagus Ngurah Rai yang juga Pemred Atnews, Direktur Utama Atnews I Wayan Artaya.
Ia juga Owner Pod Chocolate mengajak seluruh komponen masyarakat agar fokus mewujudkan ekonomi hijau dengan aksi nyata "Less Talking More Action".
Gek Inda mengungkapkan, pengembangan Pod Chocolate menghadapi trial and eror hingga bisa menciptakan produk cokelat yang berkualitas dan berdaya saing.
Pod Chocolate menciptakan cara baru yang lebih baik dalam memproduksi coklat yang menjadikan bumi sebagai planet yang lebih sehat.
"Dengan sangat hati-hati kami menggabungkan bahan baku alami dengan resep otentik, menggunakan teknik produksi yang inovatif guna menghasilkan coklat lezat dan menggandung cita rasa lembut dari susu namun seluruhnya berbahan nabati," ujar Gek Inda yang juga Ketua Bali Enterpreneur Network (BEN) Bali.
Meskipun belum mampu menyatakan sebagai produk organik demi menjaga keberlanjutan produksi. Tetapi pihaknya komitmen menggunakan berbahan nabati cokelat plant-based.
Pod Chocolate merupakan pabrik cokelat pertama di dunia yang 100% plant-based, sehingga tidak ada risiko tercampur dengan kandungan susu hewani. "Produk kami cocok bagi yang vegetarian dan tidak bisa mengkonsumsi laktosa," ujarnya.
"Melalui peralihan dari susu hewani menjadi cokelat plant-based menunjukan dukungan nyata kami terhadap kesehatan manusia, perubahan iklim, sumber daya alam, dan kepedulian terhadap satwa," imbuhnya.
Dikatakan pula, bahan baku utama kedua Pod Chocolate selain kakao adalah gula. Tidak semua gula dibuat dengan cara yang sama. Kami menggunakan gula kelapa di semua produk dark chocolate (kecuali pada produk 99% yang tanpa gula).
Gula kelapa yang digunakan bukan berasal dari kelapa melainkan dari cairan khas bunga kelapa (nektar) yang kami kumpulkan, lalu dimasak, dan dibuat kristal. Dibuat oleh petani Indonesia secara tradisional sehingga menghasilkan gula dengan rasa sangat otentik dan alami. Tanpa bahan kimia, pengawet, atau zat aditif lainnya.
Selain itu, pihaknya juga menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan resep awal non-dairy milk dengan memanfaatkan bahan- bahan terpilih dan tehnik produksi yang inovatife untuk membuat non- dairy milk chocolate sama lezatnya dengan dairy milk chocolate namun seluruhnya berbahan nabati.
Ia pun menggunakan metode yang sama untuk memproduksi selai coklat. Selai coklat yang digemari sebagian besar masyarakat biasanya memiliki kandungan lebih dari 50% gula (gula pasir) dan berbasis susu hewani. Selai coklat kami mengandung lebih sedikit gula dan tanpa susu hewani.
Maka dari itu, mengkonsumsi plant-based adalah salah satu cara terbesar untuk mengurangi dampak negatif terhadap bumi.
Lebih sehat dan bersahabat dengan satwa. Lebih baik sebagian besar dari kita sesekali saja makan makanan nabati, daripada terus menerus makan makanan nabati tapi hanya sedikit orang yang melakukannya.
Mulailah dengan langkah kecil, dengan perubahan yang tidak terlalu ekstrim dan mudah dikelola. Misal dengan konsumsi plant-based sekali atau dua kali sepekan.
Diet plant-based telah terbukti secara signifikan mengurangi risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, dan beberapa penyakit kanker. Diet plant-based khususnya yang rendah lemak juga telah terbukti menyembuhkan penyakit jantung koroner dan diabetes tipe 2. Konsumsi makanan plant-based juga dapat menjaga berat badan secara berkesinambungan.
Mengingat industri daging dan susu memanfaatkan lebih dari 80% lahan pertanian dunia, namun hanya berkontribusi kurang dari 20% kalori yang dikonsumsi (Science Magazine).
Diperlukan 144 liter air untuk menghasilkan 1 liter susu. 93% dari air ini digunakan untuk menghasilkan pakan ternak seperti jagung dan kedelai. Seekor sapi perah menghasilkan 6 liter susu per hari, tapi menghabiskan pakan hingga 45kg dan menghasilkan sekitar 37kg limbah (FAO). Dan ada lebih dari 264 juta sapi perah di seluruh dunia.
Bahkan The Independent menyatakan “Perusahaan-perusahaan daging dan susu adalah kontributor terbesar di dunia untuk perubahan iklim, bahkan melampaui pengaruh dari industri bahan bakar fosil. Ketika disatukan, lima perusahaan daging dan susu teratas dunia menghasilkan emisi lebih banyak daripada ExxonMobil, Shell, atau BP."
Hal itu sejalan dengan program Peluncuran Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali oleh Presiden Joko Widodo.
Presiden pun telah mengingatkan agar pariwisata di Provinsi Bali harus bertransformasi dari mass tourism menjadi green tourism, yaitu pariwisata berbasis sosial, budaya, dan lingkungan yang sejalan dengan nilai-nilai dan filosofi kearifan lokal Bali yang dapat membangun harmoni dan memuliakan alam.
Ajang itu sebagai momentum mewujudkan ekonomi hijau menuju Indonesia Maju 2045 sebagai peringatan 100 tahun Indonesia merdeka.
Apalagi Bali menjadi tuan rumah KTT G20 yang akan diselenggarakan pada Oktober 2022. Tema yang akan diusung "Recover Together, Recover Stronger" atau Pulih Bersama, Pulih dan Menjadi Lebih Kuat.
Untuk itu, perubahan iklim merupakan isu penting yang perlu dibahas di dalam KTT G20 Summit mengenai bagaimana semua negara bisa menyelenggarakan komitmen sesuai dengan Paris Agreement. (z/001)