Oleh : Jro Gde Sudibya
Pandemi Covid-19 masih menghantui dunia, dengan menyebarnya varian baru virus yang dinamai Omicron.
Penyebarannya dimulai di Afrika Selatan, negara dengan tingkat vaksinasi sekitar 10 persen, menyebar ke banyak negara di dunia termasuk di kontinen Eropa. Diberitakan virus ini menyebar sangat cepat di Prancis dan Jerman, negara yang dikenal punya sistem pelayanan kesehatan yang prima. Jerman mengalami gelombang Ketiga pandemi, yang tidak kalah dashyat dari gelombang Kedua.
Diberitakan di media arus utama, salah satu penyebab dari penyebaran virus Omicron ini, karena tingkat vaksinasi di negara ini sekitar 50 persen. Konon, atas nama kebebasan warga menolak vaksin, dalam konteks Jerman, kebebasan yang harus dibayar mahal.
Tentang virus Omicron ini, para akhli termasuk yang ada di WHO belum memberikan informasi lengkap strain baru ini, tetapi tulisan yang dibuat oleh seorang pakar kesehatan di harian Kompas beberapa waktu lalu, sedikit memberikan indakasi berbasis hasil riset di sebuah negara Eropa, virus ini tingkat penularannya belasan kali lebih cepat dari varian Delta, tetapi risikonya terhadap paru-paru hanya 10 persen. Hanya diingatkan oleh penulisnya, walaupun risikonya terhadap kesehatan lebih rendah, tetapi kecepatan penularannya bisa membuat sistem RS.kewalahan, angka korban bisa tinggi bukan karena virus tetapi karena kormofid (penyakit bawaan).
Untuk kasus Indonesia, jumlah orang terpapar akibat Omicron sampai 2 Januari 2022 sekitar 280 kasus. Pantas dicermati, berita Jawa Post, 3 Januari 2022, warga Surabaya yang positif terkonfirmasi Omicron punya riwayat perjalanan dari Bali. Sudah sepantasnya masyarakat tidak mengendurkan dulu prokesnya.
Dari ulasan sederhana di atas, kasus yang menimpa Afrika Selatan dan juga Jerman, menjadi tampak arti penting vaksinasi dalam upaya bersama dalam menghadapi pandemi.
Pentingnya vaksin dan vaksinasi, menjadi menarik disimak liputan Majalah Tempo, edisi 27 Desember 2021 - 2 Januari 2022 bertema PARA PEMUTUS VIRUS yang menggambarkan kegigihan berbagai pihak dalam sebuah kerja besar nan mulya proses vaksinasi.
Menjadi sangat suprise, dalam gerakan global vaksinasi ini, seorang diaspora ( warga negara Indonesia yang belajar dan bekerja di seantaro dunia ) Carina Citra Dewi Joe, berperan besar, mengukir dengan "tinta emas" sejarah kemanusiaan.
Vaksin AstraZeneca yang ditemukan tim vaksin Oxford, bisa diproduksi secara massal dalam waktu relatif singkat, hasil temuan buah karya Carina . Carina, doktor bidang bioteknologi di Royal Melbourne Instute of Technology Australia ini , menemukan formula yang dalam laporan majalah Tempo: "dua sendok makan sel " pada 15 Januari 2020. "Formula ini memungkinkan produksi vaksin lebih banyak dengan menggunakan sel hanya sekitar 2 sendok makan". Warga negara Indonesia yang hebat ini, mampu memproduksi 1 milyar vaksin dalam waktu 100 hari. Prestasi yang sangat luar biasa, yang belum tentu mampu dilakukan oleh " raja " industri vaksin dunia. Yang lebih mencengangkan Carina dan tim penemu vaksin dari Oxford University, sepakat TIDAK MENGAMBIL ROYALTI DARI VAKSIN INI SELAMA PANDEMI.
Akibatnya, banyak negara mampu memproduksinya secara lebih cepat dan dalam skala besar. India contohnya.
Tempo melaporkan: "Menurut data Covid Vaccinations Trackers, vaksin AstraZeneca digunakan oleh 183 negara, termasuk Indonesia, dengan jumlah dosis mendekati 3,2 milyar.
Kedermawanan Carina, dapat mengingatkan kita akan keluhuran budi insan manusia, pentingnya pendidikan budi pekerti bagi insan-insan warga negara.
Pendidikan Budi Pekerti, dapat mengingatkan kita bersama akan laku keteladanan Ki Hajar Dewantara , Bapak Pendidikan Indonesia,tentang sejumlah nilai: kerendahan hati ( ojo dumeh, bhs.Jawa ), hidup begitu singkat semestinya bermakna ( urip, mampir ngombe ), menerima kehidupan dengan besar hati ( nrimo ing pandum ), memegang etika ( merasa bisa, tetapi tidak bisa merasa ), dan ajarannya yang terkenal: "Ing ngarso sung tuludo, ing madyo mangun karso, tut wuri.handayani" dan juga " melu handarbeni ".
*) Jro Gde Sudibya, pengamat sosial dan kecendrungan masa depan.