Oleh Jro Gde Sudibya
Bagi masyarakat bumi Nusantara yang punya kepercayaan dan keyakinan kuat, bahwa Puncak Gunung merupakan stana, tempat tinggal para roh dan juga Tuhan, maka setiap letusan gunung dimaknai dari 2 sisi: kejadian bencana alam dan tafsir sisi-sisi rohani dari peristiwa alam yang dimaksud.
Terlebih-lebih Gunung Semeru yang diyakini oleh masyarakat sekitar dan lingkup masyarakat yang lebih luas, sebagai pusat spiritualitas bumi Nusantara, dengan seluruh dimensi kehidupan yang menyertainya.
Bagi penekun jalan rohani, dan juga para pecinta alam pendaki gunung, pendakian ke Gunung Semeru dimulai setelah melewati Ranu Pane nan indah, melihat bentang alam dataran luas Semeru - Bromo dan langkah-langkah kaki berikutnya, memancarkan suasana alam yang lain, suasana spiritual yang keluar dari "bungkus" agama (beyond religion). Catatan harian aktivis muda angkatan 66 Soe Hok Gie, yang gugur dalam pendakian Semeru menjadi buktinya. Kalau banyak pendaki gunung yang begitu cerdas (beyond intelectual capacity), patut diduga karena spiritual vibrition yang diterimanya selama pendakian.
Dalam catatan harian Arief Budiman ( kakak kandung Soe Hok Gie ) pada saat menunggu jasad adiknya dalam proses evakuasi di pagi yang dingin dan diselimuti rasa kesepian di kaki Gunung Semeru, rasa kesepian karena dia dan adiknya Soe Hok Gie merasa ditinggalkan oleh rekan-rekan angkatan 66 yang bergabung dengan kekuasaan, supir pengangkut jenasah yang duduk di sampingnya, tanpa ditanya nyeletuk: Soe Hok Gie orang baik, idealisme perjuangannya tidak akan sia-sia. Ucapan spontan dari rakyat kecil yang tidak diketahui namanya ini, membuat Arief Budiman sejak pagi itu tidak lagi kesepian, dan spiritnya kembali bangkit menyongsong jenasah adik kandungnya.
Cerita kecil ini, barangkali sedikit memberikan penggambaran sisi spiritualitas kawasan Semeru.
Tindakan seseorang yang tidak bertanggung-jawab, bukan warga setempat, menendang sesajen warga lokal pendukung "budaya dan keyakinan" Semeru, telah menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak, mulai dari pernyataan keras Bupati Lumajang, tokoh-tokoh masyarakat setempat dan kalangan Kejawen yang sebelumnya bereaksi "adem" untuk kasus seperti ini.
Diberitakan, polisi telah mengambil tindakan dengan menahan tersangka pelakunya, untuk proses hukum lebih lanjut.
Peristiwa ini, di samping ada muatan kasus hukum, sudah semestinya dijadikan momentum untuk resolusi, resolusi menuju perdamaian, yang merupakan ciri dasariah penghuni bumi Nusantara.
Momentum resolusi perdamaian dengan beberapa pemikiran di bawah ini.
Pertama, merujuk ungkapan pepatah yang merupakan kearifan masyarakat: "dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung". Nusantara telah menghidupi kita lahir dan batin, sudah semestinya kita menghormati dan respek kepada seluruh keyakinan dan ekspresi budaya yang telah lama ada dan menafasinya. Sejarah panjang Nusantara membuktikan, kerjasama, dialog budaya dan pertemuan budaya, cultural encounter, yang saling menghargai merupakan kekuatan pengikat di bumi Nusantara yang kita cintai.
Kedua, merujuk pidato Ir.Soekarno di hadapan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ) tanggal 1 Juni 1945, yang mengatakan beragamalah secara berkeadaban, bagi pemeluk Hindu jangan meniru India dan ke India-indiaan, bagi pemeluk Islam jangan meniru Arab dan ke Arab-araban.
Secara implisit Soekarno menekankan kehidupan agama yang berkebudayaan. Di hari kemudian, Presiden Soekarno mencetuskan ajaran Tri Cakti: Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan.
Ketiga, ciri dasariah dari masyarakat penghuni bumi Nusantara, mengedepankan dan bahkan memulyakan budi pekerti, keluhuran budi pekerti yang mengekspresikan nilai-nilai: saling menghargai, kesantunan prilaku, tepo sliro, kerendahan hati ojo dumeh, sikap tenggang rasa, ngono yo ngono mung ojok ngono.
Keluhuran budi yang di sana-sini mengalami kemerotan, tantangan kita bersama untuk membangkitkan kembali, revitalisasi budaya.
*) Jro Gde Sudibya, pembelajar kebudayaan Nusantara.