Oleh Jro Gde Sudibya
Membuat patung tentang Soekarno, mengenang garis perjuangannya, tentu sah-sah saja sebagai seorang Proklamator dan Presiden RI yang pertama.
Hanya saja patut untuk diingatkan kepada semua pihak dan anak-anak bangsa negeri ini, hal- hal penting tentang garis hidup yang melandasi perjuangan Soekarno sejak muda belia sampai wafatnya.
(1) Soekarno seorang intelektual, cerdas dan bervisi ke depan. Tidak suka dikultuskan, didewakan, dikultuskan. Lihat saja dalam rangkaian tulisannya yang panjang, dengan berbagai isu tentang rakyat dan bangsanya sejak usia mudanya 20 tahun dan seterusnya di harian Suluh Indonesia di era tahun 1920-an.
(2) Kehidupan perjuangan begitu total untuk negeri, negeri yang sangat dicintainya, mewakafkan kehidupannya untuk negeri.
Banyak kegalauan kehidupan di masa awal perjuangan di tumpahkan ke istrinya yang tercinta Ibu Inggit Gunarsih di kota Bandung. Kota Bandung mencatat paling tidak empat hal tentang Soekarno: tempat dia sekolah teknik, kisah cintanya yang sangat bermakna dengan Inggit Gunarsih, penjara Sukamiskin, tempat beliau ditahan dan melahirkan pledoi/pembelaan yang terkenal dengan tema Indonesia Menggugat, dan konferensi antar negara gilang-gemilang, yang dikenal dengan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Garis kehidupan yang menggambarkan apa yang disebutnya sebagai "Our total dedication to our nation.".
(3) Idealisme Soekarno yang sangat rekevan, yang mesti diperjuangjan bersama terutama elite yang sedang berkuasa, Ajaran Tri Cakti Bung Karno: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi dan Berkebudayaan di Bidang Kebudayaan. Senjata pamungkas untuk mencapai cita-cita revolusi. Senjata pamungkas melalui aksi nyata yang berempati pada rakyat, tidak sebatas slogan kosong di "musim" kampanye.
*) Jro Gde Sudibya, pemikir kebangsaan.