Oleh Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.
Bapak Presiden marah-marah terkait ketersediaan pangan di Indonesia karena selama ini Indonesia masih impor beberapa komoditas pangan, padahal sumber daya alam di dalam negeri memiliki potensi yang snagat tinggi untuk menghasilkan komoditas pangan. Kemarahan Presiden sangat beralasan karena pangan meruapakan salaha satu komoditas strategis di negeri ini, yaitu sebagai kebutuhan dasar penduduk. Di Indonesia, pangan tidak semata-mata memiliki nilai strategis secara ekonomi, tetapi juga memiliki nilai strategis secara sosial-politik dan pertahanan dan keamanan.
Oleh karena itu, ketersediaan pangan di dalam negeri harus dapat dipenuhi guna menjamin stabilitas di dalam negeri. Selain program peningkatan produksi di dalam negeri melalui penerapan berbagai inovasi dna teknologi budidaya, diperlukan juga upaya yang semakin intensif di dalam penguatan dan peningkatan program diversifikasi pangan.
Pengembangan program diversifikasi pangan agar dilakukan secara massif di seluruh wilayah Indonesia mengingat kondisi geografis yang terdiri dari ribuan pulau memiliki kondisi agroklimat yang berbeda selain keanekaragaman sosial, ekonomi, kesuburan tanah, dan aspek lainnya.
Beragamnya kondisi tersebut dengan budaya masyarakat yang berbeda-beda dapat diharapkan terdapat penguatan pola makan yang bervariasi dengan produk-produk pangan yang khas di wilayah tertentu. Sebenarnya diversifikasi pangan bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia karena telah dicanangkan sejak lebih dari 40 tahun lalu.
Secara konsepsional, diversifikasi pangan adalah suatu usaha untuk mengajak masyarakat memberikan variasi terhadap makanan pokok yang dikonsumsi, agar tidak terfokus hanya pada satu jenis saja. Konsep ini hanya berlaku untuk makanan pokok saja. Diversifikasi pangan dapat dipandang sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat, yang mencakup aspek produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi. Ini berarti bahwa diversifikasi pangan memiliki tiga aspek yang saling terkait, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi pangan.
Tujuan pelaksanaan program diversifikasi pangan adalah untuk menggali dan meningkatkan produktivitas dan ketersediaan beberapa komoditas pangan guna mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan di masyarakat. Lebih lanjut, melalui program diversifikasi pangan mendorong masyarakat untuk bersedia secara perlahan mengurangi ketergantungan terhadap beras dan komoditas pangan lainnya yang diperoleh secara impor. Selain itu, ketersediaan berbagai komoditas pangan harus disertai dengan teknologi benih dan bibit unggul serta teknologi pengolahan untuk menghasilkan produk olahan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Kondisi ini sekaligus memberikan nilai tambah bagi produsen yaitu para petani dan juga pelaku pasar lainnya.
Pemerintah dan stakeholder lainnya perlu saling bersinergi untuk mendorong pengembangan dan pengujatan program diversifikasi pangan tersebut melalui beberapa program, seperti identifikasi dan inventarisasi lahan dan jenis komoditas pangan potensial, introduksi teknologi budidaya tanaman, pendampingan petani melalui kelompok-kelompok, menintegrasikan tanaman pangan dengan sub-sektor lainnya seperti ternak, penguatan kapasitas petani dan kelompok dalam membangun system kelembagaan pertanian yang efisien dan efektif, dan program lainnya. Melalui berbagai program tersebut, diharapkan pemerintah daerah Bersama-sama petani/kelompok petani dan pelaku rantai pasok pangan untuk semakin menggali dan mengembangkan potensi sumber pangan lokal. Di samping itu, pemerintah dapat mengajak masyarakat untuk mengubah mindset dalam konsumsinya, dimana beras/nasi tidak satu-satunya sumber karbohidrat, karena masih ada sumber karbohidrat lainnya yang berasal dari beberapa komoditas pangan lokal seperti singkong, ketela rambat, jagung, sukun, jagung, sagu. Komoditas tersebut memiliki gizi yang setara dengan kandungan dalam beras. Dalam jangka panjang, pengembangan program diversifikasi pangan dapat menurunkan ketergantungan terhadap beras dan pangan lainnya yang selalu diimpor dan bahkan mengurangi devisa negara.
*) Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., Rektor Dwijendra University, Ketua DPD HKTI Bali dan Ketua Perhepi Komda Denpasar.