Bangli (Atnews) - Anggota Komite II DPD RI Dr. Mangku Pastika memotivasi Pengerajin Tenun Ikat Giri Putri agar selalu berkarya di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 di Bangli, Sabtu (23/4).
Pada kunjungan itu, Mangku Pastika bersama rombongan pun memborong kain tenun ikat (endek Bali) hasil karya tenun ikat Giri Putri yang memiliki berbagai motif.
Apalagi Kain Endek Bali semakin populer yang menjadi bahan pilihan Christian Dior untuk koleksi Spring/Summer 2021 yang di peragakan dalam Paris Fashion Week.
Hal itu tentu membanggakan penenun sehingga mudah melakukan promosi agar masyarakat semakin gemar dan cinta menggunakan endek Bali.
Kebanggaan itu patut dimiliki setiap warga negara, khususnya masyarakat Bali yang cinta terhadap produk lokal.
Bahkan pihaknya memberikan apresiasi niat mulia kebijakan Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Wayan Koster Nomor 04 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali / Kain Tenun Tradisional Bali.
Demikian disampaikan Mangku Pastika ketika gelar Reses ke Pengerajin kain tenun ikat Giri Putri yang dipandu Tim Ahli Nyoman Wiratmaja didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Baskara. Sekligus memberikan bingkisan sembako.
Kain Endek digunakan sebagai pakaian adat atau banyak digunakan sebagai seragam sekolah dan kantor. Namun ada beberapa motif yang dianggap sakral yang hanya digunakan dalam acara keagamaan saja.
Ada pula motif yang hanya digunakan untuk orang-orang tertentu seperti para raja atau bangsawan.
Hingga kini, penggunaan kain endek telah digunakan dalam berbagai kepentingan, mulai dari menjadi bahan dasar pakaian formal, kerja, acara adat ataupun gaya fashion.
Kain endek Bali mengikuti perkembangan jaman dan kegunaannya dimodifikasi secara khusus untuk memadukan kesan traditional modern. Hasil modifikasi ini secara umum dibuat menjadi Kebaya Endek, Kemeja Endek dan Kebaya Adat.
Untuk itu, kreasi dan inovasi endek Bali akan terus dikembangkan agar diminati pemuda sesuai tren masa kini.
Pada kesempatan itu, Mangku Pastika pun mengungkapkan warisan pembuatan endek merupakan peninggalan dari Rsi Markandeya, pendiri Pura Agung Besakih.
Peranan Maha Rsi Markandeya yang pertama kali menanam Panca Datu dan merintis masa sejarah pada abad ke-9, salah satu tonggak sejarah dari perkembangan agama Hindu di Bali.
Masa kedatangan sebagai tonggak perkenalan masayarakat Bali dengan pengetahuan tentang keagamaan dan mulai terdapat peninggalan sejarah dalam bentuk tulisan di bumi dewata ini.
Rsi Markandeya pulalah yang memperkenalkan sistem irigasi (Subak), sistem bercocok tanam yang sampai saat ini masih dipertahankan sebagai salah satu keunikan budaya masyarakat Bali yang tidak dijumpai di daerah lain.
Dikatakan pula, menjelang akhir jabatan sebagai Gubernur Bali pihaknya mengujungi India Selatan bagian Odisha tempat asal endek Bali.
"Disana kita temukan percis seperti di Bali termasuk alat tenunnya," kata Mangku Pastika.
Odisha itu dikujungi sebagai bagian dari upaya napak tilas jejak leluhur masyarakat Bali yang telah mewariskan dasar kuat sejarah peradaban Hindu di Pulau Dewata dengan nilai-nilai mendem Panca Datu yang artinya menanam secara spiritual melalui pura terbesar di Bali, Pura Agung Besakih di Kabupaten Karangasem.
Bahkan pelesatarian endek disana dikembangkan oleh Utkal University dan National Institute of Fashion Technology (NIFT).
Menurut Mangku Pastika, Odisha diyakini sebagai tanah asal Rsi Markandeya, pendiri Pura Agung Besakih, yang hingga kini menjadi spirit bagi kehidupan masyarakat Hindu di Bali, khususnya warisan pembuatan endek dan sistem subak (pertanian).
Bahkan dalam menandai kebangkitan hubungan Bali dan Odisha, Mangku Pastika menghadiahkan Prasasti Padmasana Kalinga Bali untuk tempatkan di Maritime Museum Cuttack sebagai tempat ibadah.
Padmasana Kalinga Bali yang dihadiahkan kepada pemerintah Odisha bukan terbuat dari logam ataupun batu biasa, melainkan terbuat dari lava Gunung Agung Bali, yang meletus tahun 1963. Konon aliran lava Gunung Agung saat erupsi 1963 sama sekali tidak merusak kuil yang dibangun oleh Rsi Markandeya.
Ia juga menghadiahkan prasasti Padmasana kepada pemerintah Uttarakhand dan ditempatkan di Rishikesh.
Kedua prasasti tersebut menjadi simbol awal kebangkitan kembali hubungan panjang Bali dan Odisha.
Dalam mengenang orang Kalingga ke Bali, maka setiap tahun digelar Festival Bali Yatra berlangsung pada bulan Karthi, akhir Oktober atau menjelang November di sepanjang Sungai Mahanadi yang disakralkan di Odisha, bagian timur laut India.
Festival tersebut merupakan perayaam perjalanan menuju Bali. Biasanya selama festival, setiap harinya tidak kurang dari 80 ribu pengunjung dari berbagai kalangan memadati tempat penyelenggaraan Bali Yatra di Odisha, yang merupakan tempat asal para pelaut Oriya.
Pelaut Oriya merupakan bagian dari kelompok pelaut Sadhabas di Kerajaan Kalinga, yang pada masa lalu berlayar hingga ke Pulau Bali, Sumatera, Borneo, hingga ke Sri Lanka untuk ekspansi dagang, budaya, dan kepercayaan.
Festival Bali Yatra diselenggarakan untuk memperingati momen sejarah penting dan keberanian leluhur masyarakat Odisha pada masa itu.
Ada ritual menarik menjelang Festival Bali Yatra. Dalam ritual yang dilakukan saat Kartik Purnima atau bulan purnama mulai dari sekitar pukul 04.00 hingga terbit matahari tersebut, ribuan orang melepas perahu-perahu kertas dengan hiasan bunga dan lilin kecil ke Sungai Mahanadi dan sungai-sungai lain yang ada di seluruh wilayah Odisha.
Orang-orang silih berganti melepaskan perahu-perahu kertas mereka, yang membawa doa serta harapan kebajikan.
Hal itu yang menandakan hubungan kuat antara Bali dengan India dalam membangun peradaban manusia yang semakin baik menuju kehidupan jagadhita (bahagia) dan shanti (damai).
Sementara itu, Pengerajin Tenun Ikat Giri Putri Agung Anggreni merasa bangga bisa dikunjungi Mangku Pastika sebagai Anggota DPD Bali yang juga Mantan Gubernur Bali dua periode asal Buleleng.
Kehadirannya dapat memberikan semangat dan motivasi dalam melanjutkan pengembangan pelestarian budaya dan sebagai mata pencaharian.
Selama ini, tenun dijual secara offline dan online, termasuk aktif melalui pameran-pameran. Ada pula pesan secara khusus untuk keperluan seragam. Selain itu, pihaknya pun mengajar dan berbagi kepada SLB.
Agung Anggreni pun mengungkapkan, benang pembuatan endek masih didatangkan dari India dan pewarnanya baru dari Jepang.
"Bahan benang beli dari India, pewarna beli dari Jepang," pungkasnya. (GAB/ART/001)