Banner Bawah

Renungan Raina Anggarkasih Julungwangi, Ketulusan dalam Melakoni Kehidupan

Admin - atnews

2022-05-23
Bagikan :
Dokumentasi dari - Renungan Raina Anggarkasih Julungwangi, Ketulusan dalam Melakoni Kehidupan
Slider 1

Oleh Jro Gde Sudibya 

Hari Selasa, 24 Mei 2022, raina Anggarkasih Julungwangi, sasih Mala Jiestha, Icaka 1944. Pada masyarakat dengan tradisi keagaman Bali Mula yang kental, terwariskan dari kepemimpinan Cri Aji Jayapangus , dengan sastra keagamaan yang merujuk  hakekat inti dari "peninggalan" Ida Rsi Markandya, raina Anggarkasih Julungwangi di menjelang 15 hari  raina Galungan. Rainan Anggarkasih Julungwangi  fokus pada pemujaan leluhur, sebagai "bantalan" dalam memuja Ida Bhatara/Bhatari dan kemudian Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sistem pemujaan bertingkat, dimulai dari pemujaan pada para leluhur memberikan kesadaran kesejarahan pada umat, minimal kesadaran  kesejarahan dalam lingkup  keluarga untuk  mengambil hikmah, pelajaran dari perjalananan kehidupan  generasi terdahulu. Kesadaran kesejarahan yang semestinya memberikan perspektif yang lebih  luas dalam menafsirkan ruang, waktu dan dinamikanya. Konsepsi holistik tentang waktu dan pemaknaannya: Tri Semaya, Atitha (masa lalu, pengalaman/ kearifan masa lalu), Nagatha (menatap dan menciptakan masa depan), Warthamana (melalui tindakan nyata di hari-hari ini).

Renungan raina Anggarkasih Julungwangi hari ini, dapat mengingatkan kita akan sastra keagamaan yang telah mentradisi yang melekat dalam kehidupan krama Bali.
Menyebut salah satu dari sistem etik tsb: ketulusan dalam melokoni kehidupan.
Ketulusan dalam melakoni kehidupan dalam diksi kata yang kaya makna seperti: lascarya, laghawa, nuking tuwas.

Ketulusan dan dedikasi dalam melakoni kehidupan dengan pamrih yang rendah dan bahkan nyaris tanpa pamrih, dengan menjalankan secara penuh dharma dan swadharma kehidupan. Dharma kehidupan yang dijalankan dengan suka cita, karena inilah satu cara/instrument menuju pendakian rokhani. Kualitas prilaku seperti ini merupakan tulang punggung  bagi kekuatan iman/sradha dan kekuatan kebudayaan bagi masyarakat Bali.
Masyarakat menuju kebangkitan ke arah pencerahan jika sikap lascarya, laghawa menjadi arus utama dalam kehidupan sosial. Demikian juga sebaliknya, masyarakat menuju krisis, jika arus utama kehidupan ditandai oleh sikap yang sarat pamrih, hitungan untung rugi yang tajam dan bahkan prilaku yang melawan kepatutan, etika dan moral.

Hanya saja patut diberikan catatan bagian masyarakat yang memegang teguh dharmanya sedikit berbicara, bekerja dalam ke diaman. Sehingga mengukur kualitas keimanan dan daya tahan budaya masyarakat  hanya dari wacana, prilaku yang tampak di permukaan, sering menghasilkan kesimpulan yang keliru.

*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ).

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sambut Hari Pers Nasional, IMO-Indonesia Gelar Lomba Jurnalistik

Terpopuler

Perpustakaan Mahima Dibuka, Wabup Supriatna : Berharap Dapat Meningkatkan Literasi Generasi Muda Buleleng

Perpustakaan Mahima Dibuka, Wabup Supriatna : Berharap Dapat Meningkatkan Literasi Generasi Muda Buleleng

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Anggota DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana Dorong Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti di Buleleng Diusut Tuntas

Anggota DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana Dorong Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti di Buleleng Diusut Tuntas