Oleh Jro Gde Sudibya
Hari Selasa, 24 Mei 2022, raina Anggarkasih Julungwangi, sasih Mala Jiestha, Icaka 1944. Pada masyarakat dengan tradisi keagaman Bali Mula yang kental, terwariskan dari kepemimpinan Cri Aji Jayapangus , dengan sastra keagamaan yang merujuk hakekat inti dari "peninggalan" Ida Rsi Markandya, raina Anggarkasih Julungwangi di menjelang 15 hari raina Galungan. Rainan Anggarkasih Julungwangi fokus pada pemujaan leluhur, sebagai "bantalan" dalam memuja Ida Bhatara/Bhatari dan kemudian Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sistem pemujaan bertingkat, dimulai dari pemujaan pada para leluhur memberikan kesadaran kesejarahan pada umat, minimal kesadaran kesejarahan dalam lingkup keluarga untuk mengambil hikmah, pelajaran dari perjalananan kehidupan generasi terdahulu. Kesadaran kesejarahan yang semestinya memberikan perspektif yang lebih luas dalam menafsirkan ruang, waktu dan dinamikanya. Konsepsi holistik tentang waktu dan pemaknaannya: Tri Semaya, Atitha (masa lalu, pengalaman/ kearifan masa lalu), Nagatha (menatap dan menciptakan masa depan), Warthamana (melalui tindakan nyata di hari-hari ini).
Renungan raina Anggarkasih Julungwangi hari ini, dapat mengingatkan kita akan sastra keagamaan yang telah mentradisi yang melekat dalam kehidupan krama Bali.
Menyebut salah satu dari sistem etik tsb: ketulusan dalam melokoni kehidupan.
Ketulusan dalam melakoni kehidupan dalam diksi kata yang kaya makna seperti: lascarya, laghawa, nuking tuwas.
Ketulusan dan dedikasi dalam melakoni kehidupan dengan pamrih yang rendah dan bahkan nyaris tanpa pamrih, dengan menjalankan secara penuh dharma dan swadharma kehidupan. Dharma kehidupan yang dijalankan dengan suka cita, karena inilah satu cara/instrument menuju pendakian rokhani. Kualitas prilaku seperti ini merupakan tulang punggung bagi kekuatan iman/sradha dan kekuatan kebudayaan bagi masyarakat Bali.
Masyarakat menuju kebangkitan ke arah pencerahan jika sikap lascarya, laghawa menjadi arus utama dalam kehidupan sosial. Demikian juga sebaliknya, masyarakat menuju krisis, jika arus utama kehidupan ditandai oleh sikap yang sarat pamrih, hitungan untung rugi yang tajam dan bahkan prilaku yang melawan kepatutan, etika dan moral.
Hanya saja patut diberikan catatan bagian masyarakat yang memegang teguh dharmanya sedikit berbicara, bekerja dalam ke diaman. Sehingga mengukur kualitas keimanan dan daya tahan budaya masyarakat hanya dari wacana, prilaku yang tampak di permukaan, sering menghasilkan kesimpulan yang keliru.
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ).