Denpasar (Atnews) - Dialog Budaya Sanur yang mengangkat Kiprah Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung sebagai Pioner Budaya dan Pariwisata Bali di Denpasar, Selasa (25/5).
Acara itu dibuka oleh Managing Director Griya Santrian IB Gede Sidharta Putra bersama Ketua Kagama Bali I Gusti Ngurah Agung Diatmika. Dengan menghadirkan narasumber dari Budayawan yang juga Rektor ISI Denpasar Prof Wayan Kun Adnyana, Kepala Pusat Unggulan Pariwisata LPPM Unud AA Suryawan Wiranatha PhD serta Budayawan yang juga Alumni UGM dan Cornell University Putu Suasta.
Kegiatan itu sebagai rangkaian Santrian Group genap berusia setengah abad pada 1 Mei 2022. Usaha itu ada merupakan warisan usaha Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung untuk menghadirkan identitas Sanur dengan keindahan alam serta keluhuran tradisi dan budaya.
Teladan semasa hidupnya telah memberikan inspirasi terhadap pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Serta dapat membangun kehidupan yang mandiri sehingga mampu melanjutkan tradisi leluhur.
Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung tergolong perintis pariwisata di Bali yang dimulai dari Sanur, Denpasar.
"Kami selalu diingatkan. Jangan jadi tikus mati di Lumbung Padi," ujar Managing Director Griya Santrian IB Gede Sidharta Putra yang akrab dianggil Gusde.
Untuk itu, Gusde mengatakan dalam perayaan ulang tahun emas ini ingin mengenang dan membumikan kembali pemikiran pendiri Santrian Grup, Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung yang telah wafat setahun silam.
“Kami ingin menekankan kembali warisan dan spirit Ratu Peranda merintis usaha yang berkembang hingga kini. Ratu Peranda mendirikan Griya Santrian untuk jaga,” ujarnya.
Kiprahnya Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung akan difilmkan dan diplublikasikan melalui cloud service.
Sementara itu, Budayawan yang juga Alumni UGM dan Cornell University Putu Suasta menilai kiprahnya itu tidak terlepas dari pengaruh pergaulan ketika kuliah di UGM.
"Beliau banyak dipengaruhi tokoh-tokoh disana. Selalu kedepankan kesederhanaan dan rendah hati hingga menjadi seorang sulinggih," ujarnya.
Keberhasilan melakukan adaptasi telah dibuktikan dalam membangun pariwisata Sanur yang kini sudah dikenal dunia.
Keteladan itu yang kini patut dibumikan dan menjadi inspirasi masyarakat, khususnya dalam menjaga pariwisata dan budaya Bali yang luhur.
Nilai - nilai (value) yang diwariskan dapat menjadi teladan hingga 100 tahun lebih bagi generasi muda.
Sedangkan, Kepala Pusat Unggulan Pariwisata LPPM Unud AA Suryawan Wiranatha PhD menambahkan, Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung sudah berani ke luar Bali untuk sekolah dan kuliah pada masa itu.
"Berarti beliau memang merupakan sosok yang berani menghadapi kerasnya hidup di rantau pada jaman dulu yang masih sangat terbatas sarana transportasi dan komunikasi. Mungkin juga beliau sebagai salah satu pionir siswa perantauan dari Bali pada masanya," ungkapnya.
Keberanian dan kepioniran tersebut juga dilanjutkan dalam berusaha di bidang pariwisata. Pengelolaan usaha yang sukses berkembang menjadi salah satu pengusaha tersukses di Sanur.
Bahkan berhasil dan sukses memindahkan estafet bisnisnya kepada generasi penerusnya sehingga usaha rintisannya bisa ajeg dan berkembang di tangan generasi penerusnya.
"Leadership beliau juga menurun kpd putra-putra beliu yang saat ini berkiprah di organisasi masyarakat dan Kepariwisataan Bali," ujarnya.
Selain itu, Ketua Kagama Bali I Gusti Ngurah Agung Diatmika mengungkap, peranan Jogjakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam membentuk seorang Ida Peranda.
Yang mana Karakter alumni Universitas Gadjah Mada biasanya egaliter, open minded, sederhana, dan mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Karakter-karakter ini pula yang terpatri pada Ida Pedanda sehingga sangat bisa menerima kehadiran pariwisata di Sanur yang dengan karakternya khasnya: pariwisata kerakyatan, sebagaimana karakter UGM sebagai kampus kerakyatan.
Kerakyatan tersebut dapat diartikan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, serta kesederhanaan rakyat itu sendiri maka Universitas Gadjah Mada bisa besar dan berkembang karena rakyat, mendidik rakyat, dan menghasilkan lulusan-lulusan terbaik juga untuk kepentingan rakyat.
Ada ungkapan bahwa: "Setiap zaman ada figurnya, setiap figur ada zamannya". Apakah ungkapan ini berlaku untuk figur Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung (Walaka: Drs. Ida Bagus Tjetana Putra)?
Melampaui waktu, figur dengan karya kepeloporan dan bersistem yang berpeluang meraih keabadian karena jasa dan namanya terus dikenang.
Sebagaimana dicontohkan para Puruhita yang membangun fondasi kebudayaan Bali, generasi penerus kebudayaan Bali cenderung taken for granted, yaitu menganggap kebudayaan sebagai kata benda dan budaya Bali sudah bagus dan selesai.
Figur dan peran Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung memiliki signifikansi karena beliau dapat dengan jernih memposisikan kebudayaan sebagai kata kerja aktif, terus sadar ruang dan sadar waktu di tengah perubahan, dan bertindak sebagai subyek yang dengan percaya diri mengantisipasi perubahan, bahkan memberinya arah agar menjadi produktif dan memenuhi ideal-ideal yang dicita-citakan kebudayaan Bali.
Dan pihaknya simpulkan bersama bahwa pada masanya Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung sudah menebarkan serta menanamkan gagasan yang diimplementasikan yakni (1) Pergulatan dalam menemukan bentuk terbaik Pariwisata Budaya; (2) Community based tourism; (3) Sustainable & Quality tourism; (4) Sikap correct pada penunaian Swadharma & Sasana; (5) Orientasi pada nilai tambah, serta Kehati-hatian dalam Asset Management; (6) Etos Melayani dengan penghargaan kepada akar budaya dan kepercayaan diri; (7) Bio ethics, Biodiversity & Ethnobotanical concern ; (8) High thinking, plain living. (ART/001)