Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
Baru saja sebuah partai politik merayakan ulang tahun ke 50 dengan warna seragam merah dan dipadu hitam serta putih. Bukan acara itu yang membuat terkesima tetapi salah satu ucapan Ketua Umum yang menyebutkan kata “Satyan Eva Jayate” sebagai spirit dan semangat partainya.
Prasha ini juga digunakan oleh Angkatan Laut. Dalam tubuh Hindu, KMHDI menggunakan prasha Satyam Eva Jayate ini.
Apa sebenarnya makna rangkain kata ini atau prasha ini? Apa pustaka suci yang memuat prasha tersebut?
Dalam ajaran Veda, khususnya Bhagavad Gita menganjurkan setiap orang dapat menyebutkan satu sloka dengan tepat dan benar setiao hari. Akan tetapi kalau dalam keadaan tertentu, boleh juga setengah dari sloka tersebut dicahntingkan dengan hati yang tulus. Bahkan kalau benar-benar tidak mampu menghafal boleh hanya satu kata dari sloka tersebut.
Penyebutan Vasudeva Kuthumbhakam, Bhinneka Tunggal Ika, Aham Brahma Asmi dan Satyam Eva Jayate, secara tidak lengkap tetap diperbolehkan.
Namun bagi para pembina, tokoh Hindu, Rohaniwan, Ugatra, Pujari, Adyayur dan lainnya sangatlah penting untuk mengetahui secara utuh sloka atau mantra tersebut.
Prasha Satyam eva jayate ditemukan dalam salah satu dari 108 Upanisad utama, yaitu Mundaka Upanisad.
Mundaka Upanisad merupakan salah satu upanisad yang dipandang terpenting dari 108 upanisad yang dikenal. Mundaka Upanisad dalam bimbingan guru suci dapat mengantarkan para sisya untuk mencapai tingkat pengetahuan suci secara lebih cepat. Ia merupakan sumber kebajikan yang melimpah untuk membawa para penekun upanisad ini pada pemahaman Brahma Vidya.
Sebenarnya Munduka Upanisad khusus untuk para sanyasin, sebagaimana juga Sasrasamusccaya.
Melalui jalan pengetahun ini seseorang akan mencapai tangga Jnana—Brahmavid Brahmaiva Bhavati.
Sloka dari kutipan Satyam eva jayate, dapat dilihat pada kutipan Mundaka Upanisad 3.1.6, sebagai berikut:
Satyameva jayate nanrtam
Satyena pantha vitato evayanah
Yenakramantyrsayo hyaptakama
Yatra tat satyasya paramam nid-hanam
Artinya: "Hanya kebenaran yang selalu menang, bukan ketidakbenaran. Dari kebenaranlah jalan spiritual menyebar keluar, dengan nama para Maharesi yang keinginannya sepenuhnya terpenuhi, dapat mencapai tempat di mana harta karun tertinggi Kebenaran tersimpan."
Berdasarkan sloka tersebut, sebutan Satyam eva jayate, mungkin akan lebih tepat kalau penyebutannya: “Satyameva eva jayate nanrtam”, yang artinya: “Hanya kebenaran yang selalu menang, bukan ketidakbenaran”.
RENUNGAN:
Ajaran Hindu masih terasa oleh kelompok-kelompok non Hindu, sehingga tidak jarang kita temui orang-orang non Hindu menyebutnya demikian. Bahkan NKRI sendiri masih menggunakan kutipan-kutipan dari pustaka suci Hindu.
Hal ini hendaknya tidak membuat Umat Hindu menjadi bangga tetapi harus menjadi lebih bijak dan waspada. Karena fakta kehidupan menunjukkan, baik di Bali dan di luar Bali masih ada orang mempersolkan sarana-sarana pemujaaan Hindu, meskipun mereka tidak mengimani.
Situasi ini hendaknya menjadi spirit bagi umat Hindu untuk mendalami dan menggali serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dibutuhkan metode yang tepat untuk melakukan ini, terutama bagi generasi muda milenial Hindu, bahkan mungkin kita semua.
Semoga semua dalam keadaan sehat. Rahayu Rahayu Rahayu (*).