Karangasem (Atnews) - Ngusaba Dodol di Banjar Padang Tunggal, Desa Duda, Selat, Karangasem Bali merupakan tradisi tua yang diyakini sudah ada sejak jaman adat Bali atau kerajaan Bali. Tradisi unik yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam, hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Manakala saatnya tiba, Masyarakat Padang Tunggal, sudah mulai mempersiapkan sarana upakara dengan bahan pokok jajanan dodol tersebut seminggu sebelum upacara dilaksanakan.
Dodol khas Padang Tunggal sebagaimana disampaikan oleh kontributor Atnews, Made Gerianta, terbuat dari hasil panen petani masyarakat setempat seperti beras ketan, buah kelapa dan gula merah. Dua hari sebelum upacara atau dua hari sebelum hari H, ( pada Soma Paing Merakih), masyarakat juga serentak memotong babi serta membuat adonan lawar dan sate yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Tradisi ngusaba Dodol tersebut digelar setiap setahun sekali, yang biasanya jatuh pada bulan Februari, dan untuk tahun 2023 ini jatuh bertepatan dengan Buda Cemeng Merakih pada Sasih Kesanga (22/02/2023). Sementara tiga hari sebelum puncak karya, yang disebut dengan istilah "Ngesanga Desa", dilaksanakan upacara manusia Yadnya oleh seluruh Krama Desa setempat yakni natab Banten sesuai Urip Pancawara masing-masing orang; sementara di Pura Dalem dilaksanakan upacara Bhuta Yadnya, berupa "Pecaruan Eka Sata ditambah nasi/ ajengan Wongwongan". Sedangkan sehari menjelang hari H, dilaksanakan mareresik sekaligus membuat Penjor (mamenjor) untuk semua pura yang ada di wilayah Desa Padang Tunggal.
Selain membuat banten gebogan, yakni upakara dengan materi pokok dari buah-buahan yang ditata sedemikian rupa, dihias dengan reringgitan berbahan janur sehingga nampak indah, masyarakat juga membuat upakara yang namanya "Sokan".
Banten atau upakara Sokan ini adalah komponen yang dibuat khusus sebagai sarana upacara yang hanya dibuat saat Ngusaba Dodol yang berlangsung setiap tahun. Sokan sendiri merupakan sarana upacara yang dipersembahkan di Pura Dalem sebagai wujud bakti Umat Hindu setempat kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas anugrah yang telah diberikan. Dan yang menarik untuk dicatat, masyarakat Padang Tunggal sangat meyakini bahwasanya isi daripada banten Sokan tersebut harus tetap dilestarikan sesuai warisan leluhur. Jadi tidak boleh diubah ubah, apa yang diisi sejak awal Ngusaba, yang diterima secara turun-temurun oleh masing-masing keluarga, itu terus dilanjutkan pada upacara Usaba seterusnya dan tradisi ini tetap dipertahankan dan berjalan hingga sekarang
Wakil Bendesa Adat Padang Tunggal, Wayan Wartama ketika dihubungi Atnews (24/02) mengungkapkan, kalau sudah berstatus sebagai Krama Desa marep yang bulangkep wajib membuat banten Sokan. Manggala Pura Dalem Padang Tunggal ini lebih mempertegas lagi, bahwasanya Banten Sokan yang dibikin oleh setiap Krama Desa marep yang bulangkep harus sesuai dengan apa yang sudah diwariskan oleh orang tuanya atau leluhurnya secara turun temurun, untuk dihaturkan kepada Ida Betara Dalem. Mereka, kata Wayan Wartama, ada yang membuat dengan bahan buah Sarwa (serba-red): satu, serba tiga, serba lima, ataupun serba tujuh. Khusus untuk buah, menurutnya, harus menggunakan buah pisang kayu. Misalnya: kalau yang membuat banten Sokan serba tiga, isi sesaji yang ada dalam tempat tersebut: jaja uli 3, dodol 3, pisang kayunya juga tiga biji. Kalau yang membuat serba lima, Jaja uli 5, dodol juga lima, demikian juga jajan jajan lainnya harus serba lima juga; namun khusus untuk buah juga harus pisang kayu, ya serba lima biji juga. Dan demikian seterusnya, uniknya semua kaul dalam bilangan ganjil, yaitu: 1, 3 , 5 & 7.
Jika ada masyarakat yang "sauh atur" / masesangi ( berkaul-red ), mereka membuat sesaji sesuai kaul masing-masing orang berupa jajanan uli. Dan ini sudah ada takarannya, misalnya ada yang berkaul jajanan uli dengan ukuran/ takaran yang disebut catu. Jika diselaraskan, ukuran 3 ( tiga ) Catu, kira-kira, sama dengan 5 ( lima ) kilogram. Masyarakat yang berkaul menurut Wartama, biasanya menyebut besarannya dengan takaran catu. Ketan yang akan dipergunakan untuk jajan, kalau tidak 5, 10, 25, atau 50 Catu. Ketan itu diolah sedemikian rupa dicampur kelapa dan lainnya. Setelah menjadi jajan uli, lalu itu ditata sedemikian rupa, tetap memperhatikan keindahan dalam penampilan. "Takaran beras/ ketan bahan jaja uli, nenten dados lebih maupun kurang dari kaul yang diucapkan, jagi ngaturang punika sedurungne ngolem pemangku Pura Dalem sepisanan nunas surat papegatan, melarapan banten sesangi yang isinya tatapan pis bolong satakan ,sampian punggalan 11 tanding medaging pis bolong samsam, don tiba ,rikala mepenauran pacang kewacen ring jro mangku surat pepetan punika raris kesobek kedangin sane 11 tanding punika, sane mduwe sesangi ngemargiang ngider buwana 9 tanding, 1 tanding ke atas/ akasa, 1 tanding ke bawah ( pertiwi-red )", ujar Wakil Bendesa Adat Desa Padang Tunggal, Wayan Wartama. Sesaji Sokan ini dihaturkan bertepatan dengan puncak ngusaba Dodol. Ngusaba Dodol ini diawali dengan berbagai rangkaian ritual upacara lain.
"Usaba Dodol dimulai dari Usaba pitra Besakih, setelah nika wawu ngemargiang Pecaruan Godel lan Amanca ring Catus Pata miwah pecaruan abrumbunan ring wates Desa. Risampun usan ngemargiang pecaruan wawu krama Desa ngawitin mekarya sanganan/jaja Dodol, raris kelanturang makarya jaja uli sarana banten,"ucap Wartama. Prosesi ritual upacara pada puncak karya Ngusaba Dodol tahun 2023 ini, berakhir hingga sekitar pukul: 20.30 WITA, diakhiri dengan ngaturang Sokan lanjut penyineban. Sementara besok, bertepatan dengan Sabtu/ Sanuscara Paing Merakih ( 25/02/2023 ) diakhiri dengan ritual upacara pangelemekan. (Gery/ IBM ).