Denpasar (Atnews) - Pemerhati Sosial Politik Indonesia Putu Suasta yang merupakan Alumnus UGM dan Cornell University merasa terkejut dan sedih sekali mendengar kabar seorang sahabat lawas Prof Dr Ir Wayan Windia berpulang Sabtu (1/4/2023).
Prof Windia karena sakit di RSUP Prof. Dr. Ngoerah Sanglah,telah meninggalkan banyak kenangan dan sumbangsih pada negeri, khususnya Pulau Dewata.
"Saya sangat terkejut dan sedih sekali mendengar kabar beliau meninggal. Saya pagi-pagi telah ditelepon oleh adik beliau Made Suarjana dan Putu Suartama," kata Suasta kepada Atnews di Denpasar, Minggu (2/4).
Pertemuan terakhir nya dengan Profesor Wayan Windia adalah pada saat diadakan acara diskusi dan podcast di markasnya Agro Learning Center (ALC) di Penatih Denpasar tentang ketahanan pangan beberapa saat yang lalu.
Pada saat itu kelihatan sekali bahwa Prof Windia sudah kelihatan letih, kurang sehat dan jalannya sudah tertatih-tatih namun begitu dalam diskusi itu beliau semangatnya luar biasa berapi-api dan pikirannya sangat terang sekali. Bicaranya runtut dan sistematis.
Profesor Windia adalah seorang sahabat lawas di zaman bahula di zaman Jurassic, Dia adalah seorang yang cerdas sekali dan sangat kritis ,dan penuh pengalaman melihat berbagai persoalan pembangunan pertanian dan kesejahteraan petani.
Semua pikirannya bertumpu pada prinsip-prinsip kehidupan yang benar, linier dan baku. Perjuangannya sangat jelas sekali adalah memperjuangkan tentang demokratisasi, pluralisme dan kesejahteraan petani.
Sikap politiknya sangat terang sekali adalah tentang keutuhan NKRI dan Pro 4 pilar kebangsaan
Profesor Windia adalah pribadi yang sangat hangat ramah, rendah hati dan menyenangkan ,dia bergaul dengan banyak orang yang berbeda latar belakang, majemuk dari berbagai aliran politik dan profesi, sehingga kaya perspektif. Sebagai seorang penulis dan sebagai seorang wartawan tulisannya tersebar di berbagai media terutama tentang pertanian dan ketahanan pangan, sangat tajam sekali dan penuh-penuh analisa sarat data ilmiah dan analitis dan selalu beri solusi sehingga dengan gampang dan sangat mudah sekali untuk bisa dimengerti.
Dalam perjalanan hidupnya terakhir itu, Profesor Windia telah berangsur angsur melepaskan apa yang dia senangi melepaskan keluarganya yang dia cintai dan berpisah dengan para sahabat-sahabatnya, berpisah dengan semua relasi sosial kulturalnya yang ada di kehidupan ini. Dan sekarang yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan yang manis, dan semua karya karya dan legasi nya.
Musim berganti angin berhembus ke semua arah,Tunas silih berganti tumbuh, daun-daun tumbuh dari ranting pohon, bunga mekar dengan aroma wanginya semerbak menyebar di seluruh Taman Sari
"Kalo sudah sampai waktunya, bagaimanapun sempurnanya kehidupan manusia dan semua mahluk. Dibawah Bumi dan langit ini semuanya tidak akan kuasa melawan kehendak takdir. Jabatan setinggi langit, kaya miskin tua muda, semuanya akan berakhir digaris kematian," ujarnya.
Menurutnya, Di Bumi ini tidak ada yang abadi, Semuanya akan berlalu, semua mahluk akan pulang ke asalnya dengan membawa Karma dan takdirnya sendiri.
Kematian datang kapan saja di setiap waktu, disetiap kesempatan, tanpa menunggu aba aba, siap atau tidak siap.
Dalam Bhagawad Gita XIII.8 dinyatakan kehidupan tidak bisa lepas dari siklus kelahiran, kematian, penyakit, dan usia tua.
Setiap orang yang lahir pasti akhirnya meninggalkan dunia ini. Dalam Bhagawad Gita XIII.8 dinyatakan ada enam hal yang wajib kita renungkan setiap saat. Janma dan Mrtyu yaitu lahir dan mati. Jara dan Wiyadhi artinya tua dan sakit. Duhkha dan Dosa artinya pernah sedih dan pernah salah berdosa.
Demikian juga Canakya Niti IV. 1 menyatakan nasib manusia sudah ditetapkan saat masih dalam kandungan termasuk Nidahana atau kapan manusia itu mati. Lima hal itu ditetapkan oleh Tuhan berdasarkan karma-karma pada penjelmaan sebelumnya. Karena siapapun yang lahir ke dunia ini pasti akan mati. Karena itu tidak perlu berani mati atau takut mati, karena mati itu bukan urusan kita. Mati itu Tuhan yang menentukan.
"Selamat jalan Bli Windia, tidak ada kata dan kalimat yang cukup sempurna untuk menggambarkan sedihnya berakhirnya perjalanan waktu, kami semua sahabatmu mendoakan Semoga perjalananmu PULANG dilapangkan ke alam Sunialoka, alam Keabadian ini. Kami sahabatmu akan terus meneruskan perjuanganmu, mengenang dedikasimu, pengorbananmu yang tanpa batas di banyak kenangan yang penuh heroik di berbagai peristiwa dalam perjalanan kehidupan ini. Namaste," pungkasnya. (GAB/001)