Badung (Atnews) - Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika mengharapkan Taga Handycraft kembangkan kerajinan kayu dan bambu bisa dibangun di Buleleng.
Upaya itu agar industri kreatif Taga Handycraft lebih dekat dengan bahan bakunya dan pekerja kerajinan, khususnya daerah Sidatapa, Tigawasa maupun Pedawa.
Untuk itu, harga produksi bisa lebih murah dan pekerja kerajinan bisa lebih sejahtera karena tidak perlu biaya tambahan untuk bayar kos dan lainnya.
Disamping, memudahkan warga dalam melaksanakan ritual adat dan budaya. "Biasanya merantau ke Badung, Denpasar dan Gianyar, sering kendala untuk pulang kampung. Maka dari itu, jika usaha ini di bangun di Buleleng bisa masyarakat lebih sejahtera," kata Mangku Pastika di Badung, Kamis (27/4).
Hal itu disampaikan ketika reses mengunjungi Taga Handycraft bertemakan "Pemanfaatan Kayu dan Bambu sebagai Produk Krestif: Tantangan dan Solusi Pemasaran". Mangku Pastika didampingi Tim Ahli Nyoman Baskara dan Nyoman Wiratmaja.
Pada era digital dan globalisasi, pemasaran sudah bisa mendunia. Pemasaran bisa secara digital dan tokonya sudah ada di daerah Kerobokan Badung.
Kualitas produknya pun mendunia, kini Taga Handycraft sudah laris di Jepang dan Korea. Usaha yang dibangun sejak Tahun 2002 produksi untuk kebutuhan dapur dan dekorasi.
Produknya multifungsi, indah dan awet. Hal itu dalam mendukung produk-produk dari bahan ramah lingkungan.
Memang sasaran produk untuk kalangan yang peduli terhadap lingkungan. Salah hotel yang menggemari produknya yakni The Apurva Kempinski Bali. Hotel tersebut baru saja menjadi tuan rumah puncak G20 Tahun 2022.
Selain itu, pembangunan industri kreatif dinilai relevan di Buleleng, karena daerahnya minim memiliki obyek wisata. Berbeda dengan Bali Selatan maju akan sektor pariwisata.
Dengan demikian terus digenjot industri kreatifnya, apalagi bibit-bibit pengerajin sudah tumbuh subur di Buleleng, contohnya Sidatapa, Tigawasa maupun Pedawa.
Diharapkan pula, pengembangan SDM industri kreatif terus ditingkatkan melalui DAK APBD Bali. Dikarenakan anggaran DAK itu memang diperuntukkan untuk pemberdayaan SDM.
Untuk itu, potensi itu dioptimalkan dan disiapkan program. Akses pembiayaan dengan relasi, jaringan dan akses sangat memungkinkan diwujudkan.
Sementara itu, Owner Taga Made Putrawan mengharapkan membangun pusat handycraftnya di Buleleng dalam memudahkan datangkan bahan bakunya dan pengiriman ekspor.
Apabila ada penawaran lokasi di Buleleng, hal itu akan menjadi hal yang menggairahkan dalam mempercepat pembangunan desa di Buleleng.
"Saya lebih senang bangun pabriknya di desa, karena pengerajin tidak jauh merantau tapi masih bisa menyamabraya. Karena Bali identik adat dan budaya," ujarnya.
Jika ada perlu ngayah karena kematian dan lainnya. Pihaknya tidak mempermasalahkan, namun tetap dikerjakan pada hari lain atau dilembur. "Saya sudah diterapkan di Klungklung," ujarnya.
Terkait bambu, daerah Bali banyak memiliki bahan tersebut. Namun memang kendala ada SDM. Sementara kerjasama produk bahan bambu masih kerjasama dari Bandung.
Ia berkomitmen bangun usaha kreatif berkualitas dan tanah lama. Dengan spirit TaGa yang berarti Tanoshiku dan Ganbaru yang artinya enjoy dan berusaha.
"Bukan produk sekali pakai dibuang, kan ini pakai SDA. Produk ini juga mendukung pengurangan pengunaan plastik," pungkasnya. (GAB/ART/001)