Oleh: JMA Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, MTP
Om Swastyastu.
Om Awignam Astu Nama Siddham.
Nyepi dirayakan setiap tahun, pada pananggal apisan setiap bulan kesepuluh (sasih kedase), yang dikenal sebagai Tahun Baru Caka. Setiap perayaan selalu disertai dengan kebingaran dan pesta disertai bunyi-bunyian yang menyenangkan indria. Seperti perayaan Tahun Baru Masehi, atau perayaan apa saja. Perayaan Tahun Baru Caka, dikenal dengan Nyepi, karenanya disebut Hari Suci Nyepi. Mengapa? Karena saat itu Umat Hindu melakukan tapasya. Secara harfiah atau sempit arti tapasya adalah meditasi. Arti luas tapasya menyakut pengendalian diri, pengendalian keinginan, upawasa dan disiplin spiritual.
Meditasi adalah peristiwa manusia mengheningkan hati dan pikirannya (herdaya dan manah), untuk mencapai kesadaran. Bila meditasi ini disertai dengan tuntunan sesuai ajaran Hindu, peristiwa ini disebut Samadi, yang diawali dengan olah dhrana dan dhyana. Sayangnya, tidak setiap orang dapat melakukan samadi, cukuplah meditasi atau bahkan konsentrasi.
Bila seseorang telah mencapai umur 50 tahun, maka ia sudah bertemu dengan Hari Suci Nyepi sebanyak 50 kali. Seseorang baru mulai mengerti dengan baik ketika sudah berumur 17 tahun. Karenanya makna Nyepi baru ditemukan oleh setiap insan pada usia setelah 17 tahun itu. Sesuatu yang dilakukan secara terus menerus, melahirkan tradisi atau budaya. Karena Hari Suci Nyepi bernilai spiritual yang dilaksanakan setiap tahun, ia menjadi sebuah kebiasaan yang selanjutnya dibuatkan acara, yang disebut Dharma Santi. Dharma artinya kebenaran dan Santi artinya damai. Jadi Dharma Santi, adalah upaya umat Hindu untuk mencapai Kedamaian berdasarkan kebenaran.
Hiruk pikuk kehidupan, dengan berbagai aktivitas dengan keragaman tujuan, berhenti pada saat Nyepi. Berhenti total. Setiap orang mematikan ego di dalam dirinya dilambangkan dengan “Amati Geni”. Setiap orang harus melatih kedispilinan indrianya dengan upawasa (berpuasa) yang dilambangkan dengan “Amati Lelanguan” (tidak makan-tidak minum).
Setiap orang harus menenangkan dirinya dan mengendalikan keinginan, yang dilambangkan dengan “Amati Lelungan”. Inilah dipandang meditasi (bagai umat Hindu tepatnya samadi).
Keberhasilam samadi, ketika seseorang telah menemukan dirinya memiliki kesadaran atas kehidupan ini, yaitu harus ber-karma: melakukan perbuatan sesuai dengan swadharma masing-masing. Orang ini dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan sikap yang bijaksana dan arif. Orang ini bukanlah penyebab disharmoni di dalam kelompoknya atau masyarakat. Karenanya setelah Nyepi, setiap orang memiliki semangat hidup dan daya juang yang tinggi (Yogi). Setiap orang adalah solusi.
Pencapaian hidup seseorang dapat dilihat dari dua dimensi: sekala dan niskala. Dimensi sekala berkaitan dengan pencapaian hidup dalam dunia nyata yang dipengaruhi oleh triguna, keinginan untuk memenuhi panca indria. Dalam diemensi ini sesorang menengnal suka-duka, gembira-sedih, siang-malam, sakit-sehat, sukses-gagal dan lainnya yang dnilai secara kasat mata. Untuk mencapai ini perlu peran pemerintah dalam menyiapkan berbagai fasilitas dan modal untuk mencapau ketertiban dan keamanan, agar umat Hindu dapat berperan secara aktif dan positif. Ini disebut Dharma Negara.
Umat Hindu harus dan wajib mensukseskan program pemerintah termasuk Pesta Demokrasi Tahun 2024.
Harapan kita semua agar NKRI tetap eksis dan semakin maju. Kemajuan sebuah Negara tergantung pada penyelenggara Negara, penyelenggara pemerintahan dan rakyat. Umat Hindu dapat memfungsikan diri pada tiga peran ini.
Untuk memantapkan dharma Negara ini, umat Hindu mengenal mahawakya: “dharmasya hy apavargyasya” secara harfiah berarti “jangan menggunakan kekayaan untuk memuasi indria” atau “tidak boleh dilakukan untuk kepentingan materi”.
Bila pada pesta demokrasi Umat Hindu melanggar sesanti ini tujuan Dharma Negara tidak mudah untuk dihampiri. Karena terkait dengan dharma Negara sangat penting mempertimbangkan mahawakya yang juga menjadi landasan, yaitu: ”Dharmasya Moolam Arthah”, “kekayaan harus diperoleh dengan cara benar”. Kekayan menjadi kekuatan (karena diperoleh sesuai dharma).
Terkait dengan Tema ini dikaitkan dengan mahawakya tersebut, Umat Hindu wajib menolak money politic, politik identitas, black complain. Namun umat Hindu tidak boleh bersikap “a politic” sebagaimana ditulis dalam buku “The dark side of paradise : political violence in Bali” oleh Geoffry Robinson.
Hal tersebut baru dapat dicapai apabila Dharma Negara juga disertai dengan pelaksanaan Dharma Agama dengan baik, konsisten dan kontinyu serta sepenuh hati, atau timbal balik. Dharma agama mengantarkan umat Hindu untuk berprilaku beretika, bijaksana dan arif.
Memahami dengan baik Atma Prajna. Mempertimbangkan sesuatu dengan wiweka jnanam. Mempertimbangkan masa lalu (atita), masa kini (nagata) dan masa depan (wartamana) dalam betindak pada perta demokrasi tahun 2024.
Umat Hindu wajib, setelah melaksanakan Nyepi, yang mana hati dan pikirannya telah jernih menggunakan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara yang baik.
Kita semua berharap, sesuai dengan sesanti “NKRI harga mati”, hidup di negeri ini dalam situasi damai dan tentram. Karenanya sangat tergantung pada kecerdasan memilih pemimpin.
Om Santih Santih Santih Om.
*) JMA Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, MTP, Widyaiswara Ahli Utama