Denpasar (Atnews) - Film Jayaprana Layonsari yang disutradarai oleh Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma kembali ditayangkan yang kedua kalinya di Plaza Renon Denpasar, Senin (16/5).
Penayangan film perdana “Jayaprana Layonsari” diselenggarakan di Plaza Renon Denpasar, Rabu (26/4) dan disaksikan oleh Panitia Film Bali yang juga Ketua DPRD Provinsi Bali I Nyoman Adi Wiryatama didampingi istri Ny. Ningsih Wiryatama.
Hadir pula para Sutradara dan Artis film Jayaprana Layonsari, nampak juga Pantinia Film lainnya Dewa Jack Mahayadnya, Sekretaris Dewan Provinsi Bali, Kepala Dinas PUPR, Kepala Dinas Perhubungan dan Kalaksa BPBD Provinsi Bali.
Namun peyangan yang kedua hadir oleh Prof. Dr. I Made Bandem yang merupakan seorang penari, artis, penulis, dan pengajar asal Bali. Prof Bandem juga Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar sebagai Mantan Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta penerima Tanda Jasa/Penghargaan Pakar Bidang Seni Budaya (tahun 1990) serta Adhi Karya Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (tahun 1992.
Hadir pula Prof. Dr. Wayan Dibya salah seorang Guru Besar ISI Denpasar yang menerima anugerah penghargaan "Padma Shri Award 2021", Ketua Harian MPB Bagus Ngurah Rai, Direktur Utama Atnews Wayan Artaya, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan BASAbali Wiki I Gde Nala Antara.
Sutradara Putu Satria Kusuma mengatakan, penggarapan film tersebut dalam melestarikan cerita lokal Bali, legenda Jayaprana dan Layonsari di Celuk Terima.
I Nyoman Jayaprana, yang kemudian dipanggil Jayaprana, merupakan satu-satunya anak yang tersisa dari keluarga yang terkena wabah penyakit di Desa Kalianget.
Jayaprana merupakan anak yatim, menikah dengan Ni Layonsari atau Layonsari yang merupakan putri dari Jero Bendesa dari Banjar Sekar.
Cinta mereka begitu setia, film itu digaraf karena nilai-nilai yang masih relevan hingga saat ini. Selain untuk menyajikan kepada anak muda agar cerita moral lokal Bali mudah dipahami di tengah deras film-film Hollywood dan Drama Korea.
Sekaligus dalam rangka mendukung visi dan misi Gubernur Bali dalam mempertahankan dan memajukan budaya Bali khusunya dibidang cerita rakyat yang sudah turun temurun di Masyarakat Bali.
Dengan adanya Film Jayaprana Layonsari yang memakan waktu syuting selama 25 hari yang disutradarai oleh Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma yang diperankan oleh orang Bali semua ini, agar masyarakat Bali tidak lupa pada cerita rakyat di era baru seperti sekarang ini, terutama dikalangan remaja, khusunya para pelajar.
Sebelumnya, Ketua Panitia Film Adi Wiryatama mengungkapkan, Panitia Film Bali terbentuk dari orang-orang yang peduli dengan Kebudayaan Bali termasuk di dalamnya para seniman khususnya seni perfilman.
Ia mengatakan film Jayaprana dan Layonsari nantinya juga akan dipertontonkan di hadapan seluruh siswa SMA/SMK di Bali. Dan, selanjutnya akan dibuat lomba narasi film yang memberikan sejumlah hadiah menarik. “Kita harapkan cerita rakyat ini yang sudah turun temurun ada di Bali tidak punah dan bisa dihayati oleh anak muda ke depan,” tegasnya. (GAB/ART/001)