Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
“Sembah sujud kehadapan kaki padma Sumber Sejati. Sembah sujud kepada para Leluhur, Ida Bhatara lan Rsi Agung. Sujud dan mohon ampunan kepada Yang Mulia Maharsi Valmiki yang menyusun Ramayana”.
Ramayana saat ini ada 350-an versi, yang asli adalah yang disusun oleh Maharsi Valmiki. Maharsi Valmiki hidup pada Tretayuga dan masih dikisahkan pada Dwaparayuga (memimpin upacara Raja Suya untuk kemuliaan Yudistira).
Maharsi Valmiki sangat menjaga keaslian Ramayana sehingga pada abad ke 16, ia bereinkarnasi menjadi Sri Goswani Tulsi Das, yang menulis 34 keangungan Ramayana dan Hanuman Chalisa (40 sloka pemuliaan Hanuman).
Tulsi Das juga menulis Ramcharitmanas yang bersumber dari Ramayana. Ia menghabiskan hidupnya di Varanasi (tepian sungai gangga) dan Ayogya (tepian sungai Yamuna).
Tulsi Das juga membuat pura pemujaan untuk Hanuman yang dikenal dengan nama Shankatmochan Temple, yang artinya “solusi dari masalah” di Varanasi, Utthar Pharades di tepi sungai Assi.
Mungkin ada pertanyaan mengapa Tulsi Das membangun pura untuk pemujaan Hanuman dan bukan Sita-Rama? (jawabannya pada screen berikutnya). Tulsidas penganut Aguron-guron Smartha Vaisnawa, pemuja setia Sri Wisnu.
Hanuman adalah putra Dewi Anjani dengan Kapiwara Kesari, salah satu kerajaan kecil dalam wilayah Kiskenda di lereng pegunungan Himawan, salah satu lereng Himalaya yang indah.
Hanuman juga dikenal sebagai Anjaneya (putra Dewi Anjani), Banjrang (rahang bengkok), Marutsutha (putra dewa angin), Bayusutha (putra Dewa Bayu), dan lainnya. Hanuman adalah avatara Mahadewa (dari salah satu mudranya).
Kelahiran Hanuman sejaman dengan Sri Rama dan adik-adiknya: Bharata, Laksamana dan Satrugna. Ketika Dewi Anjani memuja Mahadewa untuk memperoleh putra terkuat, setia, pengandi dan tidak terkalahkan di dunia, Raja dasarata juga melakukan Putrakama Ahgnihotra Samskarayajna untuk memperoleh putra-putra yang baik (suputra).
Hanuman memiliki asthasiddhi (8 kesaktian gaib), yaitu: (1) anima, kemampuan untuk menjadi lebih kecil dari yang terkecil; (2) mahima, kemampuan untuk menjadi besar tanpa batas; (3) laghima, kemampuan untuk menjadi lebih ringan dari udara; (4) prapti, kemampuan untuk langsung bepergian ke mana pun sesuka hati; (5) prakamya, kemampuan untuk mencapai apa pun yang diinginkan seseorang; (6) isitva, kemampuan untuk menciptakan atau memusnahkan apa pun sesuka hati; (7) vasitva, kemampuan untuk mengendalikan unsur-unsur alam material; dan (8) kamavasayita, kemampuan untuk mengambil bentuk atau bentuk apa pun yang diinginkan.
Hanuman adalah seorang Ciranjivi, yang hidup abadi. Hidup abadi (ciranjivi) Hanuman adalah untuk menjaga orang-orang yang memuja Rama-Sita dan mempelajari Ramayana. Siapapun sedang mempelajari Ramayana atau menchantingkan mantra Rama-Sita, akan bebas dari bencana dan dalam radius 720 meter dari pusatnya, ia selamat dari berbagai gangguan yang hendak mencelakai.
Pada Ayodya Kanda 1.1.100 disebutkan hubungan Catur Warna dengan pahala memperlajari Ramayana. Siapapun membaca Ramayana memperoleh kesempurnaan.
Dalam ajaran Hindu, doa dan restu seorang ibu sangat penting untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian. Dewi Anjani telah memberikan contoh yang tepat, tekun melakukan pemujaan (bhakti) dan upavasa untuk memperoleh suputra. Ia memberikan Hanuman kuakitas ASI terbaik, bukan saja dari nutrisi tetapi juga berkah.
Diantara deretan putri dalam itihasa: Sita, Anjani, Kunti, Damayanti, dan Savitri adalah putri-putri yang memperoleh gelar “patibratha”. Suputra itu adalah Hanuman, seseorang yang sangat paham cara menghormati orang tua.
Dalam situasi sekarang, yang mana anak-anak, cucu-cucu kita sudah familiar dengan gadged dengan berbagai fitur, ibu yang “lupa” memberikan ASI kepada anak balitanya, pengasuhan oleh babbysister: apakah suputra dapat diwujudkan? Kita, harus bergerak ke arah membangun kualitas generasi yang lebih baik dan memenuhi harapan sesuai ajaran agama dan modernisasi. Namun bagi yang mempelajari Itihasa: Ramayana dan Mahabharata, akan menuju kebahagian. Pranam (*).