Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
Memperlajari Itihasa, Ramayana dan Mahabharata, sungguh menarik. Sebab semua ajaran Hindu ada di dalamnya, khususnya mengenai Karma dan punarbhawa.
Itihasa dapat dikatakan sebagai bhasya dari ajaran Veda dalam praktik kehdiupan. Dalam Rgveda disebutkan “Veda takut pada orang bodoh”. Karena itu kemudian dijelaskan bahwa untuk memahami dengan baik tentang ajaran Veda diawali dengan mempelajari Itihasa, kemudian 18 Mahapurana.
Kali ini menarik untuk didiskusikan tentang Karma dan punarbahwa terkait dengan Ramayana. Terkait dengan ajaran Karma dan Purnarbhawa, banyak kisah yang dapat disebutkan. Ketika perang antara Sri Rama dengan Rahwana, yang dikisahkan dalam Yudhakanda, Hanuman dan Rahwana sempat berhadapan dan saling serang dan saling ingin membunuh. Rahwana adalah pranam bhakta atau mahayani dari Dewa Siwa (Mahadewa) sedangkan Hanuman pranam bhakta dari Sri Rama.
Rahwana putra dari Rsi Wisrawa yang waskita dan ibunya Dewi Sukesi putri dari Raja Sumali yang bijaksana. Wisrawa mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan mengambil diksa menjadi seorang pandita.
Raja Sumali ingin membangkitkan kejayaan bangsa asura seperti Raja Hiranyakasipu sehingga ia mengawinkan putrinya dengan seorang Rsi dengan harapan akan memperoleh keturunan yang hebat.
Ambisi Raja Sumali berhasil, Rahwana menjadi Raja Alengka yang menguasai Triloka. Perpaduan antara karakter brahaman dari ayahnya dan karakter asura dari ibunya, membuat Rahwana hibrid yang sangat kuat.
Tidak layak membandingkan Rahwana dengan Hanuman, yang merupakan awatara mahadewa. Hanuman lahir dari pernikahan Dewi Anjani dan Kapiwara Kesari, masih kerabat Subali dan Sugriwa.
Hanuman memperoleh semua anugrah dari para dewata. Ia disebut juga Putra Anjani, Putra Pawan, Maruta, Banjrangbali dan lainnya.
Rahwana menyerang Hanuman dengan berbagai senjata. Mengherankan bagi Rahwana bahwa Hanuman tidak terluka dan jatuh tetapi malah dapat menyerang Rahwana.
Dalam sebuah serangan Hanuman memukul Rahwana dengan gadanya. Saking kuatnya pukulan itu, Rahwana pingsan. Ketika beberapa lama waktu berlalu Rahwana siuman dan berdiri. Rahwana heran dan terkejut melihat hanuman masih berdiri dan menunggunya. Rahwana yang sportif memuji kekuatan Hanuman.
“Anda begitu kuat dan baru pertama kali ada serangan yang dapat meratakan seorang parakriti seperti saya (parakriti=orang kuat). Anda sungguh mengangumkan”. Kata Rahwana sungguh-sungguh. Hanuman menjawab: “Kekuatan apa yang sedang Anda bicarakan. Baru pertamakali ini ada orang yang tidak mati menerima pukulan saya. Anda malah dapat bangun lagi dan memuji saya”.
Hanuman sungguh terkajut atas kekuatan Rahwana. Dalam keterkejutannya itu Jambawan (Raja Beruang) mendekati kedua prakriti tersebut, lalau berkata: “Bukan karena Anda lemah Hanuman. Rahwana masih hidup karena ajalnya bukan di tangan Anda, tetapi di tangan Paduka Sri Rama. Anda memilii kekuatan yang tiada tara dan tidak terbatas”.
Renungan: Ajaran karmaphala tidak bisa dipungkiri akan terus berjalan tidak pernah salah mencari jalannya. Di suatu hari, Dewi Wedawati memuja Sri Wisnu agar berkenan menjadi istriNya. Ia bertapa dengan sangat ketat dan tekun melaksanakan upawasa.
Rahwana melihat Dewi Wedawati dan terpesona melihat kecantikannya. Rahwana yang perkasa dan gagah terus menggoda dan merayu, namun Dewi Wedawati menolak. Lalu ia mencerburkan dirinya ke api unggun yang dibuatnya untuk menghahiri hidupnya.
Kemudian Dewi Wedawati bersumpah akan lahir menjadi Dewi Sita, dan menjadi s ebab kematian Rahwana. Bila sudah karma, tiada satupun dapat menghalangi terjadinya. Apapun yang dipikirkan seseorang bila diniatkan akan terbawa dalam kelahirannya yang akan datang. Dewi Wedawati lahir sebagai Dewi Sita permaisuri Sri Rama, yang membuat Rama harus membunuh Rahwana. Kisah ini juga mirip dengan Kematin Bhisma akibat sumpah Dewi Amba yang kelak akan lahir menjadi Dewi Srikandi.
Srikandi membunuh Bhisma dalam perang Kuru. Hidup bagaikan aliran air yang akan pasti sampai di laut, kalaupun ada halangan hanyalah kubangan kecil, bila kubangan ini terisi, air mengalir lagi menuju laut. Dalam hidup, tidak perlu terlalu serius, ikutilah aliran air. Rahayu (*)