Denpasar (Atnews) - Pasemetonan Mahasisya Hindu Dharma (PMHD) Universitas Warmadewa (Unwar) menggelar International Conference and Internasional Sloka Chanting Competition dengan tema Bridging Global Hindu Youth Leaders for a Resillience Future Civilization di Denpasar, Sabtu (1/7).
Acara itu dibuka oleh Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Propinsi Bali Dr. Drs. A.A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si. ditandai dengan pemukulan gong. Acara itu dihadiri Konsul Jendral (Konjen) India untuk Bali Neeharika Singh mengungkapkan potensi anak muda dan Director Swami Vivekananda Cultural Centre (SVCC) Bali Naveen Meghwal.
Dengan menghadirkan (1) Shri Rutvij Niranjan Holay dari Smaracaya Digital Library, USA, (2) Uthaiya Kumar dari Global Hindu Federation, Malaysia, (3) Nurkhotimah, M.A., Young Archeologist, Director of Sanka Arts, Indonesia, (4) Dr. I Made Suniastha Amertha, S.S., M. Par., CPOD dari Warmadewa University, Bali, Indonesia, (5) Matha Riswan, S.Pd.H., M. Psi., Chairman of Prajaniti Hindu Indonesia North Sumatera, dengan makalah Merawat Peradaban Sanatana Dharma di Ujung Barat Nusantara, (6) Dr. Ni Kadek Surpi Aryadharma, S.Pt., M. Fil.H., dari UHN IGB Sugriwa University, Bali, Indonesia membawakan makalah Building Hindu Leaders Trough the Teaching of Canakya Arthasastra, (7) Dr. Bibhu Prasad Swain, Founder – Chairman Kalinga International Youth Foundation, Odisha, India.
Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali Anak Agung Gede Oka Wisnumurti mengucapkan selamat datang di “International Conference & International Sloka Chanting Competition” yang mengusung tema “Brigding Global Hindu Youth Leaders for a Resilience Future Civilization”. Dikatakan, tema ini merupakan tema yang berbicara tentang pentingnya menghubungkan para pemimpin muda Hindu dari seluruh dunia untuk membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan untuk semua. Ketahanan mengacu pada kemampuan suatu sistem atau komunitas untuk bertahan dan beradaptasi dengan tantangan dan perubahan. Baik itu sosial, ekonomi, lingkungan, atau politik.
Wisnumurti, mengatakan bahwa komunitas Hindu adalah salah satu komunitas agama dan budaya tertua dan paling beragam di dunia, dengan sejarah dan tradisi yang kaya selama ribuan tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pengakuan akan pentingnya melibatkan kaum muda Hindu dalam proses membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi diri mereka sendiri dan bagi dunia. Dengan menjembatani para pemimpin pemuda Hindu global, tema ini berupaya menciptakan platform bagi pemuda Hindu dari berbagai belahan dunia untuk bertukar ide, berbagi pengalaman, dan berkolaborasi dalam inisiatif yang mempromosikan ketahanan dan keberlanjutan. Ini dapat mencakup inisiatif terkait pemberdayaan pemuda melalui nilai-nilai lokal dan dialog antaragama.
Sehingga, melalui proses ini para pemimpin muda Hindu tidak hanya dapat belajar dari satu sama lain, tetapi juga membangun jaringan dan kemitraan yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan dan peluang masa depan dengan lebih baik. Dengan bekerja bersama, mereka dapat berkontribusi pada penciptaan peradaban yang lebih tangguh dan berkelanjutan, yang didasarkan pada prinsip-prinsip Hinduisme dan yang mencerminkan nilai dan aspirasi kaum muda di seluruh dunia.
Khusus kepada PMHD Unwar, Wisnumurti, berharap spirit Sapta Bayu dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan bertaraf internasional. Apalagi, spirit Sapta Bayu sangat relevan untuk dilakukan. Sebab, Sapta Bayu mengandung makna act locally, think globally. Yaitu, tetap bersandar pada kearifan lokal (adat, tradisi, dah budaya lokal Bali), namun dari segi pemikiran mampu mengembangkan diri secara global.
Ketua Umum PMHD Unwar Wayan Sudana mengharapkan terlahirnya pemimpin muda Hindu yang berbagai budaya baik ada di Bali, Nusantara dan dunia.
Pemuda Hindu bisa memperkuat budaya dan tradisi serta menambah wawasan Hindu (Sanatana Dharma). Hal itu bisa jadi pondasi sehingga lahir sebagai pemimpin yang lebih baik.
Internasional Sloka Chanting Competition juga diberikan agar mengenal berbagai model pelafan sloka dari berbagai daerah.
Sementara itu, Smaracaya Digital Library, USA Shri Rutvij Niranjan Holay mengajak generasi muda lebih menguasai Bahasa Sanskerta maupun lontar-lontar yang diwarisi.
Upaya itu agar anak muda bisa memahami Hindu lebih baik. Diharapkan pula adanya digitalisasi lontar-lontar agar bisa mudah diakses publik.
Hal itu agar bisa mendorong ada karya-karya yang produktif dan berkelanjutan. Mengingat pengetahuan Hindu atau Veda begitu luas yang mencangkup seluruh kehidupan.
Pada kesempatan itu, Nurkhotimah, M.A., Young Archeologist, Director of Sanka Arts, Indonesia memperkenalkan keberadaan Candi Prambanan.
Diyakini ada hubungan Candi Prambanan dengan Pemerintahan Shri Kesari Warmadewa adalah pendiri Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa yang pernah berkuasa di Pulau Bali, Indonesia dari tahun 882 M sampai dengan 914 M.
Dimana Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Indonesia, diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu.
Hal itu berdasatkan Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti berangka tahun 778 Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.
Untuk itu, diharapkan ada garapan khusus yang mengagungkan kebesaran Shri Kesari Warmadewa. Garapan itu bisa dipentaskan ketika Dies Natalis Unwar.
Sedangkn Matha Riswan menempuh S-3 Ilmu Agama Dan Kebudayaan Di UNHI Denpasar Bali mengatakan, Agama Hindu bagi banyak masyarakat juga dikenal dengan nama Sanatana Dharma (kebenaran yang abadi).
Ajaran kebenaran yang telah ada ribuan tahun yang lalu ini banyak mengandung ilmu pengetahuan, baik pengetahuan tentang materi hingga pengetahuan tentang rohani. Ajaran ini juga mempunyai pandangan yang luas akan hukum dan aturan moralitas sehari-hari yang berdasar pada karma, dharma, dan norma kemasyarakatan.
"Oleh karena itu, ajaran agama Hindu dikenal sebagai ajaran pengetahuan yang sangat lengkap," ujarnya.
Selain mengajarkan banyak hal, agama Hindu memiliki banyak kitab suci, baik Sruti maupun Smriti (smerti). Weda adalah salah saat kitab suci umat Hindu yang merupakan kumpulan wahyu dari Tuhan.
Pada awal turunnya wahyu, Weda diajarkan dengan sistem lisan dari mulut ke mulut. Weda juga diyakini sebagai sastra tertua dalam peradaban manusia yang masih ada hingga saat ini.
Tujuan agama Hindu adalah mencapai kebahagian rohani dan kesejahteraan jasmani. Dalam Weda, hal ini disebut Mokshartham Jagathitaya Ca Iti Dharma. Untuk mencapai hal tersebut, agama Hindu menjabarkan menjadi tiga kerangka dasar. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa (Filsafat), Susila (Etika), dan Upacara (Yadnya).
Sejak lama penyiaran agama Hindu dilakukan secara sentral di kuil, dan hal ini berlangsung sejak puluhan tahun, diperkuat dengan berbagai ritual upacara keagamaan.
Sejak 10 tahun belakangan, perkembangan digitalisasi demikian pesat, sehingga membuat kuil sebagai tempat konvensional tidak lagi menjadi tempat penyiaran agama (Dharma Wacana dan Dharma Tula).
Kegiatan penyiaran Hindu bergeser ke arah digitalisasi melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, dan lainnya.
Menurutnya, anak muda menjadi kelompok yang mendominasi secara jumlah dalam umat Hindu di indonesia, bahkan ditahun 2045 perbandingannya bisa mencapai 60:40
Hal ini membuat media sosial menjadi sarana penting untuk menyiarkan agama hindu, demi menjaga iman dan taqwa kalangan muda umat Hindu, yang terus menjadi sasaran agama lain (Islam dan Kristen) untuk keluar dari Hindu.
Umat hindu di sumatera paling heterogen. Terdiri dari Hindu Karo, Hindu Batak (Parmalim), Hindu India, Hindu Bali, yang semuanya memiliki adat dan budaya keagamaan yang berbeda.
Bagi kalangan senior, hal ini adalah sebuah kekayaan yang membanggakan, namun bagi kalangan muda yang miskin dengan literatur, berbedaan ini justru menjadi hal yang membuat mereka malu dengan agama Islam dan Kristen yang seragam dimanapun berada.
Hal itu yang menjadi tantangan kami para anak-anak muda yang menjadi pemimpin organisasi Hindu dan umat Hindu di Sumatera, untuk memberikan pengertian dengan cara yang mudah dipahami (kasih contoh buku kau). Karena persoalan milenial tentu butuh penyelesaian dengan cara milenial, persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan pemahaman orang tua dulu yang cukup menjelaskan bahwa ke-heterogenan ini sudah ada dari dulu.
Anak-anak muda butuh tahu sumber, mengapa, sebabnya apa, asal mula nya bagaimana, dan ini semua harus dijelaskan secara logika yang dapat diterima.
Ia Jug memperkenalkan kedatangan etnik Tamil ke Medan dilatarbelakangi oleh keberhasilan pedagang Belanda J. Nienhuys, Van der Falk, dan Elliot memperoleh hak konsesi tanah dari Sultan Deli, Sultan Mahmud Perkasa Alam untuk menanam tembakau kualitas tinggi.
Perluasan perkebunan tembakau oleh para pebisnis Belanda menyebabkan kebutuhan akan tenaga kerja atau kuli semakin meningkat. Tenaga kerja didatangkan dari berbagai bangsa termasuk etnik Tamil.
Namun berdasarkan penemuan arkeologi yang dilakukan oleh Daniel Perret dari Ecole Francaise d Extreme-Orient (EFEO) membuktikan pada abad ke 8 sampai ke 12 di Lobu Tua, Barus telah terdapat perkampungan multi etnik terdiri dari etnik Tamil, Cina,Arab dan sebagainya.
Dalam situs Lobu Tua juga ditemukan prasasti dengan tulisan Tamil oleh pejabat Belanda GJJ Deatz tahun 1872. setelah diterjemahkan oleh Prof. Dr. KA Nilakanda dari Universitas Madras India pada tahun 1931. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang etnik Tamil sebanyak 1500 orang di Lobu Tua. Prasasti Lobu Tua itu berisi tentang aktivitas perdagangan kumpulan Tamil yang dikenal dengan nama “Mupakat Dewa 1500”. Anggotanya terdiri dari berbagai aliran Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain.
Disamping itu, Surpi Aryadharma menjelaskan, anak-anak muda menjadi Kṣatriya. Kṣatriya adalah golongan kedua dalam konsep catur varṇa.
Pada Kūrma Purāṇa menyebutkan bahwa mereka diciptakan dari tangan Brahma (simbol Tuhan yang digambarkan sebagai Manusia Kosmis atau Purusa). Kṣatriya identik dengan korps penegak hukum dan kebenaran.
Dalam Yudha Kanda api svarṇamayī laṅkā na me lakṣmaṇa rocate | jananī janmabhūmiśca svargādapi garīyasī ||. “Bahkan Lanka, yang dihiasi dengan semua emasnya, tidak disukai dirinya sendiri. Untuk saya; Ibu Pertiwi dan Ibu Pertiwi bahkan lebih besar dari Surga”.
"The duties of the kṣatriya are dāna (doing charity), adhyayana (learning), and performing yajña (holy sacrifice). However, their main duty is to protect the civilization and state, to punish the wicked, and to protect the good. Kṣatriyas have a very important duty in building prosperity and protecting the country," ujarnya.
Ajaran tentang Kṣatriya telah banyak dimuat dalam Arthaśāstra, Ramayana, Mahabharata, Bhagavad Gita. Begitu juga Suniastha Amertha membahas kepemimpinan Asta Brata. Termasuk Pengurus NCPI Bali Jero Jemiwi agar anak muda terus semangat belajar sehingga bersaing secara nasional dan global.
Sementara Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali Bidang Agama dan Lintas Iman Agung Sudarsa, SE, SH, MH memberikan apresiasi, karena di tangan anak mudalah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Apalagi awak kepanitiaan didominasi oleh para perempuan tangguh yang dalam Hindu dikenal dengan istilah Shakti.
Kedua, untuk menjadi seorang kshatria dalam arti sesungguhnya atau seorang leader/pemimpin, mutlak dibutuhkan multi discipline competence dan holistic personal development. Ini tidak bisa dilakukan dalam satu malam namun melalui sebuah proses panjang dan perjuangan tiada henti. Peran seorang mentor atau Guru sangatlah penting dan mutlak dibutuhkan sebagaimana seorang Chandragupta Maurya memiliki sosok Chanakya. Begitu juga dengan Arjuna memiliki mentor seperti Krishna.
Bahkan seorang Rama memiliki Guru yakni Vasista. Begitu juga Krishna tak terlepas dari hubungan dengan seorang Guru seperti Garga Murni dan Sandipani.
Ketiga, untuk meraih ketangguhan peradaban di masa depan, sebuah networking dan sinergi Hindu Lokal, Hindu Nasional dan Hindu Global harus dijalin, dengan melupakan perbedaan yang tidak prinsip dan penting. Hindu sangat mengapresiasi perbedaan, dan itulah esensi Hindu, menyadari kebhinekaan sebagai sebuah keniscayaan namun melihat kesatuan di balik perbedaan, Bhinneka Tuggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. (GAB/ART/001)