Denpasar (Atnews) - Puri Agung Pemecutan sebagai Pusat Kebudayaan menyelenggarakan acara Peluncuran dan Bedah Dua Buku yaitu Sejarah Pura Tambang Badung dan Badung dalam Sejarah.
Peluncuran dan Bedah Buku bertempat di Gedong Puri Agung Pamecutan Denpasar, Minggu(16/7).
Acara dihadiri sekitar 100 orang yang terdiri dari Penglingsir Puri Agung Pemecutan, dan dari Puri Puri Sejebag Gumi Badung, baik dari Kemoncolan mauupun pesemetonan, seperti dari Puri Pegandan Alangkajeng, Puri Tegal dan Padangsambian Lanang Dawan, Puri Peguyangan, Puri Taensiat, Puri Lanang Crancam, Puri Tanjungsari, Puri Jambe Celagi Gendong, Puri Intaran Sanur, Puri Penyobekan, Puri Kecehe, Puri Ungasan, dan banyak lagi lainnya, kemudian Puri Agung Gelogor serta para Pemangku Pura Tambang serta undangan wakil dadia maupun perorangan lainnya.
Disamping itu hadir pula tokoh Puri dari luar Bali seperti Kanjeng Prabu Punta Jayanegara dari Kraton Amerta Bumi Kerajaan Surakarta dan Kanjeng Yustin dari Kerajaan Sumenep Madura.
Penulis buku Badung dalam Sejarah;yaitu Anak Agung Ngurah Putra Darmanuraga, I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, I Gusti Ngurah Maruta, Anak Agung Ngurah Agung dan Anak Agung Ngurah Adiputra, sedangkan penulis buku Sejarah Pura Tambang Badung adalah AA Ngurah Putra Darmanuraga dan Prof I Gusti Putu Palgunadi (Alm).
Kedua buku itu sangat bermakna, karena pertama membahas perihal hitoris pusat Perhyangan Kerajaan Badung (Bandhanaraja) dan yang kedua membahas tentang historis kerjaan Badung dan perkembangannya., dimana kedua buku ini diharapkan menjadi referensi utama untuk memasuki khazanah kisah Kerajaan Badung.
Adapun tujuan utama dari acara ini adalah mewujudkan kesatuan pandangan, pemikiran dan pemahaman di antara semeton Agung dan Ageng puri-puri sejebag bumi Badung tentang jati diri dan keberadaan serta ragam sumbangan karya bagi kehidupan masyarakat selama ini.
Satu catatan penting, pembahasan sejarah berbeda dengan pembahasan babad, karena sejarah adalah cabang disiplin ilmu yang berkembang dalam koridor ilmiah, sedangkan babad adalah produk literasi tradisi yang megandung kisah sejarah, biasanya mengabaikan faktor waktu dari peristiwa.
Demikian beberapa poin penting disampaikan oleh Anak Agung Ngurah Putra Darmanuraga didampingi I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, Anak Agung Ngurah Adiputra, dan I Gusti Ngurah Maruta.
“Kedua buku itu merupakan pengembangan dari buku yang judulnya sama yang pernah ada sebelumnya. Ini hanya merupakan proses penyempurnaan perlengkapan dari buku yang pernah ada sebelumnya," ujar I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa.
Ditegaskan pula bahwa tujuan utama acara ini adalah upaya untuk menyamakan dan menyatukan cara pandang dan pemahaman terhadap bahan-bahan yang terkait sejarah dari buku yang telah ada sebelumnya.
"Hal ini sejalan dengan harapan, agar kita semua mempunyai persamaan pandangan dan rasa memiliki terhadap apa yang menjadi sumber-sumber sejarah itu, bahkan pada buku sejarah itu sendiri," imbuh AA N Adiputra.
Diingatkan lagi oleh penulis utama, AA Ngurah Putra, pihaknya mengingatkan semua pihak harus benar-benar dapat membedakan mana yang babad dan mana yang sejarah. Kalau sejarah itu mempunyai sistem aturan ilmiah, artinya memiliki akal logis terhadap bukti-bukti dan artefak yang mendukung dari analisis sejarah tersebut. Jadi ada perbedaan yang mendasar antara sejarah dengan babad.
Dalam babad itu tidak jelas menuliskan tahun peristiwa dan hanya menuliskan peristiwanya saja, sedangkan sejarah sangat jelas menyebutkan perkiraan tahun meskipun kadang tidak tepat. Walau begitu perkiraan tahun yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
"Itulah beda sejarah dengan babad. Sehingga melalui acara ini kita bisa menghindari polemik atau debat yang tidak perlu karena kita telah mempunyai keyakinan berdasarkan bukti-bukti yang ada," tegasnya.
Pada kesempatan ini, I Gusti Ngurah Maruta menambahkan, melalui acara pertemuan yang sangat penting dan bermanfaat ini diharapkan akan tercapai persamaan persepsi diantara yang hadir dalam hal pemahaman apa itu sejarah dan apa itu babad.
"Sehingga apa yang menjadi makaud dan tujuan serta harapan kita untuk kesatuan tafsir dan pandangan dalam mencapai kesempurnaan materi ini bisa dilakukan dan disepakati bersama," pungkasnya. (GAB/MUR/ART/001)