Gianyar (Atnews) - Anggota DPD RI dapil Bali Dr. Made Mangku Pastika memuji hasil karya perajin lukisan telor Egg Painting Gallery I Wayan Sadra yang mampu menembus ke berbagai negara.
Sadra mulai melukis sejak tahun 1986, salah satu pecetus egg painting di Bali ini merupakan seorang guru lukis di SMPN 1 Blahbatuh.
Sebelum melukis di telur, awalnya melukis di media kanvas. Namun, karena merasa kompetitor semakin banyak, membuatnya pindah haluan ke kulit telur sebagai media yang pada saat itu masih sepi peminat.
Bukan hanya mengajar dan mendirikan sebuah galeri, Sadra sempat membuka sebuah toko di kawasan Ubud, Kuta, Nusa Dua.
Lukisan egg painting yang dipatok harga mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah yang sudah laku ke Amerika, Perancis, Belanda, New Zealand dan lainnya.
“Ini hasil karya dan cipta yang luar biasa, bagus dan indah. Saya harap inovasi ini terus ditingkatkan. Namun jangan lupa mengurus hak paten. Ini sangat penting bagi perlindungan hasil ciptaan sebuah karya,” kata Mangku Pastika saat reses di Egg Painting Gallery Banjar Gerih, Batuan Gianyar, Senin (7/8).
Reses mengangkat tema “Keberadaan Egg Painting di Tengah Pemulihan Pariwisata Bali” dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja.
Menurut Mangku Pastika karya lukisan telor ini patut dihargai secara hukum. Ini ada perpaduan teknologi juga seni. Seperti karya Nyoman Nuarta yang menggabungkan teknologi dengan seni sehingga menghasilkan karya yang khas dan punya kekuatan.
Karena itu jerih payah ini harus dihargai secara hukum dengan mengurus HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual).“Jangan sampai orang lain yang mendaftarkannya (HaKI), justru yang mencipta digugat karena dianggap memalsu. Kelemahan kita enggan mendaftarkan buah karya sebagai karya intelektual,” ujar mantan Gubernur Bali dua periode ini.
HaKI atau Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak untuk hasil dari suatu inovasi/kreasi intelektual secara ekonomis untuk memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan seperti UU Hak Cipta, Paten, Desain Industri, Rahasia Dagang dan Varitas Tanaman.
Sementara itu, Sadra yang juga berprofesi sebagai guru SMP ini sudah melukis di kanvas sejak duduk di bangku SMP. Kemudian ia mencoba melukis telor dan ternyata sambutan pasar cukup bagus. Sehingga ia terus menekuninya hingga sekarang.
“Lukisan telor ini banyak digemari hingga ke luar negeri seperti Jerman, Australia. Sangat menjanjikan pasarnya,” tambah Sadra.
Lukisan itu dikembangkan agar tetap menjadi daya tarik peminat lukisan. Beragam lukisan bisa dibuat baik pemandangan, wajah orang dan lainnya.
Soal bahan baku telor, diakui memang harganya cukup mahal dan ia datangkan dari Australia. Telur Unta bisa dibeli mencapai Rp250 hingga Rp300 ribu per biji.
“Yang sulit telor unta selain harganya mahal juga harus didatangkan dari luar. Saya sering barter dengan turis yang memesan lukisan telor. Sedangkan untuk telor Kasuari didatangkan dari Papua dan telor angsa dari Jawa,” jelasnya.
Saat ini Sadra melibatkan sejumlah tenaga untuk produk lukisannya dan memberi pelatihan bagi anak-anak di lingkungannya.
Generasi muda yang pernah dibina sudah mandiri, mereka sudah bisa melukis pada masing-masing rumahnya. (GAB/ART/001)