Oleh Jro Gde Sudibya
Hari ini, 10 Desember 2023, raina Kajeng Kliwon Pemelastali, juga disebut raina Watugunung Runtuh, sasih Kenem, Icaka 1945.
Raina dari perspektif sosiologi agama krama Hindu Bali, (dalam rumusan yang disederhanakan), upaya KERAS dalam pengendalian diri, baca pengendalian BUTHA (sisi negatif energi yang justru "diproduksikan" diri yang berasal muasal dari kekuatan SAD RIPU, SAPTA TIMIRA yang "menempel" dalam batin diri).
Rainan hari ini, sebagai momentum memperbarui diri, membersihkan kekuatan butha yang diproduksikan oleh musuh-musuh besar dalam diri tersebut.
AHAMKARA (KEAKUAN) dalam perjalanan sejarah manusia, jika tidak dikendalikan akan sangat destruktif terhadap perjalanan SANG DIRI manusia yang pada hakekat dasarnya baik, terhormat dan bahkan mulya. Tetapi karena tergerus oleh kekuatan yang bersumber dari pencarian kesenangan (tanpa batas), keserakahan (terutama bersumber dari ambisi besar kekuasaan), merontokkan karakter manusia, dalam "dasa muka" prilaku. Menyebut beberapa: hilangnya: etika, moral, tanggung jawab dan rasa malu, merebaknya keculasan, prilaku "adigung adi kuasa", model komunikasi tidak beradab "pokoke" (merasa selalu benar) tetapi dalam faktanya sarat ketololan dalam pemikiran.Fenomena lanskap politik di hari hari ini.
Sastra Hindu di Bali, yang dibumikan dalam upakara dengan kualifikasi SUKLA, memberikan pengetahuan diri yang mencerahkan untuk merawat Sang Diri yang pada hakekatnya mulya.
*) Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Yayasan Kuturan Dharma Budaya, yang mensosialisasikan pemikiran dan keteladan kepemimpinan Mpu Kuturan Raja Kertha.