Banner Bawah

Ngrombo Pertanian, Mangku Pastika Kunjungi Crowd Funding Petani Alpukat

Admin - atnews

2023-12-14
Bagikan :
Dokumentasi dari - Ngrombo Pertanian, Mangku Pastika Kunjungi Crowd Funding Petani Alpukat
Slider 1

Bangli (Atnews) - Anggota DPD RI dapil Bali Dr. Made Mangku Pastika memberikan apresiasi pengembangan pertanian Alpukat jenis Hass asal Australia menggunakan model Crowd Funding.

Mereka mencoba menanam 400 pohon Alpukat Hass di atas lahan 1 hektare.

Terobosan tersebut dalam membantu mewujudkan pertanian yang profesional sekaligus menyelamatkan tanah dari alih fungsi lahan.


Croud Funding yang diterapkan yakni petani atau pemilik lahan agar mendapatkan hasil setiap panen, bahkan setelah 20-50 tahun. Tanaman yang ditanam akan menjadi milik pemilik lahan.

Langkah itu penting dalam upaya menjaga alam agar tetap hijau dan bisa memberikan kesejahteraan bagi warga.

“Kita harus bersyukur dengan alam Bali yang begitu lengkap. Kita bisa menanam dan menghasilkan. Bali tak mungkin kurang pangan kalau setiap jengkal lahan dimanfaatkan dan dikelola dengan baik,” kata Mangku Pastika saat reses di Ds. Perean Tegallalang Gianyar, Rabu (13/12).

Reses dengan tema “Pengembangan Pertanian dengan Sistem “Ngrombo”: Pionir Crowd Funding” dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja menghadirkan sejumlah pelaku pertanian.

Mangku Pastika mengaku gembira dan mendukung terobosan dan inovasi yang dilakukan petani dalam memberdayakan alam (lahan) dan SDM yang ada.

Apalagi diketahui petani bukan hanya menanam, sebagian juga sebagai produsen bibit. “Tinggal sekarang bagaimana bisa memproduksi pupuk organik seperti pola Simantri sehingga bisa menghasilkan produk yang organik,” tambah Gubernur Bali 2008-2018 ini

Ditambahkan, dalam membangun pertanian yang tangguh, perlu ada sentuhan manajemen, teknologi dan permodalan. Juga penting adanya kerja sama.
Melihat pertanian tersebut, Mangku Pastika pun ingin menerapkan di lahan miliknya, termasuk akan mengajak para orang kaya yang cinta Bali berinvestasi dalam bidang pertanian.

“Kalau bertani skala kecil hasilnya tidak cukup. Jadi perlu saling bekerja sama agar lebih efisien dan efektif. Dengan lahan yang lebih luas, nantinya juga bisa menjadi tempat wisata. Saya lihat kawasan ini hijau dan sejuk sehingga cocok ke depannya menjadi tempat kunjungan,” ujar Mangku Pastika.

Diingatkan pula pentingnya menjaga pertanian berkelanjutan agar lahan lestari, alam tetap hijau dan petani dapat untung.

“Dengan menanam dan merawatnya sesungguhnya sudah merupakan langkah penghijauan dan ini sejalan dengan tujuan Bali Green dan BGI (Bali Green Initiative). Karena itu Bali itu harus kita rawat bersama dengan gerakan bersama,” tambahnya.

Dalam diskusi, petani mengaku banyak melakukan coba-coba untuk mengembangkan produk. Mereka berharap ada pendampingan dan dukungan semacam hasil survey terkait data pertanian agar sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan pasar.

Alpukat hass yang kini banyak menarik perhatian petani adalah alpukat yang berasal dari Australia. Alpukat ini sangat diburu pencinta buah di Tanah Air, bahkan dunia. Tak heran, buah premium dengan multifungsi ini juga menjadi pilihan. 

Dalam pertemuan terungkap petani setempat sangat interes mengembangkan alpukat yang saat ini harganya sangat bagus. 

“Kami di sini tengah mengembangkan alpukat jenis hass asal Australia. Selain harganya tinggi ratusan ribu rupiah per kilonga juga permintaan sangat besar,” ujar salah seorang petani Made Sunarta yang juga aktif di kepengurusan BGI (Bali Green Initiative) ini.

Alpukat hass yang bernilai ekonomi tinggi kini banyak dikembangkan petani. 

Di lahan sekitar satu hektar, Sunarta menanam 400 pohon Alpukat Hass yang sudah mulai berbuah di umur tiga tahun. “Ini baru sekali panen. Hasilnya bagus dan semua terjual,” jelasnya.

Selain Sunarta, sejumlah petani sekitar juga mulai banyak mengembangkan alpukat di sela-sela tanaman jeruk yang sebelumnya menjadi salah satu andalan. 

“Nanti secara bertahap tanaman jeruk akan diganti sehingga petani fokus dengan alpukat saja,” tambahnya. Dikatakan juga, petani memang alami kendala permodalan. 

Diharapkan Mangku Pastika bisa memfasilitasi mencarikan sumber permodalan.

Petani Nengah Sukarata menceritakan kualitas pupuk beredaran di pasar yang digunakan petani lebih memilih pupuk impor. 

Oleh karena pupuk impor kualitas lebih terjamin dibandingkan dalam negeri. Dirinya mengaku belum mampu sepenuhnya menggunakan pupuk organik masih pula gunakan pupuk buatan impor. 

Ada pula petani Bayung Gede Nyoman Guna sudah kembangkan pertanian Alpukat jenis Hass seluas 100 hektare.(GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Masyarakat  Bali Tidak Menikmati Layanan Internet Smartfren Saat Nyepi

Terpopuler

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti