Dibentuk Badan Pengelola, Kelola Kawasan Suci Besakih Diharapkan Tiru Akshardham India dan Kuil di Tokyo
Admin - atnews
2023-12-19
Bagikan :
Slider 1
Karangasem (Atnews) - Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika menerima aspirasi Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Besakih di Karangasem, Senin (18/12).
Kunjungan itu dalam rangka Reses dengan tema “Keberadaan Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Besakih: Tantangan dan Solusi dalam Meningkatkan Penataan dan Pengelolaan ke Depan” yang dipandu Tim Ahli Nyoman Wiratmaja dan Nyoman Baskara menghadirkan narasumber Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih.
Mangku Pastika rasa ingin mengetahui langsung kondisi Besakih pasca Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Iriana Joko Widodo meresmikan penataan fasilitas kawasan suci Pura Agung Besakih di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, pada Senin, 13 Maret 2023.
Mengingat fasilitas itu seluruhnya sampai selesai di 2023 (biayanya) adalah Rp911 miliar, yang bersumber dari APBN anggaran Kementerian PUPR sekitar Rp427 miliar dan APBD Semesta Berencana sekitar Rp483 miliar, yang sebagian untuk pembebasan lahan, lebih dari Rp170 miliar, pembangunan fasilitas di Pura Agung Besakih yang dimulai sejak 2020.
Apalagi anggota Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Besakih, masa bakti Tahun 2023-2028 telah dikukuhkan Gubernur Bali I Wayan Koster, resmi di wantilan gedung parkir Manik Mas, Pura Besakih, Jumat (24/3).
Pembentukan Badan Pengelola Fasilitas Kawasaan Suci Pura Besakih ini berdasarkan Pergub Bali Nomor 5 Tahun 2023, dimana struktur anggota badan pengelola yang dikukuhkan terdiri dari, Kepala Badan Pengelola yang dijabat oleh I Gusti Lanang Muliartha, Sekretaris I Wayan Mastra, Kepala Satuan Pengawas Internal dan Manajemen Resiko, dijabat oleh Ni Nyoman Sutari, Kepala Bidang Operasional dan Pelayanan, dijabat oleh I Gusti Bagus Karyawan, Kepala Bidang Pengelolaan Aset dan Pengembangan Usaha, dijabat oleh Ni Wayan Sartikawati, dan Kepala Bidang Pengelolaan Lingkungan dan Keamanan, dijabat oleh Ida Bagus Suyasa.
Pura Besakih merupakan pura terbesar di Pulau Bali yang dianggap sebagai pusat keagamaan bagi umat Hindu Bali. Pura ini terletak di kaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Pulau Bali yang awalnya juga dikenal dengan nama Giri Toh Langkir, beradaa di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, sekitar 30 km di sebelah timur kota Denpasar.
Parhyangan Kawasan Suci Pura Agung Besakih terdiri atas 26 (dua puluh enam) Pura, yaitu Pura Penataran Agung Besakih dan 25 (dua puluh lima) Pura Pakideh. Pura Pakideh yang dimaksud antara lain: 1) Pura Gelap, 2) Pura Ulun Kulkul, 3) Pura Batu Madeg, 4) Pura Kidulingkreteg, 5) Pura Tirta Pingit, 6) Pura Pengubengan, 7) Pura Peninjoan, 8) Pura Tegal Suci Pagenian, 9) Pura Pesimpangan, 10) Pura Dalem Puri, 11) Pura Titi Gonggang, 12) Pura Manik Mas, 13) Pura Dalem Penangsaran/Pura Tegal Penangsaran, 14) Pura Dalem Prajapati Hyangaluh, 15) Pura Bangun Sakti, 16) Pura Goa Raja/Pura Rambut Sedana, 17) Pura Merajan Selonding, 18) Pura Banua, 19) Pura Merajan Kanginan, 20) Pura Basukihan Puseh Jagat, 21) Pura Catur Lawa Ida Ratu Pasek, 22) Pura Catur Lawa Ida Ratu Pande, 23) Pura Catur Lawa Ida Ratu Penyarikan, 24) Pura Catur Lawa Ida Ratu Dukuh, 25) Pura Pemuputan.
Dalam “Lontar Padma Bhuwana” Pura Besakih dinyatakan sebagai “Huluning Bali Rajya”. Artinya, Pura Besakih sebagai hulunya daerah Bali. Dengan kata lain, Pura Besakih adalah jiwa Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih yaitu di sebelah timur laut Pulau Bali. Timur laut adalah arah gunung dan arah munculnya sinar matahari yang merupakan simbol kehidupan.
Memang ditemukan beragam persoalan dalam Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Besakih, khususnya yang paling krusial yakni penanganan sampah hingga air bersih, namun persolan pemandu wisata diklaim sudah bisa ditangani dengan optimal.
Banyak tantangan dan kendala yang perlu diatasi. Tapi dengan semangat pengabdian dan niat suci serta manajemen yang baik semua akan bisa berjalan baik. Mangku Pastika mengakui, pengelolaqn kawasan suci seperti Pura Besakih tidak mudah dan cukup berat.
Untuk itu, pihaknya mengharapkan pengelolan Besakih bisa meniru tempat suci yang sudah bagus dan mampu memberikan kesejahteraan.
Di luar negeri banyak kuil (temple) yang dikelola dengan profesional hasilnya sangat bagus. Bahkan diharapkan Badan Pengelola bisa mengunjungi Akshardham Temple yang seluas 100 hektar yang terletak di New Delhi India (Bharat).
Akshardham juga sudah diresmikan New Jersey, Amerika Serikat sebagai Temple Hindu terbesar di Amerika seluas 250 hektar. Serta Februari 2024 nanti akan diresmikan juga di Abu Dhabi sebagai Temple Hindu pertama di Tanah Arab.
Banyak tokoh-tokoh dan pemimpin dunia telah mengunjungi Akshardham yang dikelola BAPS, yakni PM Inggris Rshi Sunak, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Mantan PM Australia Malcolm Turnbull, Mantan PM Boris Johnson, mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton, termasuk Presiden Megawati Soekarno Putri.
Selain itu, diminta juga mengunjungi Kuil di Tokyo. Mangku Pastika sudah pernah mengajak pemangku ke tempat tersebut, termasuk tirta yatra ke Sungai Gangga, India.
“Seperti Akshardham yang merupakan kompleks kuil Hindu di Delhi, India yang menyimpan berbagai arsitektur, spiritual, budaya India dan Hindu tradisional.
Juga kuil di Tokyo. Bukan saja bisa menjaga kesuciannya juga memberi manfaat besar bagi masyarakat. Kita perlu studi banding ke sana dan meniru tata kelolanya sehingga berhasil,” kata Mangku Pastika.
Mangku Pastika dalam kunjungannya ke Besakih mengawali dengan sembahyang di Pura Besukian dan melihat lingkungan sekitar. Menurutnya aura kawasan suci Besakih sudah baik, tidak semrawut lagi. Apalagi sekarang sudah ada badan pengelolanya.
“Semoga ke depan pelayanan semakin baik. Sebab pura ini zaman dulu dirancang sebagai tempat suci untuk mempersatukan umat. Sekarang kondisinya sudah jauh berubah. Jadi menjaga kesucian ini yang harus dipegang teguh badan pengelola,” jelas mantan Gubernur Bali dua periode ini.
Dikatakan Bali memiliki banyak pura besar, seperti Pura Batur, Pura Pulaki, Tanah Lot dan Goa Lawah. Dengan adanya badan pengelola maka Pura Besakih bisa jadi contoh sebagai tempat suci juga dengan berbagai fasilitas yang ada bisa memberi manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
“Saya bahagia bisa sembahyang dan hadir hari ini karena ada rasa ingin tahu setelah kawasan ini diresmikan. Mungkin pada awal ada kebingungan karena berbagai perubahan, tapi sekarang sudah terlihat lebih baik dengan adanya pengelolaan,” tambahnya.
Di sisi lain, diharapkan keberadaan badan pengelola bisa berkontribusi bagi parhyangan yang jumlahnya puluhan dan memberi perhatian, kesejahteraan kepada pemangku. “Kalau bisa petugas di kawasan ini juga mengenakan pakaian adat (sesuai bidangnya),” pesan Mangku Pastika.
Terkait sampah, dikatakan sampah itu sumber energi, pupuk dan kesuburan bila bisa dikelola dengan tepat. Sampah buah-buahan dari sisa sembahyang bisa diolah menjadi eco enzyme (pupuk organik) yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Juga sampah organik lainnya sebagai pupuk kompos. Pemanfaatan bahan-bahan ini penting bagi Bali menuju Bali Clean and Green.
Sebagaimana diketahui sebelumnya kawasan Besakih yang juga banyak dikunjungi wisatawan ini menghadapi masalah sampah, parkir, pedagang dan guide. Sekarang masalah itu sudah jauh berkurang.
Bahkan Mangku Pastika mengungkapkan peran Rsi Markandeya terhadap Pura Besakih. Termasuk menceritakan sejarah dan asal tenun ikat, di Bali dikenal dengan endek dan songket. Warisan itu tidak terlepas dari peran Rsi Markandeya dari India hingga ke Bali yang mengajarkan membuat endek, sistem irigasi Subak dan ajaran umat Hindu (Sanatana Dharma). Dimana Subak di Bali sudah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Untuk itu, Mangku Pastika telah melakukan napak tilas menapaki jejak leluhur Bali telah meletakkan dasar kuat sejarah peradaban Hindu di Pulau Dewata dengan "mendem" (menanam secara spritual) "Panca Datu" di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem.
Mangku Pastika Gubernur Bali periode 2008-2018, mengatakan perjalanan Rsi Markandeya sebagai pendiri Pura Agung Besakih tersebut berasal dari tanah Odhisa, India.
Keberadaan Pura Besakih sebagai pura terbesar di Bali menjadi spirit bagi kehidupan Hindu hingga bisa bertahan sampai sekarang yang baru saja dilakukan penataan yang diresmikan oleh Presiden Jokowi.
Ia menjelaskan, lebih dari 1.500 tahun lalu, leluhur masyarakat Odisha mengembangkan perdagangannya sampai ke tanah Bali, sehingga dikenal dengan adanya upacara "Kalingga Bali Yatra" pada setiap Purnama Kartika di bulan November.
Ritual tersebut diharapkan menjadi spirit untuk memulai kembali merajut persaudaraan masyarakat dari leluhur yang masih terpelihara spiritnya, baik di Odisha dan Bali tersebut.
Dalam menguatkan hubungan Mangku Pastika yang didukung oleh Ida Rsi Putra Manuaba (Agus Indra Udayana) Pendiri dan Pengasuh Ashram Gandhi Puri Dianugerahi Presiden India Padma Shri Award berhasil mendirikan Padmasana Kalingga Bali terletak di tepi Sungai Mahanadi, yakni di Maritime State of Odhisa, Cuttack.
Tempat itu juga menjadi spirit Kalingga Bali Yatra. Dengan pendirian Padmasana tersebut diharapkan kedua negara kembali memulai semangat baru yang sesungguhnya telah dilakukan oleh Maha Rsi Markandeya sebagai leluhur kita. Semangat tersebutlah yang dapat dikembangkan ke depan.
Berbagai kerja sama, baik pendidikan, kebudayaan dan ekonomi, termasuk pengusah, dan pariwisata dapat dikembangkan sekaligus lebih mempererat hubungan keduanya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih Wayan Mastra, tantangan yang dihadapi saat ini adalah masalah sampah, air dan ada ratusan kios yang belum dimanfaatkan. “Dulu kalau Pak Mangku Pastika (Gubernur Bali) datang ke sini saya takut karena kondisinya. Sekarang sudah bagus jadi saya senang Bapak datang,” jelas mantan Camat Rendang Karangasem ini.
Badan pengelola harus membeli air yang cukup tinggi harganya berkisar Rp150 ribu hingga Rp350 ribu per tangki. “Sampah baru sebagian yang bisa diolah karena keterbatasan alat,” jelasnya.
Kepala Bidang Operasional dan Pelayanan I Gusti Bagus Karyawan menambahkan ada 4 prioritas kerja badan pengelola yakni keamanan dan ketertiban, kebersihan dan keindahan, pelayanan dan kenyamanan serta pengembangan SDM. Ia juga memaparkan untuk pelayanan kepada umat maupun wisatawan yang datang sudah diatur sedemikian rupa agar bisa berjalan tertib.
Wisatawan rata-rata dari mancanegara yakni 500 orang per hari, sedangkan 74 orang per hari dari wisatawan dalam negeri.
Badan Pengelola dengan semangat “Sewaka Praja Hitta” yang memiliki makna “Melayani dengan tulus sepenuh hati” saat ini Kawasan Pura Agung Besakih telah hadir kembali dengan pelayanan yang prima dan fasilitas penunjang yang ramah lingkungan.
Lingkungan yang bersih, hijau, sejuk, aman, dan asri dipastikan akan dapat membuat Pura Agung Besakih menjadi destinasi yang tidak akan terlupakan.
Areal Prakir mampu menampung Bus/Truck: 250 unit. Mobil: 1.541 unit (Lantai Dasar 94 unit, Lantai B1 376 unit, Lantai B2 449 unit, Lantai B3 507 unit). Sepeda Motor: 1.268 unit (Lantai B1 594 unit dan Lantai B2 674 unit).
Kendaraan listrik siap mengantar hingga tepat di bawah Pura Agung Besakih. Tarif Rp. 20.000,-/trip/orang untuk pengunjung domestik dan Rp. 30.000,-/trip/orang untuk pengunjung mancanegara.
Bahkan ada audio visual berkapasitas 215 tempat duduk yang dilengkapi dengan Sound & Lighting System. Tempat penayangan film dokumenter Pura Agung Besakih. Tiket : Rp. 70.000,-/orang untuk pengunjung domestik dan Rp. 90.000,-/orang untuk pengunjung manca negara. (GAB/ART/001)