Oleh Jro Gde SudibyaProyek Nusantaranisasi oleh Raja Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur, penerjemahan besar-besaran Itihasa Ramayana dan Mahabratha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Jawa Kuno/Kawi, tidak saja msmperkaya khasanah budaya Nusantara ( terutama Jawa dan Bali), tetapi membentuk karakter para pemimpinnya dan juga proses berkebudayaan masyarakatnya.
Sebut saja, kepemimpinan Soekarno, Soeharto dan Gus Dur, sangat tampak spirit dan nuansa sastra kepemimpinan, hasil "proyek" Raja Dharmawangsa Teguh.
Hanya sayang, banyak para cerdik cendikia, menafikan dan bahkan "membuang" kearifan sastra ini. Senggak Bulelengle, "nuduk satru,ngutang roang".
Dalam spirit dan gaya kepemimpinan Soekarno seperti diakuinya sendiri, sangat dipengaruhi oleh Bhagavad Githa Cri Aurobindo, pemikiran Aurobindo dan pemikiran Mahatma Gandhi.
Tentang nilai-nilai kehidupan dan kepemimpinan: pengabdian terhadap negeri, dedikasi terhadap bangsa, perjuangan tanpa pamrih, kerja adalah dedikasi pada Tuhan, Karma Yoga, memberikan penggambaran spirit Sanatana Dharma sangat mempengaruhi pemikiran dan motivasi Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan dan upaya mengisi kemerdekaan.
Dalam memoar kepemimpinan Pak Harto yang disusun oleh putri sulungnya Tutut Indra Kowara, dinyatakan kepemimpinan Pak Harto juga merujuk karya sastra Walmiki, karya sastra Itihasa Ramayana.
Tentang Gus Dur, budayawan ini sangat paham relasi kesejarahan dan benang merahnya kepemimpinan di era kejayaan Sriwijaya, Majapahit, dan pasca Majapahit.
Dalam sebuah kesempatan di Ashram Gandhi Canti Dasa, di awal dasa warsa 1990-an, Gus Dur menyatakan beliau adalah pengikut ajaran Gandhi (Gandhian), yang menggambarkan bagaimana pemimpin ini punya kesadaran kesejarahan termasuk sejarah budaya.
Dalam demam Pilpres yang sedang berlangsung, dengan menyimak rekam jejaknya, program yang ditawarkan dalam masa kampanye, dan gesturenya, pasangan No.3 Ganjar Pranowo dan Machfud MD, dipersepsikan paling dekat dengan sastra kepemimpinan Bumi Nusantara.
Kepemimpinan Ganjar Pranowo mengingarkan kita kepemimpinan Soekarno yang berciri kuat, nasionalis sekuler. Sedangkan Prof.Mahfud, sebagai warga Nahdiyiin, merepresentasi kepemimpinan nasionalis relegius, mirip dengan KH Wahid Hasjim, salah seorang pendiri bangsa (ayahnya Gus Dur), Menteri Agama pertama pasca Indonesia Merdeka.
*) Jro Gde Sudibya, Pengamat Kepemimpinan dalam Perspektif Budaya.